FORE Coffee rela mengeluarkan biaya Rp 91 miliar untuk gaji dan training karyawan karena mereka tahu kualitas operasional, customer experience, dan konsistensi layanan adalah fondasi yang bikin profit naik 60%, sementara banyak bisnis justru sibuk menekan biaya di tempat yang salah.
Fore Coffee dibawa kelola PT Fore Kopi Indonesia Tbk melakukan ekspansi gila-gilaan, tapi cash flow-nya sehat walafiat. Pada Q1 (Kuartal 1) tahun 2026, omzet Fore Coffee mencapai Rp 444 miliar, naik 52%. Laba bersih naik 60% jadi Rp 9,4 miliar. Cash flow sehat. Secara angka ini bukan sekadar tumbuh, ini ekspansi yang terkelola.
338 gerai aktif, konsistensi kualitas dijaga dari satu kota ke kota lain. Banyak bisnis food and beverage (F&B) gagal tepat disini saat ekspansi. Fore Coffee tidak. Dan ada alasan konkret kenapa.
Diskon dan Influencer Bukan Pengeluaran Paling Gila di Fore Coffee
Lihat campaign Fore Coffee, BA kelas dunia, kompetisi barista yang ditonton 300.000+ orang, subsidi promo customer sampai Rp 75 miliar dalam satu kuartal. Wajar kalau orang pikir marketing adalah pos pengeluaran terbesar mereka.
Ternyata kita salah besar. Cost terbesar Fore Coffee bukan marketing, bukan sewa gerai, angka terbesar itu ada di satu pos yang banyak bisnis justru berusaha menekan semaksimal mungkin.
FORE Tidak Anggap Karyawan Sebagai Beban Operasional
Cost paling besar Fore Coffee dalam satu kuartal adalah gaji karyawan : Rp 91 miliar. Bukan beban yang ingin mereka tekan, ini adalah pilihan yang disadari sepenuhnya. Karena mereka tahu persis kenapa angka ini harus dijaga.
Setiap barista Fore Coffee melewati pelatihan intensif 2 minggu plus on-the-job training 3 bulan. Bahkan, mereka menggandeng Mikael Jasin, World Barista Champion 2024 untuk menjaga standar operasional.
FORE Buktikan SDM Mahal Bisa Jadi Mesin Profit
Pilihan investasi sumber daya manusia (SDM) besar itu terbukti. Laba FORE Q1 2026 naik 60,47% year-on-year. Sepanjang 2025, laba bersih FORE mencapai Rp 90,13 miliar naik 55�ri tahun sebelumnya, di atas target rata-rata industri.
Initial Public Offering (IPO) mereka di April 2025 pun direspons pasar dengan oversubscription 200,63 kali, sinyal bahwa investor percaya pada model bisnis yang menempatkan SDM sebagai investasi, bukan semata-mata pengeluaran.
Brand FNB Hancur Bukan Karena Kopinya Tapi Manusianya
Bahan baku bisa distandarisasi. Resep bisa dikunci. Tapi pelayanan yang jelek, standar operasional prosedur (SOP) yang dilanggar, kualitas yang tidak konsisten dari satu gerai ke gerai lain itu semua ditentukan oleh manusia yang mengeksekusinya setiap hari.
Fore Coffee memilih bayar mahal di depan lewat training ketat dan gaji kompetitif. Hasilnya, mereka tidak perlu bayar lebih mahal belakangan untuk tambal reputasi dan ganti pelanggan yang kabur.
Bisnis Modern Mulai Buang Kerjaan Repetitif dari Timnya
Fore Coffee tahu persis di mana harus menempatkan manusianya dan di mana yang tidak perlu. Bisnis yang sudah switch ke Al Automation Agent melakukan hal yang sama, membebaskan tim dari pekerjaan repetitif, supaya energi manusianya bisa fokus ke hal yang benar-benar menciptakan nilai bagi pelanggan.
Kerjaan Repetitif Diam Diam Sedang Bakar Energi Tim
Setiap hari tim anda menghabiskan jam kerjanya untuk menjawab pertanyaan yang sama, follow-up yang berulang, dan leads yang akhirnya menguap karena respons lambat. Energi terbaik mereka terpakai habis untuk hal yang tidak butuh manusia.
Di sinilah Malika Al (artificial inteligence) masuk mengambil alih bagian yang menguras tim. Customer Service Al yang bekerja 24/7 sesuai alur bisnis, supaya manusianya fokus ke hal yang benar-benar menciptakan nilai. (*)
Editor : Bambang Harianto