PT Stasionkota Sarana Permai (SSP) mengubah rencana pengembangan kawasan di lereng Gunung Arjuno–Welirang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Hal itu dilakukan usai mendengar aspirasi warga sekitar.
Rencana awal, PT Stasionkota Sarana Permai akan membangun real estate seperti villa. Karena banyak warga yang protes, kemudian rencana tersebut diubah menjadi wisata alam terpadu (WAT).
Baca juga: PT SSP Ngotot Bangun Real Estate di Lereng Arjuno, Pansus DPRD Beri Warning
Wacana perubahan tersebut disampaikan dalam rapat dengar pendapat antara PT Stasionkota Sarana Permai dan Panitia Khusus (Pansus) Real Estate Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pasuruan di gedung DPRD Kabupaten Pasuruan pada Rabu, 4 Maret 2026.
Teguh Djatmiko selaku Staf Umum PT Stasionkota Sarana Permai menyampaikan, perubahan konsep itu dilakukan setelah perusahaan mendengar berbagai masukan dan aspirasi masyarakat khususnya dari tokoh-tokoh di wilayah Prigen.
Awalnya, PT Stasionkota Sarana Permai berencana mengembangkan kawasan tersebut sebagai proyek real estate di lahan yang telah dikuasai sebelumnya.
Namun rencana tersebut kemudian dipertimbangkan kembali setelah muncul berbagai kritik dan kekhawatiran masyarakat terkait potensi dampak lingkungan.
"Perubahan konsep menjadi wisata alam terpadu ini merupakan bagian dari upaya kami mendengarkan aspirasi masyarakat," ujar Teguh pada Jumat (6/3/2026).
Menurut Teguh, konsep baru tersebut dirancang berbeda dengan rencana sebelumnya.
Pengembangan kawasan nantinya tidak akan dilakukan dengan pembukaan lahan secara besar-besaran.
Selain itu, Stasionkota Sarana Permai juga berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan di kawasan lereng Gunung Arjuno - Welirang tersebut agar tetap terjaga.
Baca juga: KPU Kabupaten Pasuruan Terancam Didepak, Kantornya akan Dibuat Wisma Atlet
"Kami tidak ingin keberadaan kami justru merugikan masyarakat atau menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Karena itu rencana awal kami ubah," jelasnya.
Ia menambahkan, konsep pengembangan kawasan saat ini masih dalam tahap kajian oleh konsultan serta sejumlah akademisi. Dalam rancangan tersebut, pembangunan akan dilakukan dengan kepadatan rendah dan tetap mempertahankan tegakan pohon yang ada.
"Sekalipun nanti menjadi kawasan wisata, bangunan tidak akan padat. Tegakan pohon tetap dipertahankan agar kawasan tetap asri," ujar Teguh.
Sebelumnya, PT Stasionkota Sarana Permai merencanakan pembangunan real estate di kawasan hutan seluas sekitar 22,5 hektare di lereng Gunung Arjuno–Welirang. Dalam rencana tersebut, hanya sekitar 35 persen dari total lahan yang akan dimanfaatkan untuk pembangunan, sementara 65 persen lainnya tetap dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau (RTH).
"Jangan dibayangkan hutannya akan gundul. Kami justru ingin menjaga keseimbangan lingkungan dengan menata kawasan hijau agar lebih terpelihara," ujar Teguh.
Baca juga: Ratusan Warga Desa Kejapanan Demo, Ancam Tutup Jalan Nasional
Ia menegaskan, konsep pengembangan yang disiapkan perusahaan mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan atau sustainable development, dengan menyeimbangkan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi.
PT Stasionkota Sarana Permai juga memastikan bahwa pelaksanaan proyek nantinya akan dilakukan secara bertahap dengan pengawasan terhadap dampak sosial maupun lingkungan. Pihaknya tetap membuka ruang koordinasi dengan pemerintah daerah, lembaga lingkungan, serta masyarakat untuk memastikan rencana pengembangan kawasan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
"Jika ada masukan yang konstruktif dari berbagai pihak, tentu akan kami evaluasi," imbuhnya.
Teguh tegaskan lagi, pimpinan PT Stasionkota Sarana Permai tidak pernah merasa ngotot atau ngeyel dalam mengembangkan di kawasan lereng Arjuno. Hal itu, dibuktikan hasil dari hearing yang dilakukan Tim Pansus Real Estate DPRD Kabupaten Pasuruan dengan pihak perusahaan (PT Stasionkota Sarana Permai).
"Dalam hearing bersama tim pansus sudah kami paparkan semuanya. Kalau pun ada masukan dari teman-teman pansus tentunya akan kami tindaklanjuti. Salah satunya mengubah dari pembangunan real estate menjadi wisata alam terpadu," tutupnya. (dik)
Editor : Bambang Harianto