Indonesia Pernah Jadi Penjajah, dan Dunia Pernah Membiarkanya
Selama ini kita tumbuh dengan cerita bahwa Indonesia adalah bangsa yang di jajah ratusan tahun. Portugis datang, Belanda datang, Jepang datang. Lalu Indonesia merdeka dan menjadi negara yang selalu bicara tentang anti kolonialisme. Tapi ada satu bagian sejarah yang agak sulit kita ceritakan dengan bangga.
Pada suatu masa, Indonesia justur datang ke tanah orang lain dengan tentara, mengambil alih wilayahnya, lalu menyebutnya sebagai bagian dari Republik. Namanya Timor Timur. Dan yang menarik, dunia Internasional sebenarnya tahu apa yang terjadi. Sebagian bahkan memilih diam. Mari kita mulai dari awal.
Sebelum Indonesia datang ke Timor Timur, babga Eropa sudah lebih dulu berebut pulau Timor. Portugis datang sekitar abad ke-16. Mereka datang bukan untuk membangun negara Timor, mereka datang untuk berdagang, menyebarkan agama, dan tentu saja "mencari keuntungan".
Belanda kemudian masuk dari arah Barat. Akhirnya, satu pulau diperebutkan oleh dua kekuatan kolonial. Dan dari perebutan itu lahir sesuatu yang bertahan sampai sekarang. Pulau Timor dibelah menjadi dua dunia. Barat menjadi Hindia Belanda, timur dibawah Portugal.
Jadi sebenarnya Timor Leste tidak pernah "keluar" dari Indonesia. Karena sebelum Indonesia merdeka, wilayah itu memang bukan bagian dari Hindia Belanda. Ini penting! Sebab narasi bahwa Timor Timur adalah "wilayah Indonesia yang kembali ke pangkuan ibu pertiwi" selalu punya satu masalah: "Ibu pertiwi yang mana?"
Indonesia mewarisi wilayah bekas Hindia Belanda, sementara Timor Timur adalah koloni Portugal. Dua penjajah, dua administrasi, dua sejarah politik. Dan ketika Indonesia merdeka pada 1945, Timor Timur tetap di bawah Portugal.
Lalu sejarah berubah drastis pada 1974. Di Portugal, rezim Estado Novo yang sudah berkuasa puluhan tahun runtuh melalui revolusi anyelir. Portugal mendadak punya masalah besar: Apa yang harus dilakukan dengan seluruh koloninya? Jawabanya ternyata berantakan, proses dekoloniasisasi dilakukan dengan cepat, termasuk Timor Timur.
Tiba-tiba sebuah wilayah yang selama ratusan tahun dikendalikan dari Lisbon harus menentukan masa depanya sendiri. Dan ketika kekuasaan kolonial pergi begitu cepat, ruang kosong itu langsung diperebutkan.
Di Timor Timur kemudian muncul berbagai kekuatan politik. Ada UDT, APODETI dan FRETILIN. Masalahnya ini tahun 1970an dan dunia sedang berada di tengah perang dingin. Setelah Vietnam, Laos, dan Kamboja jatuh ke tangan pemerintahan komunis pada 1975, paranoia terhadap komunisme sedang berada di puncaknya. Di Jakarta muncul ketakutan besar: Bagaimana kalau di timur Indonesia tiba-tiba berdiri negara kecil yang dekat dengan kelompok kiri? Soeharto tidak mau mengambil resiko.
Perlu di catat: "Apakah FRETILIN benae-benar mau menjadikan Timor Timur negara komunis?". FRETILIN memang memiliki unsur dan hubungan dengan kelompok kiri, tetapi para pemimpinya juga menggambarkan gerakanya sebagai sosial demokrat.
Namun bagi Jakarta pada saat itu, nuansa tidak terlalu penting, dan yang terlihat hanya: Portugal pergi, kelompok kiri menguat, Timor Timur bisa merdeka, dan Indonesia mungkin akan punya "masalah baru" di sebelah timurnya. Dalam logika perang dingin, ketakutan seringkali lebih berpengaruh daripada fakta.
Dan ternyata Jakarta tidak sendirian. Amerika Serikat juga melihat dunia melalui kacamata Perang Dingin, Washington baru saja mengalami trauma Vietnam, Indochina sedang berubah. Dan Indonesia adalah salah satu negara terbesar sekaligus paling penting bagi kepentingan Amerika di Asia Tenggara.
Lalu muncul pertanyaan: Mana yang lebih penting bagi Amerika? Sebuah wilayah kecil bernama Timor Timur? Atau hubungan strategis dengan Indonesia?
Jawabannya, dari dokumen-dokumen yang kemudian dibuka ke publik, cukup jelas. Timor Timur bukan prioritas. Indonesia jauh lebih penting.
Di sinilah bagian sejarah yang paling tidak nyaman. Dokumen Amerika menunjukkan bahwa sebelum invasi, Washington sudah mengetahui kemungkinan Indonesia akan mengambil Timor Timur dengan kekuatan militer. Ada kekhawatiran soal penggunaan senjata Amerika, ada kekhawatiran soal reaksi internasional, tapi juga ada keinginan untuk tidak merusak hubungan dengan Jakarta.
Salah satu pendekatan yang direkomendasikan bahkan adalah: Diam. Karena dalam politik internasional, terkadang “tidak mendukung” secara resmi bukan berarti benar-benar menghalangi. Kadang cukup dengan tidak berkata apa-apa. Dan Indonesia tahu dunia tidak akan banyak bergerak.
Pada 28 November 1975, FRETILIN mendeklarasikan kemerdekaan Timor Timur. Sembilan hari kemudian, 7 Desember 1975, Indonesia melancarkan invasi besar-besaran.
Operasi Seroja dimulai. Jakarta mengatakan operasi itu diperlukan untuk mencegah kekacauan dan komunisme. Tapi bagi banyak warga Timor Timur, yang datang bukan penyelamat. Yang datang adalah tentara dari negara tetangga. Dengan kapal, pesawat, senjata, dan kekuasaan negara yang jauh lebih besar. Indonesia yang selama puluhan tahun bicara anti-kolonialisme kini menguasai bekas koloni negara lain.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebenarnya tidak pernah mengakui aneksasi Indonesia atas Timor Timur. Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengecam intervensi militer Indonesia, dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) juga menyerukan penarikan pasukan. Jadi narasi bahwa “seluruh dunia mendukung Indonesia” jelas tidak tepat.
PBB secara resmi justru menolak invasi tersebut.Tapi masalahnya bukan di resolusi. Masalahnya adalah: Siapa yang benar-benar mau memaksa Indonesia pergi? Jawabannya: hampir tidak ada kekuatan besar yang mau mengambil risiko serius demi Timor Timur, Dunia mengecam, tapi banyak yang kembali mengurus kepentingannya masing-masing.
Dan selama bertahun-tahun, Indonesia berhasil mempertahankan pendudukannya. Bukan berarti dunia tidak tahu, tapi kepentingan geopolitik lebih besar. Amerika tidak mau kehilangan Indonesia, Australia menjaga hubungan strategis dengan Jakarta, Inggris melihat integrasi Timor dengan Indonesia sebagai solusi yang dapat diterima dalam sejumlah dokumen diplomatik. Timor Timur terlalu kecil, Indonesia terlalu besar, dan dalam politik internasional, negara kecil sering belajar satu kenyataan pahit: "keadilan biasanya jauh lebih lemah daripada kepentingan".
Lalu datang sebuah tragedi yang mengubah cara dunia melihat Timor Timur.12 November 1991, Pemakaman Santa Cruz, Dili. Awalnya sebuah prosesi untuk mengenang Sebastião Gomes, seorang pemuda Timor Timur yang terbunuh, tapi prosesi itu berubah menjadi demonstrasi politik, kemudian militer Indonesia menembaki massa.
Yang membuat tragedi Santa Cruz berbeda dari kekerasan sebelumnya adalah: Dunia melihatnya, ada rekaman, ada jurnalis, ada kamera, dan untuk pertama kalinya, kekerasan di Timor Timur tidak lagi bisa dikubur begitu saja di balik narasi “stabilitas dan anti-komunisme”.
Santa Cruz bukan satu-satunya kekerasan dalam sejarah pendudukan Timor Timur, tapi tragedi itu menjadi titik balik. Selama bertahun-tahun, Jakarta bisa mengatakan bahwa masalah Timor Timur adalah urusan dalam negeri, tapi kamera punya kekuatan yang tidak dimiliki resolusi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Rekaman itu masuk ke televisi dunia, opini publik mulai berubah, aktivis internasional mulai semakin keras, dukungan terhadap hak menentukan nasib sendiri semakin besar.
Dan perlahan, dunia yang dulu memilih diam mulai merasa semakin sulit mempertahankan diamnya. "Indonesia tidak langsung kalah perang, Indonesia mulai kalah dalam perang narasi".
Lalu pada 1998, Soeharto jatuh. Indonesia berubah, dan setahun kemudian, rakyat Timor Timur akhirnya diberi kesempatan menentukan masa depannya melalui referendum yang diawasi PBB. Hasilnya jelas, mayoritas memilih berpisah dari Indonesia, setelah itu terjadi kekerasan lagi, intervensi internasional datang. Dan perjalanan panjang menuju kemerdekaan akhirnya membawa Timor Leste menjadi negara berdaulat.
Mungkin bagian paling penting dari cerita ini bukan soal apakah kita harus membenci Indonesia masa lalu. Justru sebaliknya, bangsa yang dewasa seharusnya mampu melihat sejarahnya sendiri tanpa harus berbohong. Indonesia pernah dijajah. Itu fakta, Indonesia juga pernah melakukan pendudukan terhadap Timor Timur itu juga fakta, dan mungkin dua fakta itu bisa hidup bersamaan. Karena menjadi korban di satu masa, ternyata tidak otomatis membuat sebuah bangsa mustahil menjadi pelaku di masa berikutnya. Itulah bagian sejarah yang paling tidak nyaman. Dan justru karena tidak nyaman, mungkin kita perlu membicarakannya. (*)
*) Source : Nalar Nusantara
Editor : S. Anwar