Saat Bu Tien Mengusulkan Dading Kalbuadi Jadi KASAD

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Dading Kalbuadi
Dading Kalbuadi
grosir-buah-surabaya

Dalam kajian politik militer Indonesia, dinamika pergantian pucuk pimpinan Angkatan Darat tidak pernah sekadar urusan rotasi rutin. Ia selalu sarat dengan kalkulasi politik tingkat tinggi. 

Sebuah kesaksian menarik mengenai hal ini baru saja diungkapkan oleh Prabowo Subianto dalam bukunya ”Kepemimpinan Militer : Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto”.

Kisah ini membawa kita ke ruang makan kediaman Presiden di Jalan Cendana pada suatu malam Kamis di tahun 1983. Prabowo Subianto, yang kala itu berstatus sebagai menantu Presiden, menjadi saksi mata dari sebuah percakapan intim yang sesungguhnya menyentuh jantung persoalan suksesi militer kita. 

Malam itu, Ibu Tien Soeharto tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada suaminya, "Pak, apa benar KSAD mau diganti?"

Ketika Soeharto mengiyakan bahwa masa jabatan Jenderal Poniman memang telah usai, Ibu Tien menyodorkan sebuah nama : Dading Kalbuadi.

"Itu lho Pak, sing apik iku Pangdam Bali, Pak. Dading. Tinggi, gagah dan ganteng, Pak. Cocok itu, sebaiknya dia yang jadi KSAD, Pak," bujuk sang Ibu Negara.

Menghadapi intervensi domestik semacam ini, Soeharto menunjukkan laku khas seorang raja Jawa. Ia tidak membantah, tidak pula mengiyakan. Ia hanya terdiam, lalu menoleh ke arah Prabowo Subianto sembari mengulas senyum tipis. 

Sebuah gestur yang bagi mereka yang mengamati karakter Soeharto, merupakan isyarat bahwa sang smiling general tengah meramu kalkulasi politiknya sendiri.

Keesokan malamnya, ketika Ibu Tien kembali menagih kepastian tentang posisi KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat), Soeharto hanya menjawab diplomatis, "Masih digodok." 

Lagi-lagi respons itu diiringi senyuman sarat makna ke arah menantunya.

Senin berikutnya, konstelasi politik di Mabes ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) terjawab. Bukan Dading Kalbuadi yang dilantik, melainkan Jenderal Rudini. 

Pada makan malam hari Selasa, Ibu Tien pun meluapkan kegerundelannya, 

"Bapak itu enggak mau dengar saran Ibu..."

Sebagai pengamat sejarah militer, kita harus membaca peristiwa ini lebih dari sekadar anekdot keluarga. Mengapa Soeharto mengabaikan saran istrinya?

Harus dipahami bahwa pencalonan KSAD pada tahun 1983 adalah momentum krusial transisi kepemimpinan dari Generasi '45 ke perwira abituren akademi. Di luar sana, terdapat ekspektasi kuat agar posisi KSAD diserahkan kepada abituren Akademi Militer Yogyakarta yang telah meluluskan dua angkatan, dengan tokoh-tokoh menonjol seperti Wiyogo Atmodarminto, Soesilo Sudarman, dan Himawan Soetanto. Namun, secara mengejutkan pilihan Soeharto justru jatuh pada Rudini, seorang abituren Koninklijke Militaire Academie (KMA) Breda.

Di sisi lain, posisi Letnan Jenderal Dading Kalbuadi tak kalah rumitnya. Meski tak diragukan rekam jejak tempurnya dan perannya sebagai perwira operasi andalan, Dading dikenal luas sebagai tangan kanan L.B. Moerdani. 

Soeharto, sang maestro balance of power, sangat memahami anatomi kekuasaannya. Menjadikan Dading sebagai KSAD berarti memperbesar faksi Benny di pucuk pimpinan Angkatan Darat—sebuah manuver yang selalu dihindari Soeharto demi menjaga pendulum kekuasaannya tetap seimbang.

Bagi Soeharto, ABRI adalah instrumen politik yang terlalu vital untuk diserahkan hanya berdasarkan pertimbangan fisik "gagah dan ganteng" seperti kacamata Ibu Negara. 

Di meja makan Cendana itu, Soeharto membuktikan bahwa tak seorang pun—bahkan istrinya sendiri—bisa mendikte arsitektur kekuasaan dan arah politik tentara kita. (*)

*) Source : Pustaka Jani Sari Library