Rabu dini hari, 12 Juni 2019, pukul 05.26 WIB. Di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Jenderal TNI (Purn.) George Toisutta menghembuskan nafas terakhirnya. Ia pergi di usia 66 tahun, setelah dua pekan dirawat akibat kanker usus yang menyerang tubuhnya.
Sehari sebelum wafat, Prabowo Subianto masih sempat mengunjunginya di RSPAD, mendoakan sahabat seperjuangan itu agar lekas sembuh. Tapi Allah berkehendak lain.
Baca juga: Saat Bu Tien Mengusulkan Dading Kalbuadi Jadi KASAD
Di akhir hidupnya, George Toisutta meninggalkan satu permintaan sederhana kepada keluarganya: makamkan aku di samping kuburan ibunda. Dan permintaan itu dipenuhi. Jenazahnya diterbangkan dengan pesawat Hercules dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, ke Makassar, dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dadi, Kota Makassar, tepat di sisi makam ibundanya, Sitti Hasna Daeng Tekne — perempuan berdarah Makassar dari Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Seorang jenderal yang sepanjang hidupnya bergerak dari satu ujung nusantara ke ujung lainnya, memilih pulang ke pangkuan sang ibu di ujungnya.
George Toisutta lahir di Makassar pada 1 Juni 1953, dari perpaduan dua darah yang kuat. Ayahnya, Letnan Kolonel Infanteri (Purn.) Cristianto H. Toisutta, adalah pria berdarah Maluku — marga Toisutta berasal dari Saparua, Maluku Tengah — yang pernah menjabat Dandim Bolaang Mongondow, Gorontalo. Ibundanya adalah perempuan Makassar asli.
Dari ayah ia mewarisi ketangguhan Maluku. Dari ibu ia mewarisi keberanian Sulawesi. Perpaduan itu membentuk karakter yang kelak menjadi ciri khasnya sebagai perwira.
Mengikuti jejak sang ayah, George Toisutta memilih jalan militer. Ia lulus dari Akademi Militer Magelang pada 1976 dan memulai kariernya pada 1978 sebagai Komandan Peleton 1, Kipan-C, Yonif 741 BS di bawah Kodam IX/Udayana. Dari titik itu, ia meniti tangga karier militer dengan cara yang tidak bisa dibeli: pengalaman lapangan yang panjang dan penuh risiko.
Jabatan demi jabatan dilalui — dari Komandan Kompi, Perwira Operasi, hingga Komandan Batalyon dan Komandan Distrik Militer. George Toisutta menghabiskan bertahun-tahun di satuan infanteri garis depan, termasuk di Timor Timur, sebelum bergerak ke jabatan-jabatan staf yang semakin strategis.
Baca juga: Puspenerbal Sabet Lima Medali di Kejurnas Pencak Silat KASAD Cup 2024
Momen paling menentukan dalam karier George Toisutta terjadi pada tahun 2003. Ia ditunjuk sebagai Panglima Komando Operasi TNI di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, menggantikan Mayjen Bambang Dharmono, di saat operasi militer terbuka sedang dijalankan secara penuh pasca pemberlakuan Darurat Militer. Ini bukan jabatan seremonial. Ini adalah posisi yang menuntut kemampuan komando, strategi, dan kepemimpinan di lapangan sekaligus — di salah satu situasi paling kompleks yang pernah dihadapi TNI.
Keberhasilan di Aceh membuka jalan yang lebih lebar. Dari Aceh, George melanjutkan ke Pangdam XVII/Trikora di Papua (2005), lalu Pangdam III/Siliwangi di Jawa Barat (2006), kemudian Panglima Kostrad menggantikan Erwin Sudjono pada tahun 2007.
Puncaknya datang pada 9 November 2009. Dilantik langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, George Toisutta menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Kasad ke-26 dalam sejarah TNI AD, menggantikan Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo. Ia menjabat hingga 30 Juni 2011.
Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Gatot Nurmantyo, yang pernah menjadi bawahannya, menuliskan ungkapan duka yang tulus saat George wafat. "Beliau adalah atasan, senior, guru, dan pelatih saya," tulis Gatot.
Baca juga: Danrem 084/Bhaskara Jaya Menghadiri Peresmian Sumber Air Yang Dilaksanakan Secara Virtual
Setelah pensiun, nama George Toisutta tidak menghilang dari ruang publik. Pada tahun 2011, ia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) berpasangan dengan pengusaha Arifin Panigoro, sebuah langkah yang mengejutkan banyak pihak karena ia berani menantang Nurdin Halid yang sedang berkuasa. Namun FIFA melarang pencalonannya. Pada awal tahun 2012, ia ditunjuk sebagai Komisaris Utama OSO Group milik Oesman Sapta Odang, yang bergerak di bidang pertambangan, perkebunan, transportasi, properti, dan perhotelan.
Majelis Latupati Maluku memberikan penghargaan tertinggi kepada putra Saparua ini dengan gelar kehormatan Sang Kapitan Elake Patiloe Manawa Kabaressi — Pemimpin Besar Pemersatu yang Tangguh. Sebuah pengakuan bahwa darah Maluku yang mengalir di nadinya tidak pernah ia lupakan, meski ia lahir dan besar di Makassar.
George Toisutta meninggalkan istri, Hj. Nur Alam, dan tiga orang anak, termasuk putri bungsunya Eva Toisutta yang menjadi juru bicara keluarga di saat-saat terakhir sang ayah.
Di atas semua pencapaian itu, yang paling dikenang dari George Toisutta adalah caranya memimpin: dari depan, bukan dari belakang meja. Dari lapangan, bukan dari ruang rapat ber-AC. Dan di ujung semuanya, dengan satu permintaan yang sederhana — pulang ke samping ibunda. (*)
Editor : Bambang Harianto