Perjalanan hidup seorang tokoh sering kali melintasi batas-batas pengabdian yang dinamis. Dari ketegasan menjaga keamanan publik sebagai perwira tinggi kepolisian, hingga keberanian melangkah ke panggung politik praktis. Transformasi inilah yang melekat kuat pada sosok Inspektur Jenderal Polisi (Purn.) Fakhrizal, M.Hum., mantan Kapolda Sumatera Barat yang dikenal luas sebagai salah satu jenderal karismatik asal Ranah Minang.
Pria kelahiran 26 April 1963 asal Kamang Mudik, Agam ini dikenal sebagai jenderal yang sangat dekat dengan tanah kelahirannya, namun juga pernah berada di pusaran dinamika politik dan birokrasi yang cukup hangat di tingkat nasional.
Baca juga: Kapolda Sumatera Barat Pimpin Operasi Tambang Ilegal
Masa Kecil di Asrama Tentara dan Impian Lapangan Hijau
Lahir sebagai anak sulung dari enam bersaudara dalam keluarga Minangkabau yang bersahaja, Fakhrizal tumbuh di lingkungan yang kental dengan kedisiplinan. Ayahnya, Peltu Sabri, merupakan seorang anggota TNI AD yang bertugas sebagai Pembina Rohani Islam (Rohis) di Dodiklat Kodam III/17 Agustus.
Menjadi anak tentara membuat Fakhrizal menghabiskan masa kecilnya selama 12 tahun di asrama Batalyon Infanteri 133, Air Tawar, Padang. Ia menamatkan pendidikan dasar di SD Negeri 67 Padang dan melanjutkan ke SMP Negeri 1 Padang. Remaja Fakhrizal sebenarnya sangat menggemari sepak bola, bahkan sempat mengikuti seleksi skuat PSP Padang junior.
Namun, takdir membawanya ke arah lain. Setamat dari SMA Negeri 2 Padang pada tahun 1982, ia mencoba peruntungan mendaftar ke Akademi Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Hanya dalam sekali tes, ia dinyatakan lulus dan diarahkan untuk bergabung dengan korps kepolisian, berbeda jalur dengan sang ayah yang merupakan seorang prajurit angkatan darat.
Karier Kepolisian yang Mapan dan Pendidikan Hukum Bisnis
Setelah resmi lulus dari Akabri pada tahun 1986, Fakhrizal mengawali kedinasannya di wilayah hukum Polda Metro Jaya sebagai Wapamapta Res Metro Jakarta Selatan. Pada masa-masa awal kariernya, ia banyak menghabiskan waktu di ibu kota dengan memegang berbagai posisi strategis, mulai dari Paur Minik Serse hingga Kanit Resintel di Pasar Minggu dan Kebayoran Baru.
Sembari meniti karier, Fakhrizal terus memperdalam keilmuannya. Ia menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta pada 1994 dan meraih gelar Sarjana Ilmu Kepolisian. Kehausannya akan ilmu hukum membawanya ke Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, di mana ia berhasil meraih gelar Magister Humaniora (M.Hum.) fokus Hukum Bisnis pada tahun 2007.
Karier kepolisiannya terus menanjak hingga berhasil meraih pangkat jenderal bintang dua. Sebelum kembali ke kampung halaman, ia sempat dipercaya mengemban amanat sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Tengah pada periode 2015–2016.
Kepemimpinan di Sumbar dan Dinamika Pilkada
Puncak pengabdian Fakhrizal di kepolisian terjadi ketika ia pulang kampung untuk menjabat sebagai Kapolda Sumatera Barat sejak 22 Desember 2016. Dilantik resmi pada 4 Januari 2017 menggantikan Brigjen Pol. Basarudin, Fakhrizal memimpin jalannya korps bhayangkara di Ranah Minang selama hampir tiga tahun.
Menjelang perhelatan Pilkada Serentak, nama Fakhrizal mencuat ke publik setelah menyatakan niatnya untuk maju sebagai calon Gubernur Sumatera Barat. Langkah ini memicu gelombang diskusi dan kontroversi di tingkat nasional. Kehadiran baliho-baliho politik dan deklarasi tersebut mendapat sorotan tajam dari sejumlah anggota DPR RI yang menuding adanya penggunaan fasilitas jabatan serta politik praktis di tubuh Polri.
Dinamika ini bahkan menjadi pembahasan hangat dalam rapat kerja Komisi III DPR RI bersama Kapolri kala itu, Jenderal Idham Azis, yang menegaskan aturan baku UU No. 2 Tahun 2002 bahwa anggota Polri dilarang terlibat politik praktis dan wajib mundur jika ingin bertarung di pemilu. Guna menjaga netralitas institusi, melalui Surat Telegram Kapolri pada 6 Desember 2019, Fakhrizal resmi dimutasi menjadi Analis Kebijakan Utama Bidang Sabhara Baharkam Polri, dan posisinya sebagai Kapolda Sumbar digantikan oleh Irjen Pol. Toni Harmanto.
Kehidupan Pribadi dan Langkah Baru
Di luar seragam dinasnya, Fakhrizal membangun keluarga yang harmonis bersama istrinya, Ade Fakhrizal—seorang mantan peragawati yang pernah mewakili Sumatera Barat dalam ajang Puteri Indonesia di Jakarta. Menikah sejak Juni 1988, pasangan ini dikaruniai empat orang anak, yaitu Alfano Ramadhan (yang kini mengikuti jejak sang ayah menjadi anggota Polri), putri kembar Julia Nofadini dan Julia Nofadina, serta si bungsu Syarfina.
Setelah purna-tugas sepenuhnya dari kepolisian, Fakhrizal resmi melabuhkan langkah politiknya dengan bergabung sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), melanjutkan ikhtiar pengabdiannya bagi bangsa dan masyarakat melalui jalur parlemen dan kebijakan publik. (*)
Editor : Bambang Harianto