Belati Menempel di Lehernya, Tapi Al Quran Tidak Jatuh dari Tangan KH Abbas

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
KH Abbas Abdul Jamil
KH Abbas Abdul Jamil
grosir-buah-surabaya

Orang yang datang ke hadapan KH Abbas Buntet hari itu bukan datang untuk mengaji. Ia datang membawa belati. Niatnya satu : Membunuh sang kiai.

Tetapi ada sesuatu yang membuat kisah ini begitu dalam. Saat ancaman itu datang, KH Abbas sedang memegang Al-Qur’an. Dan beliau tidak melepaskannya.

KH Abbas Abdul Jamil adalah salah satu ulama besar Buntet Pesantren, Kabupaten Cirebon. Seorang kiai yang dikenal alim. Seorang guru. Seorang pengasuh pesantren.

Dan pada masa perjuangan kemerdekaan, KH Abbas Abdul Jamil juga dikenal sebagai ulama yang tidak gentar berdiri di tengah perjuangan. Tetapi sebelum kita sampai pada kisah perjuangannya, mari kembali kepada sebuah kejadian yang pernah diceritakan dalam tradisi pesantren.

Seseorang datang menghadap KH Abbas Abdul Jamil. Awalnya seperti orang biasa. Tetapi kemudian ia mengeluarkan senjata tajam. Belati.

Tangan KH Abbas berada dalam posisi yang sulit. Sementara tangan yang lain masih memegang Al-Qur’an. Orang itu berusaha mengancam dan mencelakai beliau. Namun KH Abbas tetap tenang. 

Tidak panik. Tidak berteriak. Tidak menjatuhkan Al-Qur’an.

Kisah itu kemudian dikenang sebagai salah satu cerita tentang keberanian KH Abbas. Dan yang paling menarik bukan soal “kesaktian”-nya. Tetapi tentang ketenangan seorang ulama ketika menghadapi ancaman. Sebab keberanian yang sebenarnya bukan ketika seseorang merasa dirinya kuat.

Tetapi ketika seseorang tetap teguh meskipun dirinya sedang berada dalam keadaan lemah. Namun jangan salah.

KH Abbas bukan hanya dikenal karena keberaniannya. Ada kisah lain yang justru memperlihatkan kelembutan hatinya.

Di lingkungan KH Abbas Abdul Jamil ada seorang anak keturunan Tionghoa yang dikenal dengan panggilan Man Us. Anak ini kemudian mendapatkan perhatian dan pendidikan dari KH Abbas. Ia diperlakukan dengan kasih sayang.

Dibimbing. Dididik. Bahkan dikirim untuk belajar ke pesantren di Jawa Timur.

Setelah dewasa, ia kembali dan mengabdi sebagai guru madrasah.

Coba kita renungkan sebentar. Seorang kiai besar. Pengasuh pesantren. Tokoh umat. Pejuang kemerdekaan. Tetapi masih memiliki ruang di hatinya untuk memperhatikan pendidikan seorang anak yang berbeda latar belakang.

KH Abbas seperti sedang mengajarkan kepada kita: 

Bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh suku dan asal-usulnya. Yang dilihat adalah manusianya. Yang dibangun adalah akhlaknya. Yang diperjuangkan adalah masa depannya.

Mungkin inilah sebabnya ulama dahulu begitu dihormati. Karena ilmu mereka tidak hanya keluar dari mulut. Tetapi terlihat dari cara mereka memperlakukan manusia.

Kemudian datanglah tahun 1945. Indonesia baru saja merdeka. Tetapi penjajah belum benar-benar pergi.

Surabaya menjadi salah satu tempat di mana sejarah bangsa dipertaruhkan. Para ulama bergerak. Para santri bergerak. Resolusi Jihad telah menggema.

Dan dalam berbagai riwayat pesantren, ada satu sosok yang kedatangannya sangat dinantikan : KH Abbas Buntet.

Konon, KH Hasyim Asy’ari menghendaki agar KH Abbas datang terlebih dahulu sebelum pertempuran besar dimulai. Maka sang kiai meninggalkan Cirebon. Menuju Surabaya.

Bukan menuju tempat yang aman. Tetapi menuju medan yang penuh risiko. Dan kemudian tibalah 10 November 1945. Hari yang sampai hari ini kita kenang sebagai Hari Pahlawan.

Di sana, santri dan pejuang berhadapan dengan kekuatan militer Sekutu. Mereka tahu risikonya. Mereka tahu bahwa mereka bisa mati. Tetapi mereka juga tahu:

Kalau kemerdekaan tidak dipertahankan, maka darah para pejuang sebelumnya akan sia-sia. KH Abbas berada dalam barisan perjuangan itu. Seorang kiai yang sehari-hari mengajarkan kitab. Kini berada di tengah pergolakan sejarah.

Inilah wajah pesantren pada masa itu. Santri tidak hanya belajar bagaimana membaca kitab. Mereka juga belajar bagaimana mempertahankan kehormatan.

Dan kalau kita tarik garis dari ketiga kisah tadi... 

Ada sesuatu yang sangat indah. Ketika berhadapan dengan belati, KH Abbas menunjukkan keberanian. Ketika berhadapan dengan seorang anak yang berbeda latar belakang, beliau menunjukkan kasih sayang. Ketika berhadapan dengan penjajahan, beliau menunjukkan keberanian untuk berdiri bersama bangsanya.

Jadi jangan hanya mengenang KH Abbas sebagai kiai yang “sakti”. Itu terlalu kecil untuk menggambarkan kebesaran beliau.

Kenanglah beliau sebagai ulama yang ilmunya melahirkan keberanian. Kenanglah beliau sebagai kiai yang kekuatannya tidak menghilangkan kelembutan. Dan kenanglah beliau sebagai santri yang ketika negeri ini memanggil, tidak memilih bersembunyi di balik kitab.

Sebab ada waktunya seorang santri duduk membaca kitab. Ada waktunya ia berdiri membela kebenaran. Dan ada waktunya ia harus menunjukkan bahwa cinta kepada agama juga bisa berjalan bersama cinta kepada tanah air.

Semoga Allah merahmati KH Abbas Buntet. Semoga seluruh perjuangan, ilmu, pendidikan, dan pengabdian beliau menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Semoga Allah menempatkan beliau bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang saleh.

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه، وأكرم نزله ووسع مدخله، واجعل قبره روضة من رياض الجنة.

الفاتحة لروح الشيخ الحاج عباس بن عبد الجليل بونتت رحمه الله تعالى.

Al-Fatihah...