Ciptakan Radar Satelit Tercanggih, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo Direkrut Jepang

Reporter : Redaksi
Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

Josaphat Tetuko Sri Sumantyo merupakan lulusan Microwave Remote Sensing, Chiba University. Meskipun sudah punya hak tinggal permanen di Jepang, Prof. Josaphat Tetuko tetap memilih jadi warga negara Indonesia (WNI). Bahkan, Tetuko Sri Sumantyo rela bolak-balik urus visa dan paspor karena buatnya, identitas itu bukan sekadar status, tapi prinsip.

Sekarang Tetuko Sri Sumantyo aktif mengajar di Chiba University dan berkontribusi di sistem pendidikan Jepang. Pemilik ratusan hak paten di bidang radar dan satelit ini karyanya sudah dimanfaatkan di berbagai negara, bahkan dilirik banyak perusahaan global.

Penasaran gimana perjalanan beliau sampai di titik ini? Simak cerita berikut ini

Dari Sebuah Nama, Lahir Sebuah Mimpi Besar

Jauh sebelum semua pencapaian itu, Tetuko Sri Sumantyo hanyalah anak kecil yang tumbuh di lingkungan keluarga penerbangan. Ayahnya seorang instruktur di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Dari situlah nama "Tetuko" disematkan, terinspirasi dari sosok Gatotkaca yang terkenal tangguh dalam peperangan dengan kemampuan terbang.

Menariknya, mimpi "terbang" itu benar-benar ia wujudkan dengan caranya sendiri. Sejak usia 5 tahun, Prof Tetuko Sri Sumantyo sudah punya mimpi besar: ingin menciptakan radar lewat tangan dan pikirannya sendiri, bahkan sempat berjanji pada sang ayah, bahwa suatu hari ia akan membuat radar orisinal untuk melindunginya.

Profil Pendidikan 

S1 : Information and Computer Engineering, Kanazawa University

S2 : Information and Computer Engineering, Kanazawa University

S3 : Microwave Remote Sensing, Chiba University.

Setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), Prof Tetuko Sri Sumantyo mendapat beasiswa Science and Technology Manpower Development Program II yang digagas B. J. Habibie. la pun berangkat ke Jepang dan mulai kuliah di Kanazawa University jurusan Teknik Komputer dan informasi, di mana sejak S1 ia sudah mengembangkan teknologi radar bawah tanah. Berbekal beasiswa Rotary International Scholarship, Prof Tetuko Sri Sumantyo melanjutkan studi di kampus dan jurusan yang sama.

Bukan Meninggalkan, Tapi Mengembangkan Potensi Lebih Jauh

Sebagai ilmuwan yang mencintai negaranya, Prof Tetuko Sri Sumantyo tentu ingin mengembangkan teknologinya di Indonesia. Namun saat itu, ekosistem riset dalam negeri masih terbatas dengan anggaran R&D (research & development) sangat jauh jika dibanding dengan Jepang yang sudah di atas 3% PDB (Produk Domestik Bruto).

Di sisi lain, Jepang menawarkan dukungan riset yang jauh lebih matang; mulai dari pendanaan besar, fasilitas laboratorium canggih, hingga kolaborasi industri yang kuat. Karena itu, Prof Tetuko Sri Sumantyo mendapat kesempatan berkembang sebagai profesor di Chiba University dan mengembangkan teknologinya hingga berdampak global.

Teknologi Itu Soal Cara Kita Memahami, Bukan Sekadar Kecanggihannya

Meski sudah dikenal sebagai ilmuwan kelas dunia, Prof Tetuko Sri Sumantyo tetap rendah hati dalam memandang teknologi. Baginya, tidak ada yang benar-benar "terlalu canggih" yang ada hanyalah perbedaan antara tahu dan belum tahu. la percaya, teknologi yang terlihat rumit sebenarnya bisa jadi sederhana, tergantung bagaimana kita memahaminya.

Soal ide, ia juga punya prinsip yang simpel tapi dalam. Menurut beliau, semua orang punya peluang untuk menciptakan sesuatu yang baru, asal mau memberi ruang untuk berpikir. Meluangkan waktu sejenak untuk merenung dan mengeksplorasi hal-hal baik adalah cara melatih otak agar terus berkembang dan melahirkan ide-ide segar.

Meski sudah memiliki segalanya; karier mapan, pengakuan dunia, dan fasilitas riset kelas atas. Prof Tetuko Sri Sumantyo tetap menyimpan satu tujuan sederhana: pulang, dan membawa ilmunya kembali untuk Indonesia.

"Jiwa saya tetap Indonesia. Mudah-mudahan umur 55 tahun saya bisa kembali dan mengabdi di Indonesia," pesan Prof. Josaphat untuk Generasi Muda.

“Perasaan terbaca dari suara. Kebiasaan hidup terlihat dari bentuk badan. Isi hati sebenarnya terlihat dari pembawaan diri. Perilaku terlihat dari raut muka. Isi hati terlihat dari tindak tanduk. Kepercayaan diri terlihat dari mata. Tekad hidup terlihat dari kesiapan diri. Cara hidup terlihat dari muka. Cara berpikir terlihat dari cita-cita,” ujar Josaphat Tetuko Sri Sumantyo. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru