Sejarah Mencatat, Buyut Moyang Prabowo Subianto Londo Ireng
"Londo Treng". Semua berawal dari selembar foto yang dimuat di Harian KOMPAS. Rabu, 22 Juli 2026. Harian Kompas menurunkan headline foto di halaman depan: "Menyantap Menu MBG di Sekolah yang Rusak."
Fotonya menunjukkan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tanggirejo, Grobogan, Jawa Tengah, makan Makan Bergizi Gratis di depan ruang kelas mereka yang ambruk sejak Januari 2026, atapnya bolong, dan sampai sekarang enggak bisa dipakai belajar.
Ini bukan foto rekayasa. Ini potret kondisi nyata sekolah yang belum tersentuh renovasi, disandingkan dengan program andalan pemerintah yang lagi digembar-gemborkan.
Dua hari setelah foto itu terbit, di panggung Harlah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke-28, Prabowo Subianto menyinggungnya tanpa menyebut nama medianya secara langsung : "Walaupun kita sudah perbaiki 67 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia foto besar, taruh di halaman pertama. Dia kira kita enggak ngerti."
Dari sinilah nada pidatonya berubah. Bukan menjawab substansi bahwa sekolah itu memang rusak dan butuh perbaikan - tapi mempertanyakan niat media yang memberitakannya. Tapi menyinggung Londo ireng.
Londo ireng bukan ejekan biasa. Artinya "Belanda hitam" sebutan buat pribumi yang mengabdi ke penjajah, ikut menindas bangsanya sendiri. Ini tuduhan pengkhianatan level tertinggi dalam bahasa perjuangan kita. Kalau Kepala Negara pakai istilah ini cuma karena ada media yang memotret kelas rusak, artinya kritik atas fakta di lapangan disamakan dengan berkhianat ke negara.
Kita mundur ke tahun 1825
Buat paham beratnya kata ini, kita harus kenal dulu perangnya. Perang Jawa, atau Perang Diponegoro (1825-1830), adalah perang paling berdarah yang pernah dihadapi Belanda di tanah Nusantara. Pangeran Diponegoro melawan karena tanah leluhurnya di Tegalrejo hendak digusur demi Jalan Kolonial.
Perang ini merenggut sekitar 200.000 nyawa rakyat Jawa. Diponegoro jadi simbol perlawanan pribumi terhadap penjajah - hari ini namanya Pahlawan Nasional.
Belanda pakai taktik lama : adu domba antar wilayah.
Belanda kewalahan lawan Diponegoro sendirian. Mereka pakai strategi klasik colonial : kerahkan pasukan bantuan dari daerah lain di Nusantara buat merangsek Jawa. Salah satu yang dikirim adalah pasukan dari Minahasa, Sulawesi Utara, jauh dari kampung halaman mereka sendiri, buat bantu menumpas perlawanan Rakyat jawa.
Di antara pasukan itu, ada seorang kapiten dari Langowan, Minahasa, namanya Benjamin Thomas Sigar. Pasukan yang dipimpinnya terlibat dalam rangkaian operasi Belanda yang berujung pada penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang, Maret 1830. Bahkan menurut cerita turun-temurun keluarga Sigar sendiri di Langowan, Opa Benyamin-lah yang ikut menangkap langsung Sang Pangeran.
Setelahnya, kariernya di bawah Belanda makin naikia diangkat jadi Majoor Kepala Distrik Langowan.
Silsilahnya, Benjamin Thomas Sigar - Laurens Sigar → Philip Sigar Philip Frederik Laurens Sigar - Dora Marie Sigar.
Dora Marie Sigar menikah dengan seorang ekonom bernama Soemitro Djojohadikoesoemo pada tahun 1946. Dari pernikahan ini lahir seorang anak laki-laki : Prabowo Subianto.
Buyut moyang Prabowo dari garis ibu adalah Benjamin Thomas Sigar, perwira yang membantu Belanda menumpas perlawanan Diponegoro. Ini dicatat sejarawan Minahasa, diakui keluarga besar Sigar di Langowan, bahkan jadi materi resmi Festival Budaya Kota Langowan yang menyebutnya sebagai leluhur Presiden.
Dan Prabowo sendiri yang buka cerita ini. September 2025, di sela kunjungan kenegaraan ke Belanda, Prabowo ziarah ke pemakaman Oud Eik en Duinen di Den Haag, makam kakek-neneknya dari garis Sigar. la sendiri yang posting soal ini di Instagram resminya, lengkap foto nisan dan cerita keluarganya.
Jadi jejak sejarah ini bukan tuduhan netizen. Presiden sendiri yang merawat dan membuka cerita ini ke publik.
Definisi londo ireng versi Prabowo: "orang Indonesia yang senang mengabdi kepada bangsa lain... yang ikut Belanda perang lawan kita".
Cerita Benjamin Thomas Sigar : seorang kapiten pribumi yang direkrut Belanda, dikirim jauh dari kampung halamannya, untuk membantu memadamkan perlawanan bangsa sendiri terhadap penjajah.
Kalau definisi itu diterapkan apa adanya, buyut moyang Presiden Prabowo Subianto sendiri masuk kategori yang sama.
Sejarah Minahasa saat itu tidak sesederhana "pilih jadi pengkhianat atau pahlawan." Banyak wilayah luar Jawa sudah terikat kontrak politik dengan Belanda jauh sebelum Perang Diponegoro pecah. Ikut pasukan bantuan sering bukan pilihan bebas, tapi konsekuensi dari sistem kolonial yang sudah mengikat wilayah mereka duluan.
Benjamin Thomas Sigar bukan orang jahat. Dia lahir di tengah sistem yang tidak dia pilih sendiri persis seperti kita semua tidak memilih dari keluarga mana kita lahir.
Kalau kita bisa memahami sejarah buyut Prabowo Subianto dengan konteks dan nuansa, kenapa Harian Kompas yang cuma memotret kelas rusak apa adanya tidak boleh dapat perlakuan yang sama? Itu kerja jurnalistik paling dasar: melaporkan fakta di lapangan, termasuk yang belum selesai.
Standar yang dipakai untuk menyerang orang lain, kalau tidak konsisten diterapkan ke diri sendiri, jadi standar ganda.
Kepemimpinan yang matang tidak diukur dari seberapa cepat membungkam kritik, tapi dari seberapa besar hati untuk mendengarnya. Ketika ada fakta yang tidak enak didengar sekolah yang masih rusak, misalnya respons yang sehat adalah memperbaiki dan berterima kasih atas informasi itu, bukan mencari siapa yang salah menyampaikannya.
Kalau setiap kritik dijawab dengan menyerang balik motif dan identitas si pengkritik, itu bukan tanda kuat. Itu tanda enggak siap dievaluasi.
Wartawan yang motret kelas rusak, LSM yang nanya soal anggaran, warga yang nyuarakan keluhan - mereka tidak sedang melawan negara. Mereka sedang menjalankan fungsi paling dasar dari negara demokrasi: memastikan kekuasaan tetap diawasi dan rakyat tetap punya suara.
Menuduh mereka Londo Ireng, antek asing, atau ingin negara bubar, itu bukan cuma enggak adil, itu cara pandang yang bikin ruang kritik makin sempit. (*)
Editor : S. Anwar