Presiden ke 3 Republik Indonesia, Bachruddin Jusuf (BJ) Habibie merupakan seorang Insinyur, Profesor/Ilmuwan, Negarawan hingga sekaligus penemu teori Crack Pesawat dan Pendiri PT Dirgantara Indonesia.
Bacharuddin Jusuf Habibie (25 Juni 1936 – 11 September 2019) adalah Presiden Indonesia ketiga yang menjabat sejak tahun 1998 hingga 1999, menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia ketujuh.
Baca juga: Prospek Gerakan Gibran Jadi Wapres 2 Periode
Sebelum memasuki dunia politik, BJ Habibie dikenal luas sebagai seorang profesor dan ilmuwan dalam teknologi aviasi internasional dan satu-satunya presiden Indonesia hingga saat ini yang berlatarbelakang teknokrat.
BJ Habibie kemudian digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) hasil Pemilu 1999. Dengan menjabat selama 2 bulan dan 7 hari (sebagai Wakil Presiden) dan juga selama 1 tahun dan 5 bulan (sebagai Presiden), B. J. Habibie merupakan Wakil Presiden dan juga Presiden Indonesia dengan masa jabatan terpendek.
BJ Habibie merupakan presiden Indonesia pertama yang terlahir di luar Jawa, tepatnya di Parepare, Sulawesi Selatan. Ia berasal dari etnis Bugis-Gorontalo dari garis keturunan ayahnya yang berasal dari Kabila, Gorontalo dan etnis Jawa dari ibunya yang berasal dari Yogyakarta.
Pada tahun 2019, Pemerintah Provinsi Gorontalo mulai mewacanakan pengusulan BJ Habibie sebagai kandidat Pahlawan Nasional dari Gorontalo. Usulan tersebut dikaitkan dengan kontribusi Habibie secara global dan nasional melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perannya dalam masa transisi politik, perbaikan krisis ekonomi, demokrasi dan kebebasan pers.
Dalam perkembangannya, usulan ini mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat, termasuk organisasi politik, organisasi keagamaan, serta banyak dukungan lintas Pemerintah Daerah. Pada tahun 2025, melalui Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa usulan gelar Pahlawan Nasional bagi Habibie mulai diproses Pemerintah untuk ditindaklanjuti secara resmi.
1. Keluarga
A. Kehidupan awal
Bacharuddin Jusuf Habibie (B. J. Habibie) merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Ayahnya yang berprofesi sebagai ahli pertanian yang berasal dari etnis Bugis-Gorontalo, sedangkan ibunya berasal dari etnis Jawa.
Menurut wawancara pribadinya bersama Jawa Pos pada tahun 2016, kedua orangtuanya terpaksa meninggalkan keluarga besar mereka karena masalah perbedaan budaya. Alwi, yang merupakan orang Bugis-Gorontalo, tidak diterima oleh keluarga Tuti yang berasal dari ningrat Jogjakarta, demikian pula sebaliknya. Dalam wawancara tersebut, Habibie menjelaskan bahwa keluarganya mempertahankan kebiasaan menikah di dalam keluarga untuk menjaga kepemilikan tanah atau harta. Ini dilakukan agar tidak ada perebutan harta atau tanah oleh pihak luar.
Alwi Abdul Jalil Habibie (ayah dari B.J. Habibie) memiliki marga "Habibie", salah satu marga asli dalam struktur sosial Pohala'a (Kerajaan dan Kekeluargaan) di Gorontalo. Sementara itu, R.A. Tuti Marini Puspowardojo (ibu dari B.J. Habibie) merupakan anak seorang dokter spesialis mata di Yogyakarta dan ayahnya yang bernama Puspowardjojo bertugas sebagai pemilik sekolah.
Marga Habibie dicatat secara historis berasal dari wilayah Kabila, sebuah daerah di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Garis keturunannya dimulai dari Lamakasa, seorang Bugis yang menetap di Gorontalo dan menikahi seorang wanita lokal bernama Hawaria. Mereka memiliki beberapa anak, salah satunya adalah Habibie. Alwi Abdul Jalil Habibie, lahir pada tahun 1908, adalah keturunan dari Lamakasa.
Dari silsilah keluarga, kakek dari B.J. Habibie merupakan seorang pemuka agama, anggota majelis peradilan agama, serta salah satu pemangku adat Gorontalo yang tersohor pada saat itu. Keluarga besar Habibie di Gorontalo terkenal gemar beternak sapi, memiliki kuda dalam jumlah yang banyak, serta memiliki perkebunan kopi.
B. Pernikahan
Perkenalan keduanya bermula sejak masih remaja, ketika keduanya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama hingga berlanjut ketika bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kristen Dago Bandung, Jawa Barat. Komunikasi mereka akhirnya terputus setelah Habibie melanjutkan kuliah dan bekerja di Jerman Barat, sementara Ainun tetap di Indonesia dan berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
BJ Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962 di Rangga Malela, Bandung. Akad nikah Habibie dan Ainun digelar secara adat dan budaya Jawa, sedangkan resepsi pernikahan digelar keesokan harinya dengan adat dan budaya Gorontalo di Hotel Preanger.
Ketika menikah dengan Habibie, Ainun dihadapkan dengan dua pilihan, memilih untuk tetap bekerja di rumah sakit anak-anak di Hamburg atau berperan serta berkarya di belakang layar sebagai istri dan ibu rumah tangga.
Dari pernikahan keduanya, Habibie dan Ainun dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.
C. Gelar Adat
Dalam ingatan masyarakat Gorontalo, Habibie telah menerima gelar adat tertinggi dari persekutuan 5 Kerajaan Adat Gorontalo.
Gelar adat tertinggi ini jarang diberikan kepada seseorang kecuali memiliki karya pengabdian yang tinggi kepada tanah leluhur, agama, bangsa, dan negara, yaitu:
Gelar adat Pulanga, "Ti Tilango Lo Madala" yang berarti Sang Cahaya Negeri
Gelar adat Gara'i, "Ta Lopo Lolade Tilango" yang berarti Sang pemberi Cahaya dengan ilmu yang dimilikinya"
2. Pekerjaan dan Karir
Habibie pernah bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman Barat. Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan Presiden Soeharto untuk bekerja di dalam pemerintahan. Ia tiba di Indonesia pada tanggal 14 Desember 1973. Pekerjaan pertama yang diberikan kepadanya ialah sebagai Kepala Divisi Teknologi Maju dan Teknologi Penerbangan di Pertamina. Jabatannya merupakan bagian dari Departemen Pertambangan dan Energi. Masa jabatannya hanya berlangsung singkat.
BJ Habibie kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sejak tahun 1978 sampai Maret 1998. Gebrakan B. J. Habibie saat menjabat Menristek diawalinya dengan keinginannya untuk mengimplementasikan "Visi Indonesia". Menurut Habibie, lompatan-lompatan Indonesia dalam "Visi Indonesia" bertumpu pada riset dan teknologi, khususnya pula dalam industri strategis yang dikelola oleh PT IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara), PT Pindad, dan PT PAL. Targetnya, Indonesia sebagai negara agraris dapat melompat langsung menjadi negara industri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sementara itu, ketika menjabat sebagai Menristek, Habibie juga terpilih sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang pertama. Habibie terpilih secara aklamasi menjadi Ketua ICMI pada tanggal 7 Desember 1990.
Puncak karier Habibie terjadi pada tahun 1998, di mana saat itu ia diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia (21 Mei 1998 - 20 Oktober 1999), setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden ke-7 (menjabat sejak 14 Maret 1998 hingga 21 Mei 1998) dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto.
3. Masa Kepresidenan
Habibie mewarisi kondisi keadaan negara kacau balau pasca pengunduran diri Soeharto pada masa Orde Baru sehingga menimbulkan maraknya kerusuhan dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Segera setelah memperoleh kekuasaan, Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet.
Salah satu tugas pentingnya adalah kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi. Dia juga membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.
Pada era pemerintahannya yang singkat, BJ Habibie berhasil memberikan landasan kokoh bagi Indonesia. Pada eranya, dilahirkan Undang Undang Anti-Monopoli atau Undang Undang (UU) Persaingan Sehat, perubahan Undang Undang Partai Politik, dan yang paling penting adalah Undang Undang Otonomi Daerah. Melalui penerapan Undang Undang Otonomi Daerah inilah gejolak disintegrasi yang diwarisi sejak era Orde Baru berhasil diredam dan akhirnya dituntaskan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tanpa adanya Undang Undang Otonomi Daerah, bisa dipastikan Indonesia akan mengalami nasib sama seperti Uni Soviet dan Yugoslavia.
Pengangkatan BJ Habibie sebagai Presiden menimbulkan berbagai macam kontroversi bagi masyarakat Indonesia. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional. Hal itu sesuai dengan ketentuan pasal 8 Undang Undang Dasar (UUD) 1945 yang menyebutkan bahwa "bila Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya".
Sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa pengangkatan B.J. Habibie dianggap tidak konstitusional. Hal ini bertentangan dengan ketentuan Pasal 9 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa "Sebelum presiden memangku jabatan, maka presiden harus mengucapkan sumpah atau janji di depan MPR atau DPR".
A. Kebijakan Politik
Langkah-langkah yang dilakukan B.J. Habibie di bidang politik adalah :
- Memberi kebebasan pada rakyat untuk menyalurkan aspirasinya sehingga banyak bermunculan partai-partai politik baru yakni sebanyak 48 partai politik.
- Membebaskan narapidana politik (napol) seperti Sri Bintang Pamungkas (mantan anggota DPR yang masuk penjara karena mengkritik Presiden Soeharto) dan Muchtar Pakpahan (pemimpin buruh yang dijatuhi hukuman karena dituduh memicu kerusuhan di Medan tahun 1994).
- Mencabut larangan berdirinya serikat-serikat buruh independen.
- Membentuk tiga undang-undang yang demokratis, yaitu :
- Undang Undang nomor 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik.
- Undang Undang nomor 3 Tahun 1999 tentang Pemilu.
- Undang Undang nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan Kedudukan MPR/ DPR.
Menetapkan 12 Ketetapan MPR dan ada 4 ketetapan yang mencerminkan jawaban dari tuntutan reformasi, yaitu :
Tap MPR nomor VIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Tap nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum.
Tap MPR nomor XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Tap MPR nomor II/MPR/1978 tentang Pancasila Sebagai Asas Tunggal.
Tap MPR nomor XII/MPR/1998 tentang Pencabutan Tap MPR nomor V/MPR/1978 tentang Presiden mendapat mandat dari MPR untuk memiliki hak-hak dan kebijakan di luar batas perundang-undangan.
Tap MPR nomor XIII/MPR/1998 tentang Pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil Presiden maksimal hanya dua kali periode.
- 12 Ketetapan MPR antara lain :
Tap MPR nomor X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi pembangunan dalam rangka penyelamatan dan normalisasi kehidupan nasional sebagai haluan negara.
Tap MPR nomor XI/MPR/1998, tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Tap MPR nomor XIII/MPR/1998, tentang pembatasan masa jabatan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia.
Tap MPR nomor XV/MPR/1998, tentang penyelenggaraan Otonomi daerah
Tap MPR nomor XVI/MPR/1998, tentang politik ekonomi dalam rangka demokrasi ekonomi.
Tap MPR nomor XVII/MPR/1998, tentang Hak Asasi Manusia (HAM).
Tap MPR nomor VII/MPR/1998, tentang perubahan dan tambahan atas Tap MPR nomor I/MPR/1998 tentang peraturan tata tertib MPR.
Tap MPR nomor XIV/MPR/1998, tentang Pemilihan Umum.
Tap MPR nomor III/V/MPR/1998, tentang referendum.
Tap MPR nomor IX/MPR/1998, tentang GBHN (Garis Besar Halauan Negara).
Tap MPR nomor XII/MPR/1998, tentang pemberian tugas dan wewenang khusus kepada Presiden/mandataris MPR dalam rangka menyukseskan dan pengamanan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila
Tap MPR nomor XVIII/MPR/1998, tentang pencabutan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).
B. Kebijakan Ekonomi
Di bidang ekonomi, ia berhasil memotong nilai tukar rupiah terhadap dollar masih berkisar antara Rp 10.000 – Rp 15.000. Namun pada akhir pemerintahannya, terutama setelah pertanggungjawabannya ditolak MPR, nilai tukar rupiah meroket naik pada level Rp 6.500 per dolar AS nilai yang tidak akan pernah dicapai lagi pada era pemerintahan selanjutnya.
Selain itu, ia juga memulai menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi perekonomian. Untuk menyelesaikan krisis moneter dan perbaikan ekonomi Indonesia, BJ Habibie melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
- Melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui pembentukan BPPN dan unit Pengelola Aset Negara.
- Melikuidasi beberapa bank yang bermasalah.
- Menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga di bawah Rp 10.000..
- Membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang luar negeri.
- Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF (International Monetary Fund).
- Mengesahkan Undang Undang nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan yang Tidak Sehat.
- Mengesahkan Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
C. Akhir Jabatan
Menurut pihak oposisi, salah satu kesalahan terbesar yang ia lakukan saat menjabat sebagai Presiden ialah memperbolehkan diadakannya referendum provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste). Ia mengajukan hal yang cukup menggemparkan publik saat itu, yaitu mengadakan jajak pendapat bagi warga Timor Timur untuk memilih merdeka atau masih tetap menjadi bagian dari Indonesia. Pada masa kepresidenannya, Provinsi Timor Timur memperoleh kemerdekaan dari Indonesia dan memilih menjadi negara terpisah yang berdaulat bernama Timor Leste pada Agustus 1999. Pemisahan diumumkan pada tanggal 30 Agustus 1999.
Karena sejak awal Timor Timur bagi BJ Habibie adalah bekas jajahan Portugis tidak seperti wilayah lain yang merupakan bagian dari Hindia Belanda, selain itu invasi terhadap Timor Timur pada tahun 1975 dengan alasan untuk membendung pengaruh komunisme atas saran Amerika Serikat kepada Soeharto dianggap sebuah kesalahan.
Kasus inilah yang mendorong pihak oposisi yang tidak puas dengan latar belakang Habibie semakin giat menjatuhkannya. Ketika BJ Habibie menjadi salah satu kandidat dalam pencalonan dan pemilihan presiden oleh MPR pada tahun 1999, pencalonannya ditentang oleh sebagian besar anggota DPR.
Dirinya ditentang karena dianggap masih merupakan bagian dari rezim Orde Baru. Penentangan ini datang dari anggota DPR dari partai pengusungnya yaitu Partai Golongan Karya, dan dari anggota DPR lainnya. Kondisi ini juga membuat laporan pertanggung jawaban Habibie sebagai presiden mengalami penolakan pada Sidang Umum MPR tahun 1999. Karena penolakan ini, Habibie mengundurkan diri dari pencalonannya sebagai presiden.
Pandangan terhadap pemerintahan Habibie pada era awal reformasi cenderung bersifat negatif, tetapi sejalan dengan perkembangan waktu banyak yang menilai positif pemerintahan Habibie. Salah satu pandangan positif itu dikemukakan oleh L. Misbah Hidayat dalam bukunya Reformasi Administrasi: Kajian Komparatif Pemerintahan Tiga Presiden.
"Visi, misi dan kepemimpinan presiden Habibie dalam menjalankan agenda reformasi memang tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidupnya. Setiap keputusan yang diambil didasarkan pada faktor-faktor yang bisa diukur. Maka tidak heran tiap kebijakan yang diambil kadangkala membuat orang terkaget-kaget dan tidak mengerti. Bahkan sebagian kalangan menganggap Habibie apolitis dan tidak berperasaan. Pola kepemimpinan Habibie seperti itu dapat dimaklumi mengingat latar belakang pendidikannya sebagai doktor di bidang konstruksi pesawat terbang. Berkaitan dengan semangat demokratisasi, Habibie telah melakukan perubahan dengan membangun pemerintahan yang transparan dan dialogis. Prinsip demokrasi juga diterapkan dalam kebijakan ekonomi yang disertai penegakan hukum dan ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Dalam mengelola kegiatan kabinet sehari-haripun, Habibie melakukan perubahan besar. Ia meningkatkan koordinasi dan menghapus egosentisme sekotral antarmenteri. Selain itu sejumlah kreativitas mewarnai gaya kepemimpinan Habibie dalam menangani masalah bangsa. Untuk mengatasi persoalan ekonomi, misalnya, ia mengangkat pengusaha menjadi utusan khusus. Dan pengusaha itu sendiri yang menanggung biayanya. Tugas tersebut sangat penting, karena salah satu kelemahan pemerintah adalah kurang menjelaskan keadaan Indonesia yang sesungguhnya pada masyarakat internasional. Sementara itu pers, khususnya pers asing, terkesan hanya mengekspos berita-berita negatif tentang Indonesia sehingga tidak seimbang dalam pemberitaan."
4. Pasca Kepresidenan
Setelah ia tidak menjabat lagi sebagai presiden, BJ Habibie sempat tinggal dan menetap di Jerman. Namun, ketika era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, ia kembali aktif sebagai penasihat presiden untuk mengawal proses demokratisasi di Indonesia lewat organisasi yang didirikannya Habibie Center dan akhirnya menetap dan berdomisili di Indonesia.
Kontribusi besar Habibie bagi bangsa ini pun tetap tercurahkan ketika masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Habibie aktif memberikan masukan dan gagasan pembangunan bagi pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. Kesibukan lain dari BJ Habibie adalah mengurusi industri pesawat terbang yang sedang dikembangkannya di Batam. Habibie menjabat sebagai Komisaris Utama dari PT Regio Aviasi Industri, sebuah perusahaan perancang pesawat terbang R-80 dan kemudian menyerahkan pucuk pimpinan perusahaan tersebut kepada anaknya, Ilham Habibie.
5. Mr. Crack
BJ Habibie mendapatkan julukan "Mr. Crack" berkat penemuannya yang sangat revolusioner di dunia penerbangan, yaitu Teori Crack Progression (Teori Rambatan Retak), yang sering juga disebut sebagai "Faktor Habibie" atau "Teorema Habibie".
Pada awal era pesawat jet komersial (sekitar tahun 1960-an), dunia penerbangan menghadapi masalah besar. Banyak pesawat jet—seperti de Havilland Comet—yang tiba-tiba meledak atau hancur di udara tanpa penyebab yang jelas.
Setelah diselidiki, penyebab utamanya adalah metal fatigue (kelelahan logam). Pesawat terus-menerus mengalami perubahan tekanan ekstrem saat lepas landas, terbang di ketinggian (di mana kabin harus diberi tekanan udara), dan mendarat, ditambah dengan turbulensi di udara. Tekanan terus-menerus ini memicu retakan mikro (sangat kecil dan tak kasat mata) pada bodi pesawat.
Lama-kelamaan, retakan ini merambat dengan cepat dan membelah badan pesawat. Pada masa itu, insinyur penerbangan di seluruh dunia kebingungan karena mereka tidak punya cara pasti untuk memprediksi kapan dan di mana retakan ini akan muncul.
Saat bekerja di perusahaan penerbangan Jerman, Hamburger Flugzeugbau (yang kemudian menjadi Messerschmitt-Bölkow-Blohm atau MBB) pada pertengahan 1960-an, BJ Habibie yang saat itu masih berusia akhir 20-an tertantang untuk memecahkan masalah ini.
Pendekatan Habibie sangat unik dan melampaui zamannya. Alih-alih hanya mengamati struktur logam secara makro dari luar, Habibie membedahnya hingga ke tingkat atom. BJ Habibie menggabungkan ilmu termodinamika, aerodinamika, dan konstruksi. Habibie berhasil merumuskan perhitungan matematis yang sangat rinci untuk melihat bagaimana atom-atom dalam logam penyusun pesawat bereaksi terhadap tekanan, di titik mana ikatan antaratom itu akan putus pertama kali, dan seberapa cepat retakan tersebut akan menjalar.
Secara sederhana, Teori Habibie memungkinkan para insinyur untuk menghitung dengan sangat presisi :
- Titik Awal Retak (Initial Crack): Menentukan titik koordinat spesifik di mana retakan pertama kali akan muncul pada rangka pesawat.
- Kecepatan Rambat (Crack Propagation): Menghitung seberapa cepat retakan itu akan memanjang (dalam hitungan milimeter) seiring dengan bertambahnya jam terbang pesawat.
Penemuan ini langsung mengubah standar industri penerbangan global karena manfaatnya yang sangat nyata dan terukur :
- Keselamatan yang Presisi: Maskapai dan mekanik tidak lagi menebak-nebak. Mereka tahu persis bagian mana yang harus diperiksa secara rutin menggunakan pemindai khusus (seperti X-Ray pesawat) dan kapan sebuah komponen wajib diganti sebelum retakan mencapai batas kritis yang menyebabkan pesawat hancur.
- Pesawat Menjadi Lebih Ringan dan Efisien: Sebelum ada Teori Habibie, pabrikan pesawat mengakalinya dengan mempertebal seluruh material bodi pesawat agar lebih kuat. Akibatnya pesawat menjadi sangat berat, lambat, dan boros bahan bakar. Dengan rumusan Habibie, insinyur bisa membuat pesawat dengan material yang jauh lebih tipis dan ringan, tetapi memperkuatnya hanya pada titik-titik yang diprediksi rawan retak.
- Standar Maintenance: Rumus ini menjadi dasar penentuan jadwal perawatan (maintenance) rutin semua pesawat modern.
Karena rumusnya sangat akurat dan terbukti menyelamatkan banyak nyawa, Teori Rambatan Retak ini langsung diadopsi oleh pabrikan pesawat terbesar di dunia, termasuk Boeing (Amerika Serikat) dan Airbus (Eropa), serta diakui oleh otoritas penerbangan internasional.
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi dari komunitas kedirgantaraan global atas kemampuannya "menjinakkan" dan memprediksi titik retak (crack), Bacharuddin Jusuf Habibie pun secara luas dijuluki "Mr. Crack".
6. Tingkat IQ dan EQ
BJ Habibie adalah salah satu contoh langka dari seorang tokoh dunia yang memiliki kombinasi luar biasa antara Intelligence Quotient (IQ) tingkat jenius dan Emotional Quotient (EQ) yang sangat matang. Banyak ilmuwan besar dalam sejarah memiliki kecerdasan logika yang ekstrem, namun sering kali mengorbankan keterampilan sosial dan emosional mereka.
Sering beredar klaim di media populer bahwa Habibie memiliki skor IQ 200, yang secara teoretis melampaui Albert Einstein (sekitar 160). Secara faktual, tidak ada catatan tes psikometri resmi yang pernah dipublikasikan untuk mengonfirmasi angka 200 tersebut.
Namun, tanpa angka pasti pun, kapasitas intelektualnya tidak diragukan lagi oleh dunia. Ia lulus summa cum laude dari RWTH Aachen di Jerman, memegang puluhan hak paten kedirgantaraan, dan menemukan "Teori Crack" (Faktor Habibie) yang memecahkan masalah keretakan pada sayap pesawat—sebuah teori yang masih menjadi standar keamanan penerbangan global hingga hari ini.
Namun, tingkat EQ Habibie terbilang istimewa karena mempunyai prosentase cukup tinggi terutama dalam hal membina hubungan keluarga di kala mayoritas orang-orang cerdas dan ilmuwan lain tidak begitu pandai dalam urusan asmara. Di sinilah Habibie benar-benar menonjol.
BJ Habibie memiliki tingkat kecerdasan emosional yang sering kali absen pada diri banyak ilmuwan besar:
- Empati dan Kedalaman Rasa: Kesetiaan dan cintanya pada mendiang istri, Hasri Ainun Besari, menjadi teladan nasional. Ia tidak malu menunjukkan kerentanan, menangis, dan mengekspresikan rasa kehilangannya secara terbuka—sebuah tanda kematangan emosional yang tinggi.
- Kepemimpinan di Masa Krisis: Saat mengambil alih kursi kepresidenan pada Mei 1998 di tengah kerusuhan dan krisis ekonomi, ia tidak merespons dengan tangan besi. Berbekal EQ yang tinggi, ia mampu menahan ego, membuka keran kebebasan pers, membebaskan tahanan politik, dan menavigasi transisi demokrasi Indonesia dengan sangat damai dalam waktu singkat.
7. Kisah Asmara dan Definisi Pria Sejati
Kisah cinta Bacharuddin Jusuf Habibie dan Hasri Ainun Besari sering kali dianggap sebagai epik romansa modern Indonesia. Hubungan mereka bukan sekadar narasi tentang dua orang yang saling jatuh cinta, melainkan sebuah manuskrip tentang pengorbanan, kesetiaan, dan kemitraan seumur hidup.
Kisah mereka berawal dari masa remaja di Bandung. Saat itu, Habibie yang bersekolah di SMA yang sama dengan Ainun, kerap menjulukinya "gula jawa" karena kulitnya yang gelap dan manis. Mereka tidak langsung menjalin asmara. Habibie kemudian berangkat ke Jerman untuk mengejar pendidikannya dalam kondisi yang sangat penuh perjuangan.
Ketika Habibie pulang ke Indonesia beberapa tahun kemudian, ia kembali bertemu Ainun dan terkesima melihat perubahannya, menyebutnya telah berubah menjadi "gula pasir". Mereka menikah pada tahun 1962 dan Ainun diboyong ke Jerman. Di sinilah letak ujian cinta mereka yang sesungguhnya.
Ainun, yang merupakan seorang dokter berprestasi, rela menanggalkan karier medisnya demi mendampingi Habibie yang saat itu masih berjuang merintis karier dengan finansial yang sangat pas-pasan. Ainun mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak mereka sendiri agar Habibie bisa fokus pada studinya. Habibie sangat menyadari bahwa semua pencapaian intelektual dan kariernya tidak akan pernah terjadi tanpa fondasi kokoh yang dibangun Ainun di rumah.
Pada tahun 2010, Ainun berpulang akibat kanker ovarium. Kehilangan Ainun adalah pukulan terberat dalam hidup Habibie, bahkan ia sempat didiagnosis mengalami Psychosomatic Malignant Grief (duka mendalam yang merusak fisik dan mental).
Baca juga: Sejarah Adam Malik Mendirikan Media Antara
Sebagai bentuk terapi, Habibie menulis buku "Habibie & Ainun". Selama sisa hidupnya, ia rutin mengunjungi makam Ainun di TMP Kalibata setiap minggu, membawa bunga mawar melati, dan mengenakan syal kesayangan hingga akhirnya ia sendiri berpulang pada tahun 2019 dan dimakamkan tepat di sebelah cinta sejatinya.
Banyak yang mendefinisikan "pria sejati" melalui kacamata maskulinitas tradisional: fisik yang kuat, kekuasaan, atau kekayaan. Namun, B.J. Habibie meredefinisi makna pria sejati melalui kecerdasan emosional dan dedikasinya pada keluarga:
A. Berani Menunjukkan Kerentanan (Vulnerability)
Seorang pria sejati tidak takut untuk menangis. Habibie tidak pernah menyembunyikan air matanya atau rasa kehilangannya. Ia membuktikan bahwa kedalaman emosi dan kemampuan untuk mencintai dengan tulus bukanlah tanda kelemahan, melainkan puncak kekuatan seorang pria. Apa yang dilakukan Habibie juga berdasarkan ajaran agamanya (Islam), bahwa pria menangis bukanlah simbol kelemahan melainkan bentuk kerentanan dan kesadaran bahwa semua makhluk tidak ada yang sempurna di hadapan Allah, Nabi Muhammad juga menangis tatkala istri pertamanya, Khadijah meninggal di saat ia berjuang menyebarkan dakwah agama dan memperbaiki moral kaumnya yang merosot.
B. Menjadikan Pasangan Sebagai Mitra Sejajar
Meski Habibie adalah seorang jenius yang diakui dunia dan pernah menjabat sebagai Presiden, ia tidak pernah menempatkan Ainun di bawahnya. Ia memposisikan Ainun sebagai "mata air" yang menyegarkan dahaganya, teman diskusi, dan penasihat utamanya. Pria sejati menghargai intelektualitas dan peran pasangannya.
C. Kesetiaan yang Mutlak dan Tidak Bersyarat
Kesetiaan Habibie bukan hanya saat Ainun muda dan sehat, tetapi hingga Ainun jatuh sakit dan bahkan setelah ia tiada. Mata dan hatinya benar-benar hanya terkunci pada satu wanita. Pria sejati adalah ia yang memegang teguh janji pernikahannya di hadapan Tuhan, melewati masa puncak kejayaan maupun jurang keterpurukan.
D. Menekan Ego demi Keluarga
Habibie memahami betul pengorbanan Ainun yang melepaskan karier dokternya. Sebagai gantinya, Habibie memberikan seluruh dedikasi hidupnya untuk membahagiakan Ainun. Pria sejati menyadari bahwa kesuksesan di luar rumah tidak ada artinya jika ia gagal menghargai dan melindungi orang-orang di dalam rumahnya.
8. Kematian
Habibie meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto pada tanggal 11 September 2019 pukul 18.05 WIB karena gagal jantung. Sebelumnya, Habibie telah menjalani perawatan intensif sejak 1 September 2019. Sehari sebelum dimakamkan, Jenazah B.J. Habibie dibawa dari RSPAD menuju ke kediaman Habibie-Ainun di Jalan Patra Kuningan XIII Blok L15/7 nomor 5, kawasan Patra Kuningan untuk disemayamkan. Ia kemudian dimakamkan di samping istrinya yaitu Hasri Ainun Besari di Taman Makam Pahlawan Kalibata slot 120 pada tanggal 12 September 2019 pukul 14.00 WIB. Upacara pemakaman dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sebagai inspektur upacara.
BJ Habibie merupakan presiden Indonesia pertama yang dikebumikan di taman makam pahlawan di ibukota Jakarta, sementara presiden Soekarno dan Abdurrahman Wahid dimakamkan di Jawa Timur sedangkan presiden Soeharto dimakamkan di Karanganyar, Jawa Tengah.
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengucapkan belasungkawa setelah Habibie meninggal dunia. Dalam akun Twitter-nya, Dia mengucapkan pernyataan dukacita kepada rakyat Indonesia atas kepergian Habibie. BJ Habibie menjabat pada periode 1998 hingga 1999, atau di periode pertama jabatan Mahathir. Kepada awak media sesuai menghadiri acara makan malam dalam perayaan 35 tahun Universitas Binary seperti dikutip The Star, Mahathir mengaku sangat sedih.
9. Penghargaan
A. Penghargaan Internasional
- Anggota Kehormatan Persatuan Insinyur Malaysia (IEM), Malaysia.
- Anggota Kehormatan Japanese Academy of Engineering, Jepang.
- Anggota Kehormatan The Fellowship of engineering of United Kingdom, Britania Raya.
- Anggota Kehormatan The National Academy of Engineering, Amerika Serikat.
- Anggota Kehormatan Academie Nationale de l'Air et de l'Espace, Perancis
- Anggota Kehormatan The Royal Aeronautical Society, Britania Raya.
- Anggota Kehormatan The Royal Swedish Academy of engineering Science, Swedia.
- Anggota Kehormatan Gesellschaft für Luft und Raumfarht (Lembaga Penerbangan & Ruang Angkasa), Jerman
- Anggota Kehormatan American Institute of Aeronautics and Astronautics, Amerika Serikat.
- Anggota Kehormatan Masyarakat Aeronautika Kerajaan Inggris (1983)
- Anggota Kehormatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa, Jerman (1983)
- Anggota Kehormatan Akademi Aeronautika Perancis (1985).
B. Tanda Kehormatan
Indonesia
Sebagai Wakil Presiden, dan kemudian presiden Indonesia, BJ Habibie secara otomatis menerima semua Tanda Kehormatan Bintang (sipil maupun militer) dengan kelas tertinggi, yaitu:
- Baris ke-1 Bintang Republik Indonesia Adipurna (27 Mei 1998), Bintang Republik Indonesia Adipradana (12 Maret 1998), Bintang Mahaputera Adipurna (12 Maret 1998).
- Baris ke-2 Bintang Mahaputera Adipradana (17 Agustus 1982), Bintang Jasa Utama (27 Mei 1998), Bintang Budaya Parama Dharma (27 Mei 1998).
- Baris ke-3 Bintang Yudha Dharma Utama (27 Mei 1998), Bintang Kartika Eka Paksi Utama (27 Mei 1998), Bintang Jalasena Utama (27 Mei 1998).
- Baris ke-4 Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama (27 Mei 1998), Bintang Bhayangkara Utama (27 Mei 1998), Satyalancana Dwidya Sistha (9 Agustus 1982).
Luar Negeri
Jerman
- Salib Agung Orde Jasa Republik Federal Jerman (11 November 1980).
- Salib Agung Kelas I Orde Jasa Republik Federal Jerman (15 Juli 1997).
- Lower Saxony :
Commander's Cross (Großes Verdienstkreuz) of the Lower Saxony Order of Merit (1 Desember 1980).
Yordania
Grand Cordon of the Order of Independence (14 April 1986).
Belanda
Kesatria Salib Agung Orde Oranye-Nassau (25 Mei 1983).
Spanyol
- Salib Agung Orde Jasa Sipil (30 Desember 1987).
- Grand Cross (White Decoration) of the Cross of Aeronautical Merit (14 May 1980).
Chile
Grand Cross of Aeronautical Merit (3 Oktober 1985).
Belgia
Grand Cross of the Order of Leopold II (10 April 1991).
Perancis
-Perwira Besar Légion d'honneur (4 Juni 1997)
-Grand Cross of the National Order of Merit (September 1986).
Italia
Baca juga: Kisah Sudharmono, Anak Yatim Piatu yang Jadi Tangan Kanan Soeharto
Knight Grand Cross of the Order of Merit of the Italian Republic (16 June 1987).
Taiwan
Grand Cordon of the Order of Brilliant Star (10 June 1994).
Jepang
Grand Cordon of the Order of the Paulownia Flowers (1998).
Brazil
Grand Cross of the Order of Southern Cross (2010).
Austria
Grand Decoration of Honour in Gold of the Decoration of Honour for Services to the Republic of Austria (1996).
C. Apresiasi dari Pemerintahan Daerah dan Luar Negeri
Tanah Leluhur dan Kampung Halaman
Gorontalo merupakan daerah asal dari keluarga besar B.J. Habibie di Sulawesi. Daerah ini begitu erat kaitannya dengan jejak historis Habibie sewaktu kecil. Adapun beberapa bentuk apresiasi pemerintah daerah di Gorontalo atas jasa dan pengabdian Habibie bagi bangsa dan negara selama ini, di antaranya adalah:
- Pemberian Gelar Adat Pulanga (sebuah gelar adat tertinggi) dari Dewan Adat dan Pemangku Adat 5 Kerajaan di Gorontalo (Limo lo Pohala'a).
- Pembangunan Monumen B.J. Habibie di wilayah Isimu, Gorontalo.
- Pembangunan dan Peresmian Rumah Sakit Provinsi dr. Ainun Habibie di Limboto.
- Usulan penggunaan nama Universitas B.J. Habibie, menggantikan nama Universitas Negeri Gorontalo.
- Usulan penggunaan nama Bandar Udara B.J. Habibie, menggantikan nama Bandar Udara Djalaluddin Gorontalo.
- Usulan Pembangunan Museum Habibie yang berlokasi di Rumah Keluarga Besar Habibie, Gorontalo.
- Penggunaan nama BJ Habibie sebagai nama ruas jalan protokol di Gorontalo.
Tanah Kelahiran
BJ Habibie dilahirkan di salah satu kota tua di Sulawesi Selatan, yaitu Kota Parepare. Kota Parepare merupakan tempat tinggal Habibie sewaktu kecil bersama kedua orang tuanya. Karena kenangannya kecil berada di kota tersebut, maka pemerintah daerah pun begitu tinggi mengapresiasi sosok Habibie sebagai tokoh kebanggaan Parepare yang diwujudkan dalam beberapa kebijakan pemerintah, di antaranya:
- Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun di Kota Parepare.
- Rumah Sakit Regional dr. Hasri Ainun Habibie di Kota Parepare.
- Penggunaan nama B.J. Habibie sebagai nama ruas jalan protokol di Kota Parepare.
Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie
- Stadion Gelora B. J. Habibie di Kota Parepare.
- Museum BJ Habibie di Kota Parepare.
- Masjid Terapung B.J. Habibie di Kota Parepare.
- Pintu Gerbang perbatasan antara Kota Parepare dan Kabupaten Barru bertuliskan nama Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie.
Luar Negeri
Nama jalan di Kota Dili, Timor Leste.
Taman dan Ponte Presidente B.J. Habibie atau Jembatan Presiden B.J. Habibie di Kota Dili, Timor Leste yang diresmikan pada 29 Agustus 2019.
11. Filmografi
- Dalam film Habibie & Ainun dan Rudy Habibie, Habibie diperankan oleh Reza Rahadian, sementara Bima Azriel berperan sebagai Habibie kecil, Esa Sigit juga berperan sebagai Habibie remaja dalam film Habibie & Ainun, dan Bastian Steel dalam film Rudy Habibie.
- Dalam film "Di Balik 98", Habibie diperankan oleh Agus Kuncoro.
- Dalam film Habibie & Ainun 3, Habibie muda diperankan kembali oleh Reza Rahadian.
12. Publikasi
A. Karya oleh Habibie
- Proceedings of the International Symposium on Aeronautical Science and Technology of Indonesia / B. J. Habibie; B. Laschka [Editors]. Indonesian Aeronautical and Astronautical Institute; Deutsche Gesellschaft für Luft- und Raumfahrt 1986.
- Eine Berechnungsmethode zum Voraussagen des Fortschritts von Rissen unter beliebigen Belastungen und Vergleiche mit entsprechenden Versuchsergebnissen, Presentasi pada Simposium DGLR di Baden-Baden,11-13 Oktober 1971.
- Beitrag zur Temperaturbeanspruchung der orthotropen Kragscheibe, Disertasi di RWTH Aachen, 1965.
- Sophisticated technologies : taking root in developing countries, International journal of technology management : IJTM. - Geneva-Aeroport : Inderscience Enterprises Ltd, 1990.
- Einführung in die finite Elementen Methode,Teil 1, Hamburger Flugzeugbau GmbH, 1968.
- Entwicklung eines Verfahrens zur Bestimmung des Rißfortschritts in Schalenstrukturen, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1970.
- Entwicklung eines Berechnungsverfahrens zur Bestimmung der Rißfortschrittsgeschwindigkeit an Schalenstrukturen aus A1-Legierungen und Titanium, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1969.
- Detik-detik Yang Menentukan – Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, 2006 (memoir mengenai peristiwa tahun 1998).
- Habibie dan Ainun, The Habibie Center Mandiri, 2009 (memoir tentang Ainun Habibie).
- Pesawat N-250 Gatot Kaca.
B. Karya mengenai Habibie
- Salam, S., 1986. BJ Habibie, Mutiara dari Timur. Intermasa.
- Anwar, D.F., 2010. The Habibie presidency: Catapulting towards reform. Soeharto’s New Order and its Legacy, p. 99.
- Amir, S., 2007. Symbolic power in a technocratic regime: The reign of BJ Habibie in New Order Indonesia. Sojourn: Journal of Social Issues in Southeast Asia, 22(1), pp. 83–106.
- Hosen, Nadirsyah, Indonesian political laws in Habibie Era : Between political struggle and law reform, Nordic journal of international law, ISSN 0029-151X, Bd. 72 (2003), 4, hal. 483-518
- Rice, Robert Charles, Indonesian approaches to technology policy during the Soeharto era : Habibie, Sumitro and others, Indonesian economic development (1990), hal. 53-66
- Makka, Makmur. A, The True Life of HABIBIE Cerita di Balik Kesuksesan, PUSTAKA IMAN, ISBN 978-979-3371-83-2, 2008.
*) Source : Indonesia Rising 2045
Editor : S. Anwar