Masjid Bersejarah yang Menjadi Kandang Babi

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Nassirun Purwokartun
Nassirun Purwokartun
grosir-buah-surabaya

Ini cerita nyata. Sebuah masjid bersejarah. Yang kisahnya tertulis dalam Babad Tanah Jawi. Tapi hari ini sudah menjadi kandang babi.

Dikisahkan, ketika itu, Istana Mataram berhasil direbut oleh Pangeran Trunojoyo. Raja Mataram, Sunan Amangkurat I melarikan diri dari Keraton Plered. Tujuan pelarian itu ke arah barat untuk meminta bantuan kepada Kompeni Belanda di Batavia. Maka singgahlah di Banyumas.

Amangkurat I awalnya hanya singgah. Namun akhirnya meninggal dunia di wilayah Banyumas. Kemudian dimakamkan di Tegal. Karena pernah menginap beberapa hari di Banyumas, maka terdapat petilasan terkait peristiwa itu.

Pada situs bekas kota lama Banyumas terdapat tempat keramat yang disebut orang sebagai petilasan Panembahan Amangkurat.

Menurut cerita tutur tempat itulah yang menjadi tempat menginap Amangkurat I ketika beristirahat di Banyumas.

Putra mahkota Mataram, Adipati Anom yang sebelumnya memberontak dan mendukung Trunojoyo, mendadak berbalik.

Ia meninggalkan sahabatnya itu, lalu menyusul ayahnya melarikan diri. Bertemulah di Banyumas. Hingga ada tempat bernama Ciroyom, yang menjadi tanda pertemuan anak dan ayah yang sebelumnya berseteru.

Oleh sang ayah, Adipati Anom disuruh menjadi Raja Mataram. Namun, ia merasa tak mampu. Bahkan setelah meninggalnya sang ayah, Amangkruat I, ia tak ingin kembali ke Mataram. Ia berniat hendak naik haji. Sudah menyuruh bupati Tegal, Martalaya, mencarikan perahu.

Adipati Anom menunggu sendirian di masjid Banyumas. Masjid yang berada utara kota kabupaten, tepat di tepi selatan sungai Serayu.

Dikisahkan, selama berdiam di masjid itu, Adipati Anom mendapatkan wangsit yang membuat ia bersedia menjadi Raja Mataram.

Masjid yang dulu menjadi tempat menginapnya sekarang dikenal dengan nama petilasan Panembahan Jeneng. Situs yang menggambarkan kemauan sang putra mahkota untuk jumeneng nata atau naik takhta menjadi raja.

Begitulah kisah yang tertulis dalam Babad Tanah Jawi. 

Petilasan Panembahan Amangkurat dan Panembahan Jeneng sekarang berada desa Kalisube, Kecamatan Banyumas.

Saya pun mencari keberadaan dua situs itu.

Beberapa kali bertanya pada warga tak ada yang mengetahuinya. Sampai kemudian saya berkeliling mencari orang yang berusia tua, yang saya anggap tahu ketika situs itu masih terawat.

Setelah berkeliling menyusuri jalan kampung, akhirnya saya menemukan kedua situs itu.

Ternyata letaknya di bawah kebun bambu yang sangat lebat. Batangnya tidak tumbuh ke atas melainkan melengkung, hingga ketika masuk seperti masuk ke dalam gua.

Petilasan Panembahan Amangkurat berupa pagar keliling segi empat dari beton. Sudah sangat tidak terawat. Sampai-sampai pada tengahnya tumbuh serumpun bambu memenuhi lahan segi tempat.

Saya termenung agak lama di depan petilasan Raja Mataram.  Membayangkan betapa payahnya sang raja renta yang sakit-sakitan harus terusir dari kerajaannya. 

Bayangan saya tentang Amangkurat I yang keji ketika berkuasapun melintas jelas.

Setelah menarik nafas panjang, saya meninggalkan petilasan Amangkurat I. Saya berjalan ke arah barat laut menuju petilasan Adipati Anom yang kemudian bergelar Amangkurat II.

Tempat tersebut dulunya adalah masjid Banyumas, seperti yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi. Namun, betapa terkejutnya ketika saya memasuki areal petilasan tersebut. 

Bau menyengat langsung menusuk penciuman. Bunyi grok-grok-grok terdengar menyambut kedatangan saya.

Bunyi yang membuat saya jijik sekaligus mual dan merinding. Suara yang mendadak mengesankan mistis ketika terdengar di bawah sepi dan lebatnya pohon bambu yang senyap bergemerisik.

Ternyata, petilasan tersebut sekarang menjadi kandang babi. Ada enam kandang yang berdiri di sekeliling petilasan. Sementara petilasannya sendiri berada di ujung barat. Sebuah cungkub menjadi bangunannya.

Untuk menuju petilasan harus melewati kandang babi dulu karena tempatnya di pojokan. Di dalamnya terdapat sebuah nisan yang tentu saja bukan sebuah makam karena dulunya adalah masjid kabupaten.

Karena tidak kuat dengan bau yang sangat menusuk penciuman, saya tidak lama-lama di petilasan Adipati Anom atau Amangkurat II. Saya segera bergegas sebelum perut saya mual hingga akhirnya muntah.

Namun, sepanjang pulang saya terus terbayang dengan suasana kedua petilasan itu.

Tempat menginapnya raja Mataram, raja terbesar di Tanah Jawa, pada masa akhir hidupnya. Tempat bersejarah yang membuat putra mahkota yang awalnya menolak kemudian bersedia menjadi raja. 

Bekas sebuah masjid besar yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi. (*)

*) Source : Nassirun Purwokartun