Nama Abdul Gafur Tengku Idris sangat lekat dalam memori publik sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) di era keemasan Presiden Soeharto. Kiprahnya di panggung politik nasional melalui Fraksi Golkar dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) sudah tidak diragukan lagi. Namun, di balik seragam dinas dan karier politiknya yang cemerlang, ada satu lembar sejarah besar yang jarang diketahui publik: Abdul Gafur adalah keturunan langsung dari para pejuang tangguh nusantara.
Jika merunut garis silsilahnya, darah juang yang mengalir di tubuh Abdul Gafur bukanlah kaleng-kaleng. Sang ayah, H. Abdul Hamid Tengku Idris, merupakan putra dari seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh militer legendaris asal Nagan Raya, Aceh, bernama Tengku Idris.
Bukan sekadar ulama biasa, Tengku Idris adalah panglima kepercayaan dalam pasukan Teuku Ben Mahmud. Di masa perang kolonial, kegigihan Tengku Idris dalam memimpin pasukan melawan invasi Belanda membuatnya menjadi sosok yang sangat ditakuti oleh pihak penjajah. Akibat perlawanannya yang tanpa kompromi, Belanda akhirnya mengambil tindakan tegas dengan membuang sang panglima jauh dari tanah kelahirannya, yakni ke pulau Ternate, Maluku Utara.
Pertemuan Dua Garis Bangsawan
Pengasingan sang kakek ke Ternate justru menjadi jembatan takdir bagi lahirnya sang mantan menteri. Di Indonesia timur, keluarga pejuang Aceh ini kemudian menjalin hubungan erat dengan keluarga Kesultanan Tidore. Ibunda Abdul Gafur, Aisyah Farouk, merupakan perempuan keturunan langsung dari Kesultanan Tidore.
Pertemuan antara darah pejuang serambi mekah dan bangsawan maluku utara inilah yang membentuk karakter Abdul Gafur sejak kecil, hingga akhirnya ia tumbuh menjadi salah satu menteri kepercayaan di era Orde Baru.
Akhir Perjalanan Sang Tokoh Bangsa
Setelah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk dunia olahraga, kepemudaan, dan politik tanah air, Abdul Gafur mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat pagi, 4 September 2020. Tokoh senior ini wafat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 81 tahun akibat terinfeksi COVID-19 yang disertai dengan penyakit komorbid diabetes tipe 2.
Meski jasadnya kini telah dikebumikan di TPU Pondok Ranggon dengan protokol kesehatan ketat, warisan sejarah dan darah juang yang dibawa almarhum dari kakek-neneknya akan selalu menjadi bagian penting dari cerita perekat persatuan bangsa ini. (*)
Editor : Bambang Harianto