Siapa yang tidak kenal dengan Gen Halilintar? Keluarga fenomenal yang sukses menembus panggung digital internasional ini selalu berhasil mencuri perhatian publik. Namun, jika kita melihat ketangguhan, mental baja, dan kelihaian berbisnis yang dimiliki oleh sang kepala keluarga, Halilintar Anofial Asmid, semua itu ternyata bukanlah sesuatu yang instan.
Ada filosofi mendalam dan garis keturunan perantau tangguh yang mengalir di darahnya. Pria kelahiran pada 13 Oktober 1968 ini merupakan representasi nyata dari petuah Minang: "Karakah laluan ladiang, tabujia lalu tabalintang patah"—sebuah gambaran mentalitas pantang menyerah demi mencapai tujuan.
Baca juga: Ketua Umum IMI Mendukung Atta Halilintar dan Fitra Eri Ramaikan Blackstone Live Modz Challenge 2023
Lantas, dari mana sebenarnya asal-usul ketangguhan sang nakhoda Gen Halilintar ini? Yuk, kita ulas lebih dalam!
Akar Kuat dari Ranah Minang : Singgasana Para Perantau Tangguh
Darah Agam mengalir sangat kental dalam tubuh Halilintar Anofial Asmid. Ayahnya, Asmid bin Datuk Syamsuddin Malako Kayo, merupakan putra asli Padang Tarok, Baso, Kabupaten Agam. Sementara sang ibu, Nurdini binti Zainuddin, berasal dari IV Angkek, sebuah wilayah di Kabupaten Agam yang sejak dahulu kala terkenal sebagai gudangnya para saudagar, ulama, dan intelektual Minangkabau.
Ketangguhan Halilintar dibentuk dari lingkungan keluarga yang mengutamakan pendidikan dan kerja keras. Sang ayah merupakan sosok mandiri yang berhasil meniti karier di Accounting Department Caltex, sebuah perusahaan minyak multinasional terkemuka.
Sementara ibunya bukanlah wanita sembarangan. Di zamannya, sang ibu berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dan lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), Padang. Kombinasi kedisiplinan seorang akuntan dan kecerdasan seorang dokter inilah yang membentuk karakter Halilintar sejak kecil.
Tradisi Merantau : Menembus Batas dari Dumai hingga Prancis
Kisah hidup Halilintar adalah cerminan dari budaya merantau khas orang Minangkabau. Setelah kedua orang tuanya menikah di Kota Padang, mereka memilih meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke Dumai, Riau. Di kota pelabuhan inilah Halilintar tumbuh dan menyerap energi perjuangan orang tuanya.
Mental merantau ini pula yang membawanya menginjakkan kaki di ibu kota untuk menempuh pendidikan di jurusan Teknik Elektro Universitas Indonesia (UI) pada angkatan 1987.
Namun, insting bisnis dan darah pengelana Minang yang mengalir di tubuhnya menolak untuk membuat Halilintar berdiam diri di zona nyaman. Alih-alih menjadi pegawai kantoran, ia memilih melintasi batas negara. Hebatnya, Halilintar sukses merambah pasar Eropa dengan mendirikan usaha butik dan kafe bergengsi di Prancis, serta mengelola peternakan kambing skala besar di Australia.
Warisan Mental Juang untuk 11 Anak
Ketangguhan berdarah Agam inilah yang kini ia turunkan penuh kepada sebelas anaknya. Didampingi sang istri, Lenggogeni Faruk, Halilintar mempraktikkan gaya mendidik yang unik: menjadikan perjalanan bisnis ke lebih dari 100 negara di lima benua sebagai "laboratorium hidup" bagi anak-anaknya.
Maka tidak heran, jika hari ini kita melihat Atta Halilintar, Thariq Halilintar, dan saudara-saudaranya memiliki mental bisnis yang luar biasa mandiri di usia muda. Semua itu bermula dari akar yang kuat, tradisi merantau yang dirawat, dan darah Agam yang pantang surut selangkah pun sebelum sukses digenggam. (*)
*) Source : Nasrul Koto PSU
Editor : Bambang Harianto