Petugas Medis Puskesmas Sukodono Diduga Tidak Kompeten Tangani Pasien Anak

avatar Ach. Maret S.
  • URL berhasil dicopy
Seorang anak inisial AEA
Seorang anak inisial AEA
grosir-buah-surabaya

Seorang anak inisial AEA, usia 8 bulan, mengalami demam. Tubuhnya panas tinggi, dan segera orang tuanya membawanya ke Puskesmas Sukodono untuk mendapatkan diagnosis dan bantuan medis pada Rabu (18/2/2026). Namun yang terjadi justru di luar dugaan Achmad Afandi dan Kurnia Sari, selaku orang tua dari AEA.

Tenaga medis Puskesmas Sukodono dinilai tidak kompeten memberikan layanan kesehatan yang optimal. Bahkan, pasien dari Desa Panjunan, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, tersebut mengaku kecewa.

Kekecewaan itu lantaran pihak Puskesmas Sukodono tidak optimal memberikan layanan kesehatan terhadap anaknya. Yang membuat kecewa lagi, anaknya harus dirujuk ke Rumah Sakit (RS) Sakinah Sukodono. 

“Dirujuk ke RS Sakinah karena perawat di Puskesmas Sukodono tidak bisa melakukan infus. Alasannya, pembuluh darah anak saya sulit ditemukan saat mau dipasang jarum infus. Makanya dirujuk ke rumah sakit Sakinah,” katanya disampaikan kepada Lintasperkoro pada Sabtu, 1 Maret 2026. 

Achmad Afandi dan Kurnia Sari tidak keberatan saat pihak Puskesmas Sukodono merujuk anaknya ke RS Sakinah asal anaknya segera mendapat pelayanan kesehatan yang optimal. Meski begitu, rasa kecewa itu muncul karena dia harus membawa anaknya yang dalam kondisi sakit ke RS Sakinah tanpa penjelasan medis dari Puskesmas Sukodono.

“Saat di RS Sakinah, kok tidak ada kendala saat pemasangan jarum suntik untuk infus di tangan anak saya. Perawat di Puskesmas Sukodono bilang, ‘timbang tak cublesi nang kene, mending tak rujuk nang Rumah Sakit Sakinah’. Itu yang membuat saya tidak puas dengan layanan kesehatan di Puskesmas Sukodono,” ujar Achmad Afandi.

Mendapati aduan dari masyarakat tentang layanan kesehatan di Puskesmas Sukodono kurang optimal, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Front Pembela Suara Rakyat (LSM FPSR) Sidoarjo, Agus Harianto merasa geram. Dia pun menemui pihak Puskesmas Sukodono, yang ditemui oleh Dokter Dinar.

Kepada LSM FPSR Sidoarjo, dr Dinar menerangkan bahwa kesulitan pemasangan infus terjadi karena adanya pembuluh darah beku yang dialami anak inisial AEA.

cctv-mojokerto-liem

Pada pertemuan dengan LSM FPSR Sidoarjo, Kepala Puskesmas Sukodono, dr Didik Agung Wibowo menyatakan ada hal medis yang tidak dapat dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat umum. dr Didik Agung Wibowo meminta agar orang tua pasien anak inisial AEA dihadirkan di Puskesmas Sukodono jika ingin penjelasan lebih lanjut.

Ketua LSM FPSR DPD Sidoarjo, Agus Harianto menyayangkan jika tenaga medis mengalami kesulitan dalam tindakan yang dinilai sebagai prosedur dasar.

“Kami menyayangkan jika tenaga medis sampai kesulitan dalam tindakan dasar seperti pemasangan infus pada balita. Ini perlu dievaluasi secara serius,” ujarnya.

Menurut Agus, pihaknya menerima aduan dari keluarga pasien yang merasa prosedur penanganan di Puskesmas Sukodono kurang maksimal. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan meminta klarifikasi resmi dari manajemen Puskesmas Sukodono dan instansi terkait di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo.

“Kami bukan mencari kesalahan, tetapi ingin memastikan pelayanan kesehatan masyarakat berjalan sesuai standar. Apalagi ini menyangkut bayi 8 bulan. Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap fasilitas kesehatan tingkat pertama,” tegasnya. (*)