Taufik Abdullah, Begawan Sejarah Indonesia Asal Bukittinggi

Reporter : M Ruslan
Profesor Taufik Abdullah

Berbicara mengenai kiblat ilmu sejarah di Indonesia, nama Profesor Taufik Abdullah tentu berada di barisan paling depan. Pemilik gelar adat Tuanku Pujangga Diraja ini merupakan sosok begawan sejarawan, pemikir sosial, sekaligus akademisi papan atas yang reputasi keilmuannya telah diakui secara internasional.

Lahir di Kota Bukittinggi pada 3 Januari 1936, dari orang tua yang berasal dari Nagari Rao Rao, Kabupaten Tanah Datar, Taufik Abdullah tumbuh menjadi ilmuwan besar yang banyak mengupas dinamika Islam, modernitas, dan politik di Nusantara. Salah satu puncak pengabdian birokrasinya di tanah air adalah saat ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) periode 2000–2002.

Baca juga: Sosok Adi Utarini Bikin Dunia Tercengang

Perjalanan Akademik: Dari UGM hingga Universitas Cornell

Langkah akademik Taufik Abdullah mencerminkan ketekunan seorang intelektual sejati. Setelah menamatkan sekolah menengah, ia merantau ke Yogyakarta dan berhasil meraih gelar sarjana dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra & Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1961.

Haus akan ilmu, Taufik Abdullah kemudian terbang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi di Universitas Cornell, Ithaca. Di kampus bergengsi tersebut, ia sukses menggondol gelar Master sekaligus Doktor (Ph.D) pada tahun 1970.

Karya Monumental:

Disertasi doktornya yang berjudul "Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra" diterbitkan oleh Universitas Cornell pada tahun 1971. Hingga hari ini, karya tersebut menjadi buku rujukan wajib di seluruh dunia bagi siapa saja yang ingin mempelajari sejarah pembaruan Islam dan pergerakan politik kaum muda di Sumatera Barat.

Karier di LIPI dan Kiprah Internasional

Taufik mengawali kariernya di LIPI sejak awal tahun 1960-an sebagai asisten peneliti. Dedikasinya yang tinggi membawanya menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari Direktur Leknas LIPI (1974–1978) hingga puncaknya didapuk sebagai Ketua LIPI di awal era reformasi.

Baca juga: Oemar Seno Adji, Anak Bupati yang Jadi Nakhoda Hukum

Di kancah internasional, kepakaran Taufik sangat disegani. Ia tercatat pernah menjadi peneliti tamu di sejumlah universitas ternama dunia, seperti Universitas Chicago, Universitas Wisconsin, dan Netherlands Institute for Advanced Studies in the Humanities and Social Science (NIAS) di Wassenaar, Belanda.

Tak hanya itu, ia juga dipercaya menduduki berbagai posisi penting lintas negara, di antaranya:

Ketua Komite Eksekutif Program Kajian Asia Tenggara (ISEAS) di Singapura.

Wakil Presiden Asosiasi Ilmu Sosial Asia Tenggara di Kuala Lumpur.

Wakil Presiden Asosiasi Sosiologi Internasional Dewan Riset Sosiologi Agama.

Baca juga: Sjafri Sairin, Begawan Antropologi UGM Lulusan Cornell Asal Bukittinggi

Penulis Produktif peraih Penghargaan Internasional

Di samping kesibukannya sebagai peneliti dan pengajar, Taufik Abdullah adalah seorang penulis yang sangat produktif. Buah pikirannya yang tajam telah tersebar di ratusan jurnal ilmiah dan media massa, baik di dalam maupun luar negeri. Sepanjang kariernya, ia telah menelurkan setidaknya 30 jilid buku sejarah dan sosiologi.

Atas segala dedikasi dan sumbangsihnya bagi dunia ilmu pengetahuan, ia dianugerahi penghargaan internasional bergengsi, Hadiah Akademik dalam Hadiah Budaya Asia Fukuoka, Jepang, pada tahun 1991. Pengakuan atas kejeniusannya di dalam negeri pun semakin paripurna ketika Universitas Indonesia (UI) menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa pada tahun 2009.

Taufik Abdullah telah membuktikan bahwa sejarah bukan sekadar deretan angka tahun yang mati, melainkan sebuah analisis mendalam yang mampu menjelaskan jati diri dan arah masa depan suatu bangsa. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru