Sejarah pembangunan industri modern Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sumbangsih para teknokrat berlatar belakang militer. Salah satu tokoh paling menonjol dalam konstelasi tersebut adalah Ir. Abdoel Raoef Soehoed, atau yang akrab dikenal dengan nama A.R. Soehoed. Menyandang gelar adat Minangkabau, Rajo Sampono, pria yang mengawali kariernya di kokpit pesawat tempur ini sukses bertransformasi menjadi salah satu Menteri Perindustrian paling berpengaruh di era Presiden Soeharto.
Lahir pada 2 Maret 1920, A.R. Soehoed adalah nakhoda utama Kementerian Perindustrian dalam Kabinet Pembangunan III periode 1978–1983. Di tangannya, fondasi industrialisasi nasional diletakkan dengan pendekatan teknis yang terukur—sebuah keahlian yang ia timba dari bangku kuliah dan kedisplinan tinggi sebagai mantan perwira Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).
Baca juga: Brio Putih Tabrak Pohon Dekat Pintu Masuk Selatan Markas Kopasgat Lanud Iswahyudi
Darah Perantau Minang dan Jaringan Jaksa Nusantara
Meskipun dilahirkan dan tumbuh besar di jantung kota Batavia (Jakarta), A.R. Soehoed memiliki ikatan emosional dan darah Minangkabau yang sangat kental. Kedua orang tuanya merupakan perantau tangguh asal Sumatra Barat yang telah menetap di ibu kota sejak zaman kolonial Belanda.
Aura kepemimpinan dan pengabdian negara memang sudah mengalir di keluarganya sejak lama. Kakek dari pihak ayahnya, yang juga bernama Abdoel Raoef, merupakan seorang jaksa terkemuka di lingkungan Kesultanan Ternate dan Tidore. Garis yurisdiksi sang kakek kala itu sangat luas, membentang dari wilayah Kepulauan Maluku bagian utara hingga menyentuh kawasan kepala burung Pulau Irian (Papua).
Kuliah yang Terputus Perang dan Dedikasi di Angkatan Udara
Perjalanan akademis Soehoed adalah potret nyata bagaimana generasi muda pra-kemerdekaan harus bertaruh dengan keadaan. Ia mulai menempuh pendidikan tinggi di Technische Hoogeschool (TH) Bandung—yang kini bertransformasi menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB)—pada tahun 1939.
Baca juga: Boediardjo, Perwira Udara yang Sukses Jadi Menteri Penerangan
Namun, impiannya menjadi insinyur terpaksa tertunda lama akibat pecahnya pendudukan Jepang yang langsung disusul oleh gelombang revolusi fisik kemerdekaan Indonesia. Setelah situasi negara mulai stabil, Soehoed akhirnya berhasil merengkuh gelar Insinyur (Ir.) pada tahun 1951.
Di tengah masa pergolakan itu pula, panggilan ibu pertiwi membawanya masuk ke dunia militer. Sejak tahun 1946, ia bergabung dengan AURI dan menempuh berbagai jenjang pendidikan kepangkatan perwira udara yang ketat. Sepuluh tahun mengabdi di langit nusantara, Soehoed akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari dinas aktif militer pada tahun 1956 atas permintaan sendiri, dengan pangkat terakhir Mayor Udara.
Arsitek Industri Orde Baru yang Humanis di Masa Pensiun
Baca juga: Daftar 32 Perwira Tinggi TNI yang Naik Pangkat
Kemampuan manajerial dan latar belakang teknisnya membuat Presiden Soeharto mempercayainya untuk memimpin Kementerian Perindustrian. Selama lima tahun menjabat (1978–1983), Soehoed fokus pada penguatan industri manufaktur nasional dan hilirisasi awal yang menjadi motor penggerak ekonomi Orde Baru.
Setelah melepaskan jabatan publik dan memasuki masa pensiun, sisi humanis Soehoed justru semakin bersinar. Pria perantau ini memilih menghabiskan sisa waktunya untuk aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan serta organisasi sosial masyarakat asal Minangkabau di Jakarta. Ia menjadi salah satu tokoh tetua yang dihormati dalam menjaga kohesi dan tali silaturahmi warga jiran di perantauan.
A.R. Soehoed mengembuskan napas terakhirnya pada hari Sabtu, 7 Juni 2014, di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, dalam usia yang sangat sepuh, 94 tahun. Atas dedikasi raksasanya dalam mempertahankan kemerdekaan di angkasa dan membangun fondasi pabrik-pabrik besar di tanah air, sang Mayor Udara sekaligus menteri legendaris ini dikebumikan dengan penghormatan militer penuh di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. (*)
Editor : S. Anwar