Karir Nawawi Pomolango Dari Hakim Daerah Terpencil hingga Ketua Pengadilan Tinggi

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Nawawi Pomolango
Nawawi Pomolango
grosir-buah-surabaya

Nama Nawawi Pomolango mungkin paling melekat di ingatan publik saat ia mengambil alih kemudi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di masa-masa paling krusial. Namun, tahukah Anda bahwa di balik ketegasannya memimpin lembaga antirasuah tersebut, pria berdarah Gorontalo ini memiliki kisah perjalanan karier yang sangat luar biasa dari titik nol?

Bukan instan dan bukan karena jalur pintas, Nawawi Pomolango adalah potret nyata seorang penegak hukum yang meniti tangga karier benar-benar dari daerah terpencil hingga menembus puncak peradilan tinggi tanah air.

Memulai dari Pulau Terluar Maluku Utara

Dilahirkan di Manado pada 28 Februari 1962, Nawawi Pomolango menghabiskan masa kecil dan mudanya di Ibu Kota Sulawesi Utara tersebut. Setelah berhasil menggondol gelar Sarjana Hukum dari Universitas Sam Ratulangi, ia langsung terjun ke dunia peradilan.

Tahun 1992 menjadi tonggak awal pengabdiannya. Sebagai hakim muda, ia langsung ditempatkan di Pengadilan Negeri Soasio Tidore, Kabupaten Halmahera Tengah. Menjadi hakim di daerah kepulauan dengan keterbatasan fasilitas penunjang pada masa itu tentu bukan perkara mudah. Namun, di sinilah mental dan integritasnya justru tertempa kuat.

Setelah dari Tidore, Nawawi Pomolango mulai melanglang buana ke berbagai pengadilan negeri lintas pulau. Ia dimutasi ke PN Tondano (1996), lalu menyeberang ke Kalimantan di PN Balikpapan (2001), hingga mendarat di Makassar pada tahun 2005. Karier kepemimpinannya mulai terlihat bersinar saat ia dipromosikan menjadi Ketua Pengadilan Negeri Poso untuk periode 2010–2012.

Menembus Ibu Kota dan Mengawal Kasus-Kasus Besar

Kerja keras dan ketajaman Nawawi Pomolango di meja hijau akhirnya membawanya ke Ibu Kota. Pada medio 2011–2013, ia bertugas di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, tempat di mana kasus-kasus pelik dan menarik perhatian nasional bermuara. Rekam jejaknya yang bersih membuat namanya terus meroket, hingga pada tahun 2016 ia dipercaya menduduki kursi Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Sembari sibuk mengadili perkara, ia tidak pernah melupakan pendidikan. Nawawi Pomolango sukses mendalami hukum pidana dan meraih gelar Magister dari Universitas Pasundan pada tahun 2019. Menjelang akhir 2017, ia sempat dipromosikan menjadi Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Denpasar.

Panggilan Tugas di KPK hingga Kembali ke Khittah Hakim

Integritasnya yang tanpa cela membuat Nawawi Pomolango dilirik untuk memimpin lembaga negara yang lebih besar. Pada 20 Desember 2019, ia resmi dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Wakil Ketua KPK untuk periode 2019–2023.

Tantangan terbesar dalam hidupnya pun datang pada akhir November 2023. Ketika KPK dihantam badai krisis kepemimpinan menyusul diberhentikannya Firli Bahuri, Nawawi Pomolango dipilih sebagai sosok penyelamat untuk menjadi Ketua Sementara KPK. Di tangan dinginnya, stabilitas lembaga penegak hukum tersebut perlahan kembali terjaga.

Kini, setelah menyelesaikan tugas beratnya di lembaga antirasuah, Nawawi Pomolango kembali ke korps yang telah membesarkan namanya. Belum lama ini, tepatnya pada 9 Januari 2025, ia resmi dilantik untuk mengemban amanah baru sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Banjarmasin.

Dari seorang hakim muda di daerah terpencil di Halmahera, kini ia berdiri tegak memimpin salah satu pengadilan tinggi strategis di Indonesia. Kisah hidup Nawawi Pomolango adalah bukti nyata bahwa dedikasi, loyalitas pada profesi, dan integritas yang dijaga kuat tidak akan pernah mengkhianati hasil. (*)