Pemuda Dayak menyampaikan surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Surat terbuka tersebut disampaikan Pemuda Dayak melalui akun Instagram pemuda_dayak_kalbar pada Rabu, 25 Februari 2026.
Isi surat terbuka yang ditulis Pemuda Dayak dikutip Lintasperkoro sebagai berikut :
Baca juga: Surat dari Dokter Ratna Setia Asih untuk Presiden Prabowo Subianto
Kepada Yang Terhormat,
Presiden Republik Indonesia
Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata...
Arus... Arus... Arus...
Salam Satu Darah, Dayak Abadi.
Dalam alinea keempat Pembukaan UUD (Undang Undang Dasar) 1945, bangsa Indonesia menegaskan tujuan yang luhur: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi. Itulah janji konstitusi. Itulah simpul yang mengikat ribuan pulau, ratusan bahasa, dan beragam suku dalam satu nama: Indonesia.
Atas dasar cita-cita mulia itu pula, tanah Kalimantan bersedia menjadi bagian dari Republik ini. Leluhur kami berjuang melawan penjajah, mempertahankan tanah dan martabat, bahkan dengan pengorbanan generasi demi generasi. Darah yang tertumpah bukan sekadar sejarah; ia adalah fondasi kesetiaan kami kepada negara.
Namun hari ini, kami bertanya dengan hati yang gundah: apakah cita-cita itu telah benar-benar menjangkau kami?
Kami menyaksikan hutan-hutan ditebang tanpa kendali, sungai-sungai tercemar, tanah adat bergeser oleh kepentingan industri. Sumber daya alam diangkut keluar, tetapi kesejahteraan tidak tinggal di sini.
Jalan-jalan rusak parah, fasilitas kesehatan terbatas, akses pendidikan timpang. Pada musim hujan, lumpur menjadi jebakan; pada musim kemarau, debu dan penyakit mengintai. Pajak tetap kami bayar sebagai warga negara yang taat, tetapi asas manfaatnya belum kami rasakan sepenuhnya.
Kami tidak menolak pembangunan. Kami tidak anti-kemajuan. Kami tidak menutup diri dari perubahan. Namun pembangunan yang adil seharusnya tidak memilih siapa yang layak disejahterakan dan siapa yang dibiarkan menunggu. Republik ini berdiri bukan untuk satu golongan, melainkan untuk seluruh anak bangsa-termasuk kami, Suku Dayak.
Kami pun memiliki pemikiran, gagasan, dan kemampuan. Banyak putra-putri Dayak yang berpendidikan, berprestasi, dan berkomitmen membangun negeri. Jangan biarkan mereka hanya menjadi simbol tanpa ruang nyata untuk berkontribusi. Keadilan bukanlah belas kasihan; ia adalah hak konstitusional.
Baca juga: Kejanggalan dalam Pengusutan Kasus Kepala SMAN 1 Luwu Utara
Kami mencermati bagaimana suara-suara kritis di negeri ini kerap mendapat perhatian cepat, termasuk ketika dinamika terjadi di kampus-kampus besar seperti Universitas Gajah Mada maupun Universitas Indonesia. Maka melalui surat terbuka ini, kami berharap perhatian yang sama seriusnya juga diberikan kepada persoalan struktural yang kami hadapi di Kalimantan: pengakuan dan perlindungan tanah adat, pemerataan infrastruktur, akses pendidikan dan kesehatan yang layak, serta kebijakan lingkungan yang berpihak pada keberlanjutan generasi mendatang.
Presiden yang kami hormati,
Sejarah telah menunjukkan bahwa ketidakadilan yang dibiarkan berlarut-larut dapat berubah menjadi luka kolektif. Tragedi konflik di Sampit adalah pelajaran pahit bahwa ketimpangan sosial dan pengabaian aspirasi lokal dapat berujung pada perpecahan yang kita semua sesali. Kami tidak ingin sejarah kelam itu terulang. Kami menginginkan keadilan agar kedamaian tetap terjaga
Ketahuilah, kami adalah bagian sah dari Republik ini. Kami mencintai Indonesia dengan cara kami menjaga hutan, merawat sungai, dan menghormati leluhur. Tetapi cinta kepada Tanah Air tidak berarti kami harus diam ketika hak-hak kami terpinggirkan.
Kami tidak meminta keistimewaan. Kami menuntut keadilan. Kami tidak mengancam. Kami mengingatkan. Kami tidak hendak memisahkan diri. Kami ingin benar-benar dirangkul.
Bangunlah Kalimantan bukan hanya karena kepentingan ekonomi nasional, tetapi karena di sini hidup manusia-manusia Indonesia yang memiliki martabat yang sama. Jadikan pembangunan sebagai jembatan persatuan, bukan sebagai jurang ketimpangan.
Adil Ka' Talino - adil terhadap sesama manusia.
Baca juga: Prospek Gerakan Gibran Jadi Wapres 2 Periode
Bacuramin Ka' Saruga - bercermin pada nilai-nilai luhur.
Basengat Ka' Jubata - bernafas dalam kebenaran.
Semoga suara ini didengar bukan sebagai perlawanan, melainkan sebagai panggilan nurani dari anak-anak bangsa yang ingin tetap setia pada merah putih-tanpa kehilangan jati diri.
Hormat kami,
Pemuda Dayak
Untuk Indonesia yang benar-benar adil dan utuh.
Editor : S. Anwar