Suasana sore itu begitu hening di ruang persemayaman para santri korban ambruknya mushola lantai empat di Pondok Pesantren Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Aroma kayu peti yang baru dipaku masih terasa, bercampur dengan isak tangis para keluarga yang datang satu per satu.
Di antara mereka, berdiri seorang ayah dengan sorot mata teduh dan langkah yang penuh wibawa — KH. Bahri Bahruddin. Di hadapannya, terbujur rapi sebuah peti berbalut kain putih. Di atasnya tertulis nama: “Moh. Ubaidillah.”
Baca juga: Doa Bersama untuk Korban Robohnya Gedung Pondok Pesantren Al Khoziny
Putra yang setiap hari ia doakan, kini terbaring diam dalam keabadian. Tanpa air mata, KH. Bahri mendekat, menyentuh ujung peti, lalu berbisik lirih, “Assalamu'alaikum ya waladi, Ayah ikhlas, Nak… Ayah ridho,Nak... Tunggu Ayah dan Ibumu di syurganya Allah SWT.”
Suara itu gemetar tapi tenang, seperti mata air yang mengalir di tengah karang. Tidak ada kemarahan, tidak ada penyesalan — hanya ketundukan yang mendalam pada takdir Sang Maha Kuasa. Orang-orang di sekitar menunduk haru.
Tak satu pun menyangka, di balik kehilangan sebesar itu, wajah sang kiai tetap teduh tanpa bayangan kecewa. Hatinya sudah berlabuh pada keyakinan: bahwa apa pun yang terjadi, semuanya milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Beberapa hari kemudian, KH. Muhammad Ubaidillah Mujib, perwakilan majelis guru Pondok Pesantren Al-Khoziny, datang bertakziah ke rumah KH. Bahri.
Dalam tangan beliau tergenggam santunan sebagai bentuk belasungkawa dan tanggung jawab moral dari pesantren. Dengan takzim, beliau menyerahkannya kepada sang ayah. Namun, KH. Bahri hanya tersenyum lembut. Ia menerima santunan itu dengan kedua tangan, lalu perlahan mengembalikannya.
Baca juga: KH Khozin Buduran Sidoarjo Dapat Salam dari Rasulullah SAW
“Terima kasih, Kiai,” ucapnya tenang.
“Tapi biarlah santunan ini kembali untuk pesantren. Gunakanlah untuk membangun kembali mushola tempat anak-anak kami belajar dan bersujud. Di sanalah ruh anak saya akan terus hidup.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Tak ada kata yang mampu menandingi kebesaran jiwa seorang ayah yang kehilangan, namun justru membalasnya dengan keikhlasan dan cinta kepada ilmu.
KH. Bahri Bahruddin adalah cermin dari ikhlas sejati — ayah yang tidak sekadar menerima takdir, tetapi memuliakannya. Ia tahu, kehilangan di dunia hanyalah titipan yang kembali kepada PemilikNya.
Karena bagi beliau, kepergian Moh. Ubaidillah bukan akhir, melainkan awal dari pertemuan yang lebih indah di surga Allah SWT.
Moh Ubaidillah merupakah salah satu dari 66 santri Pondok Pesantren Al Khoziny yang meninggal dunia karena ambruknya bangunan 3 lantai pada Senin, 29 September 2025 sekitar jam 15.00 WIB. Gedung tersebut ambruk pada saat ratusan santri sedang sholat ashar di lantai bawah yang dijadikan musholla.
Moh Ubaidillah disemayamkan di tempat pemakaman umum di Desanya, di Desa Lombeng, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan. (*)
Editor : S. Anwar