Di tanah Pajajaran yang megah, hiduplah seorang putri cantik jelita bernama Rara Santang, putri bungsu dari Prabu Siliwangi. Sejak kecil, ia terkenal bukan hanya karena parasnya yang elok, tapi juga karena kelembutan hati dan kepandaiannya.
Namun, hidup Rara Santang berubah saat ia beranjak dewasa. Meskipun dibesarkan dalam lingkungan kerajaan yang penuh kemewahan, hatinya selalu resah. Rara Santang merasakan panggilan dari sesuatu yang belum pernah ia mengerti sebuah perjalanan yang jauh melampaui batas kerajaan Pajajaran.
Suatu hari, Rara Santang mendengar kabar dari para saudagar yang datang ke pelabuhan Cirebon. Mereka bercerita tentang tanah suci di jazirah Arab, tempat di mana para manusia dari seluruh penjuru bumi berkumpul untuk menyembah Tuhan yang satu.
Hatinya bergetar. Ada rasa rindu yang aneh, seolah tanah itu memanggil namanya. Dengan restu kakaknya, Prabu Kian Santang, ia pun memutuskan melakukan perjalanan panjang ke Mekkah.
Bersama rombongan pedagang, Rara Santang mengarungi samudra, melewati badai, dan singgah di banyak negeri asing. Di Mekkah, takdirnya menanti.
Rara Santang bertemu seorang bangsawan keturunan Rasulullah, Syarif Abdullah. Pertemuan itu seperti menyatukan dua takdir yang telah digariskan.
Mereka menikah, dan Rara Santang memeluk Islam dengan penuh keyakinan. Dari pernikahan itu lahirlah dua putra yang kelak menjadi tokoh besar penyebar Islam di Nusantara Sunan Gunung Jati dan Syarif Nurullah.
Namun, Rara Santang tidak kembali lagi ke Pajajaran. Dewi Rara Santang memilih menetap di Tanah Suci, mengabdikan hidupnya untuk agama dan keluarganya. Meski jauh dari tanah kelahiran, namanya tetap dikenang di Tatar Sunda sebagai putri yang mengikuti panggilan hatinya, dan dari rahimnya lahirlah pemimpin besar yang mengubah sejarah. (kocar. Koma)
Editor : Zainuddin Qodir