Misteri Keris Kanjeng Kyai Bontit

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
KGPH Soerjohamidjojo
KGPH Soerjohamidjojo
grosir-buah-surabaya

Sunan Bonang adalah salah satu dari sembilan Wali, yang merupakan putra dari Raden Rahmat alias Sunan Ampel.

Nama Sunan Bonang sendiri konon adalah nama julukan karena dia mahir memainkan alat musik bonang. Di tangannya, lantunan tembang diiringi bonang selalu berkumandang untuk mengundang orang datang. Kepada kumpulan orang yang tertarik dengan tembangnya inilah dia menyebarkan dakwahnya.

Dalam berdakwah, Sunan Bonang selalu membawa sebilah keris yang diletakkan di pinggang bagian depan. Ini cara nyengkelit keris ala ulama, yang karena memakai jubah maka menyelipkan keris di belakang menjadi susah.

Keris yang biasa dibawa Sunan Bonang adalah keris Kanjeng Kyai Bontit. Keris berdapur Tilam Upih ini tampil sederhana dengan pamor dan sandangan yang sederhana pula.

Saking sederhananya, bahkan begal pun pernah urung merampasnya. Itu terjadi saat Sunan Bonang dibegal oleh Brandal Lokajaya. 

Lokajaya yang bernama asli Raden Said ini semacam Robin Hood dari Tuban yang akhirnya justru menjadi murid Sunan Bonang. Bahkan kemudian dia menjadi salah satu Wali Songo yang sangat terkenal dengan gelar Sunan Kalijogo.

Meski sederhana, keris Kangjeng Kyai Bontit ini menjadi pusaka yang sangat berharga. Pasca wafatnya Sunan Bonang yang dimakamkan di belakang Masjid Tuban, keris ini menjadi salah satu pusaka utama penguasa Tuban. Tetapi pada akhirnya keris ini tidak di Tuban lagi.

Bermula dari merosotnya kekuasaan Mataram, banyak daerah utamanya di pesisir mulai dikuasai VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Daerah tersebut menjadi kompensasi bagi jasa VOC yang memberi bantuan pada penguasa Mataram dalam menghadapi berbagai pemberontakan.

Tuban temasuk daerah yang menjadi korban, tapi penguasanya melawan. Maka penguasa Tuban ini dibungkam & digantikan Adipati yang ditunjuk dari Kraton Kartosuro yang lebih kooperatif dengan VOC.

Melalui penguasa dari Kartosuro inilah, pusaka Tuban diambil dan dipindah ke Kraton Kartosuro dan masuk ke gedong pusaka Mataram. Termasuk keris Kanjeng Kyai Bontit.

Saat Mataram pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, terjadi pembagian pusaka Mataram dan Kanjeng Kyai Bontit termasuk pusaka yang ikut ke Surakarta. 

Mengutip laporan Majalah Keris vol 10 2008 hal 39, keris Kanjeng Kyai Bontit kemudian menjadi milik Pangeran Joyokusumo, putra PB IV. Lalu berpindah tangan kepada KGPH Soerjohamidjojo, putra PB X, yang tercatat menjadi pemilik terakhir.

Dalam upaya menguntit Kanjeng Kiai Bontit ini, sempat terduga pusaka ini terbawa ke Yogyakarta. Sebab diketahui Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Hamengkubuwono I, menjelang akhir kepemimpinannya memberikan dua keris pusaka warisan kepada dua putranya yaitu Pengeran Notokusumo yang di kemudian hari menjadi Pakualam I menerima keris Kanjeng Kyai Bontit.

Keris tersebut adalah pendamping dari keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek yang diserahkan kepada Pangeran Soendoro yang menjadi Hamengkubuwono II. Keris Kanjeng Kyai Bontit ini sekarang menjadi keris utama penanda tahta Pakualaman, sebagaimana Kangjeng Kyai Kopek menjadi penanda tahta Kasultanan Yogyakarta.

Meski namanya sama yaitu Kangjeng Kyai Bontit, ternyata keris yang di Pakualaman bukan keris Sunan Bonang. Sebab keduanya berbeda dapur atau bentuk.

Mengutip Pujangga Senior Pakualaman, Kangjeng Raden Mas Tumenggung Mangunkusumo, dapur Kangjeng Kyai Bontit yang di Pakualaman adalah Sabuk Inten dg 13 lekukan. Sementara keris Sunan Bonang berdapur Tilam Upih khas keris Tuban. Maka bisa dipastikan bahwa Kangjeng Kyai Bontit di Pakualaman bukan Kanjeng Kiai Bontit milik Sunan Bonang.

Sebuah episode pada 1761-1762 perlu mendapatkan perhatian ekstra. Dikisahkan cicit Amangkurat III yang diasingkan ke Sri Lanka bernama Raden Mas Guntur atau Wiratmeja (ia tinggal di Surakarta) melakukan makar atau pemberontakan. Dia terbunuh setahun kemudian.

Menurut Babad Mangkubumi Yogyakarta, ketika dua keris milik Raden Mas Guntur dipersembahkan kepada Sultan Hamengkubuwono I, ia mengenali salah satunya sebagai pusaka (wasiyat) yang kembali ke Amangkurat (mungkin berarti Amangkurat II) bernama Kangjeng Kyai Bontit. Inilah keris pusaka yang ternyata belum ditemukan, sebelum jatuh ke tangan Pakubuwono I atau keturunannya, namun justru malah disimpan oleh keturunan langsung Amangkurat III yang malang itu. Dengan demikian, seperti yang dikatakan Hamengkubuwono I, pusaka (Kyai Bontit) ini adalah keris pusaka yang hilang dari kraton pra-1705. Tetapi jika memang demikian, mengapa tidak ada dalam daftar pada awal abad kedelapan belas di antara pusaka-pusaka kerajaan yang dinyatakan hilang?

Masih menjadi misteri & teka-teki tentang urusan dalam istana Jawa yang selalu dikaitkan dengan alam magis-mistik dari regalia suci. Namun, dua kesimpulan dapat ditarik dengan kepastian dan yang ketiga dapat ditebak secara masuk akal.

Pertama, ada kemungkinan bahwa sebagian besar, kalau saja tidak semua, pusaka kerajaan pada abad ketujuh belas telah raib dari kerajaan di Jawa setelah tahun 1705. Bisa jadi telah dilebur oleh Amangkurat III yang diasingkan ke Sri Lanka itu, atau disembunyikan di Jawa Timur atau Sri Lanka, atau dibagikan di antara banyak kerabat dan para pendukung setianya. 

Apakah semua, atau memang ada, dari mereka yang kemudian ditemukan? Masih bisa diragukan.

Kedua, setidaknya sampai tahun 1737 orang yang dekat dengan istana dan mungkin lingkaran yang lebih luas mengetahui bahwa hanya sedikit jika ada dari pusaka lama yang ada di tangan Pakubuwono I, Amangkurat IV atau Pakubuwono II. Dengan demikian, Kraton Jawa boleh dikatakan dapat berfungsi dan berjalan tanpa pusaka kerajaan. 

Setidaknya tiga raja itu mengalami, betapa tidak nyamannya perasaan mereka atau bangsawan mereka kerajaan berjalan tanpa legitimasi pusaka.

Ketiga, tidak tertutup kemungkinan ada cara-cara yang dapat digunakan untuk mengganti pusaka yang hilang. Dalam beberapa kasus yang pernah terjadi sebelumnya, pusaka kerajaan “diputrani” atau disalin, dibikin tiruannya. 

Dalam kasus lain, juga terjadi misalnya, ada benda2 baru mungkin telah dikuduskan sebagai pusaka untuk menggantikan yang hilang. Hal ini mungkin dilakukan bersifat ritual supranatural ataupun sulap, yang penting sah sebagai pusaka.

Ini setidaknya akan memecahkan misteri bagaimana setelah Perjanjian Giyanti 1755 (Palihan nagari Mataram) baik Surakarta dan Yogyakarta memiliki satu set lengkap pusaka asli. Jika ternyata hanya sedikit atau tidak ada sama sekali pusaka Kartosuro yang asli yang masih ada pada tahun 1755? Akan sulit kiranya menjelaskan bagaimana dan apa saja pusaka yang terbagi di antara dua istana Mataram ini. (*)

*) Source : Bambang Sujarwanto