Pasien ini pertama kali datang ke poliklinik saya dirujuk dari bagian bedah. Sebelumnya sudah menjalani operasi. Hasil biopsinya keluar : kanker.
Saat datang, kondisinya sudah cukup lemah. Nafsu makan turun, badan kurus, tampak kesakitan, dan lebih banyak diam. Setelah evaluasi, saya putuskan untuk dirawat inap.
Baca juga: Bahan Makanan yang Bagus untuk Mencegah Kanker Prostat
Ada satu hal yang langsung berbeda dari pasien-pasien lain. Beliau datang bukan ditemani keluarga. Di sampingnya hanya ada petugas berseragam. Petugas Lapas (Lembaga Pemasyarakatan).
Dia seorang narapidana. Ada borgol di tangannya.
Di ruangan rawat inap, dia 24 jam dijaga petugas secara bergantian. Saya tak pernah nampak ada orang lain yang jaga atau membezuknya.
Saya sebenarnya sudah beberapa kali merawat pasien narapidana dengan berbagai kasus. Selalu ada keluarga yang menjaga, baik istri, kakak/ adik maupun orang tua. Namun pasien ini berbeda. Tak pernah ada siapa-siapa.
Hanya petugas Lapas. Petugas sudah beberapa kali telpon keluarga, tapi tak ada respon.
Di sisi tempat tidurnya tergantung sebuah borgol. Tidak dipakai. Hanya menggantung di besi tempat tidur.
Rasanya agak ironis melihatnya. Tubuh pasien ini sudah terlalu lemah. Untuk berjalan saja sulit. Bahkan sering kali harus dibantu duduk. Rasanya mustahil ia bisa pergi ke mana-mana.
Tapi prosedur tetap prosedur. Borgol tetap dipasang, walaupun hanya tergantung di tempat tidur.
Hari demi hari kondisinya makin menurun. Suster berinisiatif mencoba menelepon keluarga untuk menjelaskan kondisi pasien. Mungkin keluarga belum tahu kondisinya sudah separah ini dan mudah-mudahan ada yang datang. Setidaknya menemani di masa-masa yang mungkin terakhir.
Tapi jawaban di ujung telepon di luar dugaan :
“Kami sudah ikhlas.”
Suster mencoba menjelaskan lagi.
“Kondisinya sudah berat, mungkin ini kesempatan terakhir ketemu, bisa saling memaafkan"
Namun jawaban berikutnya tetap sama.
“Tak perlu kami datang ke rumah sakit.”
Kami tidak tahu apa yang pernah terjadi di keluarga itu. Mungkin ada luka yang terlalu dalam, ada kesalahan yang terlalu besar, ada kecewa yang terlalu lama dipendam.
“Saya cuma mau minta maaf sama keluarga…”
Saya masih ingat kalimat itu. Sewaktu visit pasien sehari sebelum meninggal. Pendek. Tapi berat.
Di akhir hidupnya, ternyata bukan kebebasan yang ia pikirkan. Bukan hukuman. Bukan lagi tentang masa lalu. Ia hanya ingin bertemu keluarga. Untuk meminta maaf.
Penyesalan memang datang terakhir. Dan tidak semua orang masih diberi kesempatan untuk memperbaikinya, bahkan untuk minta maafpun tidak bisa...
Ternyata ada sesuatu yang lebih kuat mengikat manusia di akhir hidup, bukan borgol di tangan tapi adalah ....penyesalan.
Selama masih ada waktu : hubungi orang tua, peluk pasangan, sapa saudara, perbaiki hubungan yang retak. Sebab kita tidak pernah tahu, pertemuan mana yang ternyata adalah kesempatan terakhir.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan. Luka bisa sangat dalam. Kecewa bisa sangat panjang. Tidak ada yang berhak menghakimi pilihan seseorang.
Tetapi bila hati masih menyisakan sedikit ruang, cobalah memberi maaf—seberapapun dalamnya luka yang pernah kita rasakan.
Karena memberi maaf bukan hanya tentang orang yang bersalah. Kadang itu juga tentang memberi ketenangan bagi hati kita sendiri, agar kelak tidak muncul penyesalan : “Mengapa waktu itu saya terlalu ego? Mengapa saya tidak datang?” Mengapa saya tidak memaafkan?"
Bukankah Allah Maha Pemaaf kepada hamba-Nya?
Maka sebagai manusia yang juga penuh salah, mungkin kita pun perlu belajar membuka sedikit ruang untuk memaafkan....
*) Diceritakan oleh dr Marlina Tasril (Dokter konsultan Hematologi Onkologi Medic)
Editor : Bambang Harianto