Dalam keheningan ruang hemodialisis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Zalecha, sebuah kisah ketabahan terukir bukan melalui keluhan, melainkan melalui senyum seorang ulama yang teduh. Di sana, Abah Guru Sekumpul (KH Muhammad Zaini) menjalani hari-harinya melawan sakit dengan keikhlasan yang menggetarkan hati siapa pun yang menjaganya.
Bagi Syahrudin dan para perawat di unit cuci darah RSUD Ratu Zalecha, kehadiran Abah Guru Sekumpul bukanlah sekadar merawat seorang pasien, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang tak terlupakan. Beliau adalah oase ketenangan di tengah riuhnya bunyi mesin medis yang dingin.
Baca juga: Ijazah Abah Guru Sekumpul Penarik Rezeki
Di saat pasien lain mungkin mengerang karena lelah atau prosedur yang tak nyaman, Abah Guru tetap menjadi sosok yang penuh pengertian. Tak jarang, dalam kesibukan yang padat, petugas medis sesekali terlupa memasang alat tertentu. Namun, alih-alih marah, beliau justru menegur dengan nada yang lembut dan penuh kesabaran.
"Beliau tidak pernah marah. Justru beliau yang mengingatkan kami dengan sangat sabar," kenang Syahrudin dengan mata berlinang.
Meski tubuhnya sedang berjuang, semangat Abah Guru untuk mencintai sesama tidak pernah redup. Di sela-sela perawatan, beliau kerap menyapa pasien lain, mengajak mereka mengobrol ringan hingga bercanda untuk mengusir mendung di wajah-wajah yang lelah. Bagi beliau, siapa pun yang menjalani cuci darah di sana adalah keluarganya.
Baca juga: Alasan Guru Sekumpul Menjadikan Nike Ardilla Sebagai Anak Angkat
Kasih sayang Abah Guru melampaui kata-kata. Diam-diam, beliau selalu menitipkan sejumlah uang untuk membantu biaya pengobatan pasien cuci darah lainnya yang kurang mampu. Beliau ingin memastikan bahwa saudara-saudaranya seperjuangan tidak menanggung beban sendirian.
Hingga hari ini, jejak kehadiran beliau masih terasa di RSUD Ratu Zalecha. Kasur yang dulu beliau gunakan kini masih memberi manfaat bagi pasien lain, sementara peralatan medis yang pernah bersentuhan dengan tubuh mulia beliau disimpan dengan penuh hormat sebagai kenangan akan sosok yang mengajarkan kita tentang ketabahan, kasih sayang, dan keikhlasan.
Baca juga: Kisah Surutnya Banjir Ketika Abah Guru Sekumpul Hadir di Haulnya Datu Kalampayan
Perjuangan Abah Guru Sekumpul melawan penyakitnya bukan sekadar catatan medis, melainkan sebuah puisi tentang cinta kepada sesama manusia yang akan terus dikenang sepanjang masa. AL Fatihah. (*)
Editor : S. Anwar