Membangun citra dan profesionalisme kepolisian bukanlah perkara instan yang bisa berganti arah setiap kali terjadi pergantian pimpinan. Prinsip keberlanjutan dan kemajuan berbasis ilmu pengetahuan inilah yang dipegang teguh oleh Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Mochammad Sanoesi, Kepala Staf Angkatan Kepolisian RI (Kapolri) yang memimpin pada periode 1986–1991.
Di era Orde Baru, Jenderal Sanoesi dikenal sebagai salah satu Kapolri paling visioner. Salah satu gebrakan ikoniknya yang menunjukkan kecerdasannya adalah ketika ia merangkul para akademisi dari Universitas Indonesia (UI) demi merumuskan strategi keamanan terbaik bagi masyarakat.
Baca juga: Perwira Tinggi Polri yang Dimutasi Kapolri di Akhir Tahun 2025
Mengawinkan Keamanan Nasional dengan Ilmu Pengetahuan
Lahir pada 15 Februari 1935, Mochammad Sanoesi merupakan lulusan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Angkatan VII. Kiprah cerdasnya di dunia kepolisian membuat dirinya dikirim ke Amerika Serikat pada tahun 1969 untuk menempuh pendidikan di International Police Academy.
Ketika dipercaya menjabat sebagai Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan (Kadis Litbang) Polri pada periode 1981–1982, Sanoesi membawa pandangan baru. Ia meyakini bahwa profesionalisme Polri harus diasah menggunakan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).
Langkah konkret pun diambil. Sanoesi menggandeng sejumlah pakar lintas disiplin ilmu dari Universitas Indonesia (UI) untuk mengkaji dan merumuskan deskripsi mendalam mengenai kondisi masyarakat dari dimensi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). Pendekatan ilmiah yang berbasis data ini terbukti sukses memelihara keamanan wilayah saat ia kemudian dipromosikan menjadi Kapolda Kalimantan Selatan dan Tengah, serta Kapolda Jawa Tengah.
Melahirkan Strategi Opdin: Estafet Kepemimpinan yang Konsisten
Baca juga: Daftar Tim Transformasi Reformasi Polri
Puncak pemikiran strategis Jenderal Sanoesi mewujud dalam sebuat cetak biru bernama Strategi Opdin (Optimasi dan Dinamisasi), yang ia gelar ketika resmi dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden Soeharto pada Juni 1986.
Hebatnya, Strategi Opdin ini dirancang bukan untuk menghapus kebijakan Kapolri sebelumnya, melainkan sebagai benang merah kesinambungan. Strategi ini melanjutkan fondasi kuat dari "Pola Dasar Pembenahan Polri" milik Jenderal Awaloedin Djamin dan "Rencana Konsolidasi dan Fungsionalisasi (Rekonfu)" karya Jenderal Anton Soedjarwo.
Jenderal Sanoesi sangat sadar bahwa membangun institusi Polri beserta citra positifnya di mata publik harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, bukan terpenggal-penggal di setiap generasi baru.
Warisan Pemikiran untuk Korps Bhayangkara
Baca juga: Arradina Zessa Devy Perwira Tinggi Polri Perempuan di Tengah Kepungan Pria
Selama hampir lima tahun menakhodai kepolisian, ia mengajarkan bahwa menjaga Kamtibmas tidak hanya bisa mengandalkan pendekatan fisik di lapangan, melainkan harus lewat dialog komunikatif dengan tokoh agama serta kajian ilmiah yang matang.
Jenderal Mochammad Sanoesi wafat pada 26 Desember 2008 dalam usia 73 tahun. Meski beliau telah tiada, warisan pemikirannya tentang kepemolisian yang modern, ilmiah, dan menghargai keberlanjutan tetap menjadi inspirasi yang sangat berharga bagi Korps Bhayangkara hingga hari ini. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar