Nama Bu Muslimah dikenal luas setelah Andrea Hirata mengangkat sosoknya menjadi tokoh Ibu Mus dalam novel Laskar Pelangi yang terbit pada tahun 2005. Novel tersebut mengisahkan perjuangan 10 murid Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Gantung di tengah keterbatasan.
Kisahnya kemudian diadaptasi menjadi film pada tahun 2008. Sejak itu, Bu Muslimah dikenang sebagai sosok guru yang tulus, sederhana, dan menginspirasi banyak orang.
Baca juga: 770 Siswa SD Muhammadiyah 1 Ponorogo Ikut Pondok Ramadhan
Muslimah Hafsari lahir di Dusun Rasau, Desa Gantung, Belitung Timur, pada 27 Februari 1952. la merupakan putri pasangan KA Abdul Hamid dan Salma Syarif, anak keempat dari tujuh bersaudara.
Bersama suaminya, Hazali Ali, seorang pegawai PN Timah, la dikaruniai tiga orang anak. Bu Muslimah dikenal sebagai guru pertama film Laskar Pelangi dan menjadi sosok pendidik yang paling berkesan bagi murid-muridnya.
Lulus dari Sekolah Kepandaian Putri Muhammadiyah pada usia 16 tahun, Bu Muslimah mulai mengajar di SD Muhammadiyah Gantung pada tahun 1971. Sekolah tersebut merupakan sekolah yang dirintis oleh kakeknya. Pada tahun 1975 hingga 1984, ia dipercaya menjadi Kepala SD Muhammadiyah Gantung.
Di masa awal pengabdiannya, Bu Muslimah hanya menerima gaji sekitar Rp 7.000 per bulan, bahkan terkadang tidak menerima gaji sama sekali. Meski demikian, la tetap mengajar dengan penuh ketulusan.
Saat berusia 17 tahun, ia bahkan tetap datang ke sekolah di tengah hujan deras dengan berbekal pelepah daun pisang sebagai pelindung. Setibanya di sekolah, ia menenangkan murid-murid yang ketakutan karena bangunan nyaris roboh, lalu memulai pelajaran setelah hujan reda.
Dari pengabdiannya, Bu Muslimah mengajarkan bahwa kemiskinan dan keterbatasan bukan penghalang untuk belajar dan meraih prestasi.
Baca juga: Muhadjir Effendy Dikukuhkan Sebagai Guru Besar di Universitas Negeri Malang
Pada tahun 1986, Bu Muslimah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil dan mengajar di SD Negeri 1 Lintang, kemudian melanjutkan pengabdiannya di SD Negeri 6 Gantung hingga pensiun pada tahun 2012.
Setelah pensiun, ia tetap mengajar anak-anak yang kesulitan belajar, termasuk anak berkebutuhan khusus, di rumahnya. Baginya, menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hidup.
Pada tahun 2008, Bu Muslimah menerima penghargaan Satya Lencana Pendidikan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas dedikasi dan pengabdiannya di dunia pendidikan. Penghargaan tersebut diberikan berkat ketulusannya mendidik anak-anak di tengah berbagai keterbatasan.
Meski mengaku merasa penghargaan itu terlalu besar untuk dirinya, Bu Muslimah berharap kisah dan pengabdiannya dapat menjadi inspirasi bagi para guru untuk terus memberikan yang terbaik bagi peserta didik.
Baca juga: Pembentukan Direktorat Tindak Pidana Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang
Warisan terbesar Bu Muslimah bukan sekadar kisah dalam Laskar Pelangi, tetapi semangat bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan setiap guru mampu mengubah masa depan.
Kini, Bu Muslimah telah berpulang. Dia meninggal dunia pada Sabtu, 27 Juni 2026 dini hari pada usia 74 tahun.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin. (*)
Editor : S. Anwar