Dalam tradisi spiritual Kejawen, doa keselamatan tidak hanya sekadar permohonan perlindungan, tetapi juga bentuk penyelarasan diri dengan alam semesta dan Sang Pencipta (Gusti Kang Murbeng Dumadi). Doa-doa ini sering kali mengutamakan ketenangan batin dan perlindungan dari hal-hal yang terlihat maupun tidak terlihat.
Berikut adalah dua bentuk doa atau mantra Kejawen untuk keselamatan yang paling dikenal dan sarat akan makna filosofis :
1. Doa Keselamatan Diri (Falsafah Sedulur Papat Limo Pancer)
Doa ini memanggil konsep penjagaan dari Sedulur Papat Limo Pancer (empat saudara spiritual yang menyertai manusia sejak lahir, dan diri kita sebagai pusatnya) untuk meminta keselamatan secara menyeluruh.
Mantra / Doa:
"Niat ingsun ngadeg ing satengahing jagad.
Sing ngemong aku sedulurku papat, kalima pancer.
Jaga bumi sing tak pijak, langit sing tak junjung.
Teguh rahayu, luputa ing lara, luputa ing sengkala.
Slamet, slamet, slamet kersaning Gusti."
Terjemahan:
"Niatku berdiri di tengah-tengah alam semesta.
Yang menjagaku adalah empat saudaraku, dan yang kelima adalah diriku sendiri (pusat).
Menjaga bumi yang aku pijak, langit yang aku junjung.
Kuat dan selamat, terhindar dari penyakit, terhindar dari marabahaya/kesialan.
Selamat, selamat, selamat atas kehendak Tuhan."
2. Kidung Rumekso Ing Wengi (Bait Pertama)
Diciptakan oleh Sunan Kalijaga, kidung ini adalah salah satu doa penolak bala (tulak balak) paling kuat dalam tradisi Jawa. Kidung ini biasanya dilantunkan atau dibaca di dalam hati pada malam hari untuk membentengi diri dari niat jahat, ilmu hitam, dan bencana.
Kidung:
"Ana kidung rumeksa ing wengi,
Teguh hayu luputa ing lara,
Luputa bilahi kabeh,
Jim setan datan purun,
Paneluhan tan ana wani,
Miwah panggawe ala,
Gunaning wong luput,
Geni atemahan tirta,
Maling adoh tan ana ngarah ing mami,
Guna duduk pan sirna."
Terjemahan:
"Ada sebuah kidung penjaga di malam hari,
Menjadikan kuat selamat terbebas dari penyakit,
Terbebas dari segala petaka,
Jin dan setan tidak mau mendekat,
Ilmu sihir tidak ada yang berani,
Serta segala perbuatan jahat,
Guna-guna manusia meleset,
Api menjadi air,
Pencuri menjauh tidak ada yang menuju padaku,
Segala ilmu hitam pun sirna."
Cara Mengamalkan dalam Tradisi Kejawen
Dalam praktik Kejawen yang otentik, keberhasilan sebuah doa sangat bergantung pada niat dan kebersihan hati pembacanya. Berikut adalah tata krama dasar saat membacanya:
Pusatkan Pikiran: Lakukan di tempat yang tenang, sebaiknya dalam keadaan suci (sudah membersihkan diri/wudu).
Fokus pada Sang Pencipta: Meski memanggil unsur alam atau leluhur, niat akhir perlindungan harus selalu dikembalikan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Gusti Allah).
Pengulangan : Doa-doa singkat biasanya dibaca dengan menahan napas sejenak di pusar atau diulang sebanyak tiga atau tujuh kali sebagai bentuk penegasan niat (manteping ati).
Editor : Bambang Harianto