Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di ranah Minang dipenuhi oleh kisah heroisme yang berselimut air mata. Salah satu peristiwa paling memilukan namun jarang tersorot dalam buku sejarah nasional adalah Peristiwa Surau Batu Sintuak, atau yang dikenal oleh masyarakat lokal sebagai Perang Sintuak.
Terjadi pada Selasa, 7 Juni 1949 di Nagari Sintuak, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, tragedi ini menjadi saksi kekejaman tentara kolonial Belanda yang mengeksekusi mati 37 pemuda dan pejuang kemerdekaan secara keji di tepi sungai.
Latar Belakang: Ambisi Belanda Menguasai Jalur Pariaman
Pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, Belanda enggan mengakui kedaulatan Indonesia dan melancarkan Agresi Militer. Gencarnya perlawanan gerilya yang dilancarkan oleh pemuda, penduduk, serta anggota TRI/TNI di Sintuak Tobohgadang dan sekitarnya membuat pihak Belanda kalap.
Pasukan kolonial terus bergerak agresif meluaskan wilayah kekuasaannya ke arah utara menuju Pariaman dan melakukan serangan membabi buta. Rakyat biasa, petani, hingga saudagar semuanya dijadikan sasaran tanpa pandang bulu.
Kronologi 7 Juni 1949: Kepungan Tiga Jurusan Kapten Backer
Pagi buta sekitar pukul 05.30 WIB pada 7 Juni 1949, ketenangan Nagari Sintuak dan sekitarnya pecah. Satu kompi serdadu Belanda di bawah komando langsung Kepala Markas Teritorial, Kapten Backer, menggelar operasi penyisiran besar-besaran. Guna mempersempit ruang gerak para pejuang, Kapten Backer membagi pasukannya untuk bergerak serentak dari tiga jurusan:
Dari Arah Selatan: Bergerak melalui wilayah Pungguangkasiak.
Dari Arah Utara: Melalui kawasan Pakandangan dan Kototinggi.
Dari Arah Barat: Melalui Bintungantinggi, Pauhkamba, dan Tobohgadang.
Misi utama operasi ini adalah memburu gerilyawan pemuda dan anggota TNI. Namun pada praktiknya, serdadu Belanda bertindak kejam dengan menggiring setiap laki-laki dewasa yang mereka temui sepanjang jalan.
Penyaringan di Stasiun Kereta Api Sintuak
Sekitar pukul 09.00 WIB, ketiga rombongan pasukan Belanda menyatu dan berkumpul di Pasar Sintuak, tepatnya di lapangan dekat Stasiun (Halte) Kereta Api Sintuak, bersama ratusan warga yang berhasil mereka tangkap. Di stasiun ini, para tawanan dibagi ke dalam tiga kelompok:
Kelompok Pertama (20 orang): Dibawa ke markas Belanda di Lubuk Alung untuk diinterogasi lebih lanjut.
Kelompok Kedua (35 orang): Dinilai tidak berbahaya dan diperintahkan untuk pulang.
Kelompok Third (40 orang): Terdiri dari anggota TRI/TNI, pemuda pejuang, dan warga dari Nagari Sintuak Tobohgadang, Pakandangan, Kototinggi, Pauhkamba, Bintungantinggi, dan sekitarnya. Kelompok inilah yang menghadapi takdir paling kelam.
Eksekusi Berdarah di Tepi Batang Tapakih
Ke-40 tawanan kelompok ketiga tersebut digiring ke halaman Surau Batu Sintuak. Sesampainya di sana, mereka mula-mula dipaksa duduk melingkar untuk mendengarkan berbagai tuduhan sepihak dari tentara Belanda yang mencap mereka sebagai gerilyawan, ekstrimis, pengkhianat, hingga perampok. Walaupun di antara mereka ada yang berteriak histeris menyatakan bahwa mereka hanyalah petani biasa yang tidak tahu apa-apa, serdadu Belanda sama sekali tidak menghiraukannya.
Sekitar pukul 10.00 WIB, mereka digiring ke bagian belakang surau, tepat di bibir sungai Batang Tapakih. Para tawanan dipaksa berbaris menghadap aliran sungai dan membelakangi moncong senjata. Tiga pucuk senapan mesin milik Belanda telah disiapkan di posisi masing-masing.
Tiba-tiba terdengar komando tembak! Door… door… door! Rentetan peluru tajam seketika memuntahkan kematian. Sebanyak 37 orang pejuang gugur bersimbah darah. Jasad mereka langsung dihanyutkan oleh serdadu Belanda ke dalam aliran sungai Batang Tapakih yang saat itu kebetulan sedang banjir bandang.
Masyarakat setempat tidak ada yang berani menyaksikan langsung pembantaian keji tersebut karena kondisi yang mencekam; mereka hanya bisa mendengar bunyi desingan peluru dari kejauhan. Selain mengeksekusi para tawanan, pasukan Belanda juga membakar sebagian bangunan Surau Batu sebelum akhirnya meninggalkan lokasi.
Kisah Tiga Pejuang yang Lolos dari Maut
Di tengah hujan peluru, mukjizat mendatangi tiga orang pejuang. Begitu mendengar letusan senjata pertama, ketiganya dengan sangat cepat mengambil keputusan nekat untuk langsung terjun bebas ke dalam sungai dan menghanyutkan diri bersama arus banjir. Mereka adalah:
Zakaria alias Buyuang Gati: Pejuang yang ditangkap di Tobohluaparik, Tobohgadang. Ia bertahan di dalam air dan baru berani keluar dari sungai untuk pulang setelah hari mulai gelap.
Hongkong: Pemuda asal Bayua Kototinggi yang sebelumnya ditangkap secara paksa saat masih tertidur pulas pada pukul 05.30 pagi.
Nasir Labai Buyung Itik (Nazir Labai Itiak): Pemuda asal Tobohgadang yang ditangkap tentara Belanda di Surau Buluah Apo Sawahmansi sesaat setelah ia menyelesaikan shalat Subuh.
Pencarian Korban di Tengah Banjir
Malam harinya, Nasir Labai Buyung Itik berhasil mencapai wilayah Balaiusang Sintuak. Dengan tubuh gemetar, ia menceritakan seluruh kronologi pembantaian keji tersebut kepada masyarakat setempat. Informasi itu menyebar dengan cepat laksana kilat.
Malam itu juga, dengan menggunakan lampu petromak seadanya, masyarakat Sintuak bergotong-royong menyusuri tepian sungai Batang Tapakih untuk mencari jenazah para korban. Namun, karena kondisi sungai yang sedang banjir besar, proses pencarian berjalan sangat sulit.
Banyak jenazah yang hanyut jauh dan tidak pernah ditemukan. Dari total korban yang dieksekusi, tercatat hanya 26 orang yang berhasil teridentifikasi. Sebanyak 6 jenazah yang ditemukan dalam kondisi tidak dikenal akhirnya dikuburkan secara massal di tepi Batang Tapakih. Sementara itu, jenazah yang berhasil dikenali oleh keluarga—seperti jenazah Nazir, Mulek Dodok, dan Yusuf Jalang—segera dibawa pulang untuk dimakamkan secara layak di pandan pekuburan masing-masing. Lima korban lainnya dinyatakan hilang ditelan arus sungai.
Upaya Merawat Ingatan di Tengah Keterbatasan
Selama puluhan tahun, tragedi kemanusiaan ini sempat meredup dari catatan sejarah nasional. Baru pada tahun 2001, masyarakat setempat berusaha menguak kembali lembaran kelam ini dengan menyusun buku bertajuk "Peristiwa Surau Batu Sintuak: Sejarah yang Terlupakan 7 Juni 1949".
Pada tahun yang sama, sebuah tugu peringatan digagas oleh warga dan dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Padang Pariaman saat itu, H. Sudirman Gani. Sayangnya, pembangunan tugu tersebut terbengkalai di tengah jalan dan sempat bertahun-tahun telantar dipenuhi semak belukar karena kurangnya kepedulian dari pihak-pihak terkait.
Kondisi situs bersejarah ini semakin memprihatinkan ketika gempa bumi dahsyat melanda Sumatera Barat pada tahun 2009, yang meluluhlantakkan bangunan fisik asli Surau Batu Sintuak hingga hancur total.
Catatan: 26 korban berhasil diidentifikasi, 5 korban hanyut/hilang.
Untuk merawat ingatan kolektif tersebut, pada 17 Agustus 2017, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Padang Pariaman yang dipimpin oleh Zeki Aliwardana menggelar upacara bendera memperingati HUT RI ke-72 langsung di lokasi pembantaian. Sebelum upacara dimulai, para pemuda bersama-sama membersihkan tugu sejarah yang sempat terbengkalai dan tertutup semak belukar tersebut.
"Karena eksekusi pembunuhan tersebut dilakukan di dekat surau Batu, persisnya di pinggiran sungai Batang Tapakih. Kita ingin mengingatkan semua pihak bahwa di lokasi ini pernah terjadi pembunuhan puluhan orang akibat mempertahankan kemerdekaan RI dari serangan tentara Belanda," tegas Ketua GP Ansor Padang Pariaman, Zeki Aliwardana, saat bertindak sebagai pembina upacara kala itu.
Langkah ini diambil untuk memicu kembali kepedulian publik sekaligus mengingatkan generasi muda bahwa di tempat tersebut, puluhan nyawa syuhada telah tumpah demi mempertahankan Merah Putih tetap berkibar di langit Indonesia. (*)
*) Sumber: Diolah dari artikel Pariaman Today berjudul "Mengenal Tragedi Berdarah Surau Batu Sintuak".
*) Oleh : Nasrul Koto Psu
Editor : S. Anwar