Lahir di Ujung Pandang pada 30 Oktober 1952, Sjafrie Sjamsoeddin tumbuh dalam lingkungan keluarga militer. Ayahnya adalah Letkol TNI (Purn) Haji Sjamsoeddin Koernia, seorang mantan tentara, dan ibunya bernama Hamdana.
Sjafrie Sjamsoeddin merupakan putra keenam dari 11 bersaudara. Dari keluarga itulah tumbuh seorang anak yang kelak akan menempati salah satu kursi paling strategis di pemerintahan Indonesia.
Sjafrie masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada tahun 1971 dan lulus bersama Prabowo Subianto pada tahun 1974. Prestasi yang langsung mencolok: ia meraih penghargaan Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik angkatannya.
Sejak bangku akademi itulah terjalin persahabatan yang akan bertahan puluhan tahun antara dua perwira muda itu. Setelah menempuh pendidikan di AKABRI, Sjafrie Sjamsoeddin mengawali karier militernya dengan jabatan Komandan Peleton Grup 1 Komando Pasukan Sandi Yudha, yang kini dikenal sebagai Kopassus.
Karier Sjafrie Sjamsoeddin di satuan Baret Merah (julukan Kopassus) membawanya ke medan-medan yang tidak ringan. Ia terlibat dalam berbagai operasi militer krusial, di antaranya Operasi Flamboyan di Timor Timur pada 1976, 1984, dan 1990, Operasi Nanggala XXI di Aceh pada 1977, serta Operasi Tim Maleo di Irian Jaya.
Di tengah perjalanan lapangan itu, kepercayaan pimpinan terhadapnya terus bertumbuh, hingga ia dipercaya mengemban tugas yang sangat dekat dengan lingkaran kekuasaan tertinggi: menjadi pengawal pribadi Presiden Soeharto dalam berbagai kunjungan luar negeri, termasuk ke Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, hingga Timur Tengah.
Pada tahun 1997, Sjafrie Sjamsoeddin ditunjuk menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya. Ini adalah satu posisi yang menempatkannya di pusat guncangan sejarah. Ia menjabat sebagai panglima militer Jakarta ketika kerusuhan Mei 1998 pecah — sebuah tragedi yang menewaskan ratusan orang dan mengguncang pondasi Orde Baru. Ia dibebaskan oleh pihak berwenang Indonesia atas tuduhan keterlibatan dalam kerusuhan tersebut, meskipun ia kemudian dipecat dari militer terkait kasus penculikan aktivis 1997-1998.
Nama Sjafrie Sjamsoeddin memang tidak lepas dari kontroversi masa transisi itu — sebuah babak gelap yang hingga kini masih menjadi luka yang belum sepenuhnya sembuh di ingatan publik.
Namun karier birokrasinya tidak berhenti. Ia kemudian menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan TNI pada 2002, lalu Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan pada 2005. Pada 2010, ia dipercaya menjadi Wakil Menteri Pertahanan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, jabatan yang ia emban hingga 2014. Ketika Prabowo kemudian menjadi Menteri Pertahanan di era Jokowi, Sjafrie kembali hadir sebagai penasihat khusus — setia mendampingi sahabat lamanya.
Pada 21 Oktober 2024, Sjafrie Sjamsoeddin resmi dilantik sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-27 dalam Kabinet Merah Putih di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dan tak berhenti di situ. Pada 10 Agustus 2025, dalam Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Lapangan Suparlan, Pusdiklatpassus Kopassus, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Presiden Prabowo secara resmi menganugerahkan pangkat Jenderal Kehormatan bintang empat kepadanya— naik dari pangkat purna terakhirnya sebagai Letnan Jenderal.
Penganugerahan itu juga menuai kritik dari Koalisi Masyarakat Sipil Melawan Impunitas, yang mempertanyakan dasar hukumnya dan menyebut pemberian ini mengabaikan luka para korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu.
Sjafrie Sjamsoeddin telah menikah dengan Etty Sudiyanti dan dikaruniai dua orang anak: Kolonel Infanteri Muhammad Benrieyadin Sjafrie dan Siti Benita Friyati. Di usia 72 tahun, sosok yang dikenal dengan panggilan "Pak SS" oleh para bawahannya ini terus memimpin kebijakan pertahanan Indonesia — membawa serta seluruh berat pengalaman, kontroversi, dan dedikasi panjangnya kepada bangsa. (*)
Editor : S. Anwar