Sejarah Pohon Beringin di Alun Alun Utara Jogjakarta

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Pohon Waringin
Pohon Waringin
grosir-buah-surabaya

Pemilihan pohon Waringin (Ficus benjamina) sebagai penjelmaan pohon Kalpataru / Pohon Hayat di pusat alun-alun Mataram-seperti yang dapat kita saksikan pada Alun Alun Utara di Yogyakarta-sejatinya berkaitan erat dengan prinsip pengampunan (suaka), pengayoman, dan panglukatan (purifikasi/penebusan dosa), sebagaimana Kuñjarakarņa.

Dalam teks Kakawin Kunjarakarna, tokoh Kuñjarakarna (seorang Raksasa/Yaksa) melakukan tapa brata di bawah guru spiritual untuk Selepaskan diri dan bersama sahabatny Pūrņawijaya, untuk terhindar dari hukuman kawah neraka (Yamani). Di bawah naungan Waringin/Pohon Hayat itu, dosa-dosa karma masa lalu dilebur (dilukat) melalui pengampunan dan ajaran kebenaran. 

Pohon Waringin dalam Kunjarakarna adalah situs penebusan dan pengampunan kosmis, tempat dimana sosok yang dikatakan "cacat etis" atau berkesalahan, dapat bertransformasi menjadi murni kembali.

Fungsi pengampunan ini kemudian diwujudkan secara institusional melalui tradisi Tapa Pepe. Sesuai hukum adat, area beringin alun-alun adalah ruang suaka mutlak, prajurit atau pejabat kerajaan dilarang keras menyentuh apalagi menghukum orang yang sedang Tapa Pepe. Sementara Raja yang menyaksikan rakyatnya duduk di bawah waringin wajib memberikan audiensi dan mempertimbangkan pengampunan atau keadilan bagi mereka.

Pengampunan raja di bawah Waringin adalah proses mendinginkan ketegangan sosial dan mengembalikan harmoni kosmos yang sempat Kerganggu. Dan dialektika itu tercermin paddi nama dua waringin kurung di alun-alun Jogjakarta. 

Dewadaru (Pohon Kedewaan), melambangkan pengampunan dan rahmat ilahi dari atas. Sementara Janadaru (Pohon Kemanusiaan), melambangkan keadilan, pengayoman, dan pengampunan hukum dari raja di bumi. Di titik tengah antara kedua pohon itulah (lokasi Tapa Pepe) hukum dharma dan pengampunan bertemu.

Mengapa restorasi Alun-alun Jogjakarta memakai pasir laut, bukan tanah merah atau padang rumput?

 

Mungkin jawaban terbaiknya adalah dari tafsir yang mendalam mengenai Kunjarakarna itu sendiri.

Dalam Kunjarakarna, Kalpawreksa digambarkan berdiri di kawasan Bodhitala (alam pencerahan Gunung Sugandha) yang terletak tepat di tepining pasir-di tepi samudra kosmis dengan pelataran bertabur pasir permata yang bersinar.

Ketika Kuñjarakarna mendatangi pertapaan Wairocana, lanskap alam suci tempat Kalpawreksa tumbuh itu digambarkan berbatasan dengan samudra tak bertepi. Laut dalam kosmologi Buddha-Mahayana melambangkan samsāra (lautan penjelmaan dan karma) sekaligus sumber air suci (amrta). Pohon Kalpataru berdiri kokoh di tepiannya sebagai jangkar keselamatan bagi jiwa-jiwa yang mengarungi samudra itu.

Pertemuan antara laut, pantai berpasir, dan Pohon Hayat menghadirkan ruang transis (liminal space). Pantai adalah batas perpisaha antara alam hukuman neraka (Yamaniloka) yang membara, dengan alam pencerahan yang sejuk. Di atas pasir pantai di bawah naungan Kalpawreksa inilah proses panglukatan (penyucian dosa) terjadi. Ombak samudra seperti meluruhkan karma buruk, sementara Pohon Hayat memeluk jiwa-jiwa yang telah diampuni dosanya.

Semen pasir pantai dan laut dalam Kunjarakarn agaknya mempertegas fungsi Kalpataru (pohon Waringin) bukan hanya aksentuasi teduh Alun-alun Utara Jogjakarta yang cukup luas, atau melainkan mercusuar sekedar pohon pemenuh keinginan masyarakatnya, pengampunan yang berdiri di tepi lautan eksistensi, siap menyambut siapa saja yang ingin membersihkan diri dari kegelapan karma. (*)