Di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), tidak banyak perwira tinggi yang mampu menyeimbangkan karier lapangan yang gemilang dengan pencapaian akademis di tingkat tertinggi. Salah satu sosok langka yang sukses memadukan kedisiplinan korps bhayangkara dengan ketajaman intelektual adalah Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Prof. Dr. Iza Fadri.
Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat pada 31 Agustus 1962 ini dikenal luas sebagai jenderal sarat pengalaman di bidang hukum yang telah mengabdi dari tingkat bawah hingga dipercaya menduduki berbagai posisi strategis nasional.
Baca juga: Syamsul Jahidin, Mantan Satpam yang Mengguncang Markas Polisi
Akar Minangkabau dan Masa Sekolah di Kota Padang
Iza Fadri lahir dan tumbuh besar dalam keluarga yang kental dengan nilai-nilai luhur Ranah Minang. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara pasangan Jasmidalis dan Warnidah, yang keduanya merupakan asli Minangkabau, Sumatera Barat.
Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu di kota kelahiran. Ia tercatat sebagai alumni salah satu sekolah menengah atas paling bergengsi di Sumatera Barat, yaitu Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Padang, dan lulus pada tahun 1981. Setamat SMAN 3 Padang, panggilan jiwa untuk mengabdi pada negara membawanya masuk ke Akademi Kepolisian (Akpol) hingga sukses lulus sebagai perwira muda pada tahun 1985.
Rekam Jejak Matang: Dari Penyidik hingga Menjadi Kapolda
Sebagai perwira polisi, Iza Fadri merupakan sosok yang kenyang dengan pengalaman lapangan, khususnya di bidang reserse dan hukum. Ia telah melewati berbagai rentang profesi dan penugasan yang komplit di tubuh Polri.
Baca juga: 27 Perwira Tinggi Polri Naik Pangkat
Kariernya merangkak dari bawah mulai dari menjabat sebagai Penyidik yang berhadapan langsung dengan kasus hukum, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek), Kepala Kepolisian Resor (Kapolres), hingga puncaknya dipercaya memimpin wilayah hukum yang besar sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Selatan. Demi menunjang karier komandonya, ia juga telah melahap seluruh jenjang pendidikan kedinasan polri, termasuk menjadi alumni PPSA Lemhannas RI.
Menjadi Jenderal dan Guru Besar Hukum Pidana Pertama di PTIK
Keistimewaan utama seorang Iza Fadri terletak pada dedikasinya yang luar biasa terhadap dunia pendidikan tinggi militer dan kepolisian. Kepakarannya di bidang hukum pidana diakui secara luas oleh negara, bukan hanya di lingkungan internal polri, tetapi juga oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Baca juga: Daftar 49 Perwira Tinggi Polri yang Naik Pangkat
Pada 29 Mei 2013, saat masih aktif berdinas, ia resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Hukum Pidana Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) - PTIK. Pengukuhan ini menjadikannya salah satu jenderal polisi langka yang menyandang gelar Profesor. Dedikasi akademisnya ini mengantarkan Iza dipercaya mengemban amanat besar sebagai Ketua atau Gubernur STIK-PTIK, tempat di mana para calon pemimpin Polri ditempa ilmu hukum dan kepemimpinannya.
Pengabdian Internasional dan Masa Purna-Tugas
Kombinasi antara pengalaman teritorial, kapasitas hukum yang mumpuni, serta wawasan akademis yang luas membuat energinya terus dibutuhkan di level strategis. Di masa-masa akhir dinas aktifnya, ia dipercaya mengemban jabatan sebagai Analis Kebijakan Utama Bidang NCB Interpol Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri, sebuah posisi penting yang mengoordinasikan penegakan hukum lintas negara. (*)
Editor : S. Anwar