Widjojo Nitisastro, Angkat Senjata di Surabaya hingga Otak Ekonomi Orde Baru

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Prof. Dr. Widjojo Nitisastro
Prof. Dr. Widjojo Nitisastro
grosir-buah-surabaya

Nama Prof. Dr. Widjojo Nitisastro mungkin terdengar asing bagi sebagian generasi muda saat ini. Namun, di balik megahnya pembangunan fisik dan stabilitas ekonomi Indonesia di era Orde Baru, dialah sang arsitek utamanya. Kisah hidupnya adalah perpaduan sempurna antara keberanian seorang pejuang sejati dan kecerdasan seorang ilmuwan kelas dunia.

Sebelum dikenal sebagai "otak" di balik kebijakan ekonomi Presiden Soeharto, Widjojo adalah seorang remaja yang ikut angkat senjata. Saat Revolusi Kemerdekaan pecah di Surabaya pada tahun 1945, ia yang baru duduk di bangku SMA langsung bergabung dengan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Widjojo bertempur di garis depan dan nyaris gugur dalam pertempuran sengit di kawasan Ngaglik dan Gunung Sari, Surabaya.

Usai perang, jalurnya berubah dari medan laga ke ruang kuliah. Kecerdasannya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) membawa Widjojo lulus dengan predikat Cum Laude. Ia bahkan sempat menulis buku demografi bersama ahli asal Kanada yang diberi kata pengantar langsung oleh sang Proklamator, Mohammad Hatta. Bakat luar biasa ini membawanya meraih beasiswa bergengsi ke University of California at Berkeley, Amerika Serikat, hingga meraih gelar Doktor.

Lahirnya "Widjojonomics"

Kembali ke Indonesia pada era 1960-an, Widjojo mendapati ekonomi negara dalam kondisi karut-marut dengan hiperinflasi yang mencekik. Pemikirannya yang menawarkan kombinasi antara mekanisme pasar dan intervensi pemerintah yang terukur sempat diabaikan di era Orde Lama.

Namun, badai politik 1966 mengubah segalanya. Presiden Soeharto yang melihat potensi besar dalam diri Widjojo dan para ekonom lulusan AS lainnya, langsung menunjuk mereka sebagai Tim Ahli Ekonomi. Kelompok inilah yang di kemudian hari dijuluki oleh para kritikus sebagai "Mafia Berkeley".

Selama menjabat sebagai menteri dan Kepala Bappenas (1971–1983), Widjojo menerapkan mazhab ekonomi yang dikenal sebagai "Widjojonomics". Prinsip utamanya adalah kehati-hatian yang sangat tinggi (highly prudent). Lewat tangan dinginnya, inflasi gila-gilaan berhasil ditekan, pembangunan nasional (Repelita) dirancang dengan rapi, dan fondasi ekonomi Indonesia dimodernisasi.

Hingga masa tuanya, Widjojo tetap menjadi sosok "juru selamat" tempat pemerintah meminta nasihat saat krisis, termasuk saat ia sukses memimpin negosiasi utang luar negeri Indonesia di Paris Club pada era Presiden Gus Dur tahun 2000.

Sang begawan ekonomi wafat pada 9 Maret 2012 di usia 84 tahun. Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata—sebuah peristirahatan terakhir yang layak bagi seorang mantan tentara pelajar yang berhasil menyelamatkan ekonomi bangsanya lewat ilmu pengetahuan. (*)

*) Source : Nasrul Koto