Ranah Minangkabau tak pernah kehabisan tokoh ulama karismatik yang mendedikasikan seluruh hidupnya demi syiar Islam dan pendidikan. Salah satu mercusuar ilmu yang jejak perjuangannya terus abadi hingga hari ini adalah Syekh Ali Imran Hasan Ringan-Ringan (30 Juni 1926 – 12 April 2017), seorang ulama besar tarekat Syattariyah asal Pakandangan, Padang Pariaman.
Bagi masyarakat Sumatra Barat, namanya melekat erat dengan salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka: Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, sebuah rahim intelektual yang didirikannya pada tahun 1960 dan telah melahirkan ribuan ulama serta cendekiawan muslim.
Tumbuh dalam Dekapan Tradisi Syattariyah
Lahir di Tanjung Aur, Pakandangan pada tahun 1926, fondasi keagamaan Ali Imran kecil ditempa langsung oleh sang ayah, Syekh Hasan Tuanku Bagindo. Tumbuh di lingkungan keagamaan yang kental, ia dibesarkan dalam tradisi keilmuan Syattariyah yang kuat.
Perjalanan spiritual dan keilmuannya dipengaruhi oleh para mursyid terkemuka pada zamannya, termasuk Syekh Muhammad Amin (Buya Mato Aie) dan ulama legendaris Sumatra Barat, Syekh Kiramatullah Ungku Salih.
Mengarungi Samudra Ilmu ke Berbagai Penjuru Ranah Minang
Haus akan ilmu, Syekh Ali Imran menjalani pengembaraan intelektual yang panjang demi menuntut ilmu (rihlah ilmiah):
Tahun 1944: Memulai langkah di Padang Panjang bersama Tuanku Haji Ibrahim.
Merantau ke Luhak Limopuluah: Melanjutkan belajar kepada Syekh Syahidan Syarbaini di Mungo, Lima Puluh Kota.
Tahun 1946–1949: Menimba ilmu di bawah bimbingan Syekh Ibrahim Harun Tiakar di MTI Tiakar, Payakumbuh, sekaligus mengikuti Training College yang dipimpin oleh Syekh Nasharuddin Thaha.
Tahun 1950: Memasuki kawah candradimuka di MTI Malalo di bawah asuhan Syekh Zakaria Labai Sati. Di sana, kecerdasannya yang menonjol membuat ia dipercaya masuk di kelas 7 sekaligus mengajar santri-santri junior (anak siak). Beliau berkhidmat di Malalo selama 10 tahun penuh.
Pulang Kampung dan Berdirinya Pondok Pesantren Nurul Yaqin
Panggilan dakwah sesungguhnya tiba pada tahun 1960, saat masyarakat Pakandangan memohon agar Syekh Ali Imran pulang untuk mengajar di kampung halamannya. Atas restu dan izin dari dua ulama besar, yakni gurunya Syekh Zakaria Labai Sati dan sang pendiri PERTI Syekh Sulaiman ar-Rasuli (Inyiak Canduang), beliau pun kembali ke Pakandangan.
Tidak datang sendiri, ia memboyong beberapa pengajar andal dari MTI Malalo. Di Korong Ringan-Ringan, Pakandangan, ia mendirikan Pondok Pesantren Nurul Yaqin. Seiring berjalannya waktu, pesantren ini bertransformasi menjadi salah satu pusat pendidikan Islam tradisional (kitab kuning) terbesar dan paling berpengaruh di Padang Pariaman.
Akhir Hayat Sang Obor Umat
Setelah hampir satu abad mendedikasikan hidupnya untuk mengajar, membimbing umat, dan menjaga tradisi pesantren, Syekh Ali Imran Hasan mengembuskan napas terakhirnya pada 12 April 2017 di usia 90 tahun di kediamannya, setelah sempat dirawat di RS Islam Siti Rahmah Padang akibat gangguan pernapasan.
Meski sang ulama telah tiada, lantunan ayat suci, deru kajian kitab kuning, dan ribuan santri yang mengabdi di seluruh penjuru negeri melalui jaringan Ponpes Nurul Yaqin menjadi saksi bisu bahwa amal jariyah dan pelita ilmu Syekh Ali Imran Hasan Ringan-Ringan tidak akan pernah padam. (*)
*) Source : Nasrul Koto Ps
Editor : Bambang Harianto