Dalam pantheon pahlawan nasional Indonesia, Jenderal Gatot Subroto sering dikenang sebagai sosok "bapak" yang keras, nyentrik, dan tanpa kompromi. Namun, sejarah yang tertulis di buku-buku sekolah sering luput menangkap dimensi spiritual dan visi jangka panjang sang jenderal.
Jenderal Gatot Subroto bukan sekadar prajurit tempur; ia adalah seorang visioner yang meletakkan dasar persatuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) lewat AKABRI, sekaligus seorang hamba yang menyembunyikan kemuliaan nasabnya hingga akhir hayat.
1. Jejak Sayid dalam darah Banyumas
Gatot Subroto lahir di Banyumas, pada 10 Oktober 1907, sebagai putra tertua dari Sayid Yudoyuwono. Selama puluhan tahun, nama "Sayid" pada ayahnya dianggap publik hanya sebagai nama timur Jawa biasa. Namun, sejarah lisan yang valid membuka fakta bahwa nama itu adalah penanda garis keturunan.
Jenderal Gatot diyakini memiliki darah Ba'alawi dari marga Basyaiban, sebuah klan yang dikenal melahirkan banyak ulama dan pejuang di tanah Jawa. Latar belakang ini membentuk karakter unik Gatot: perpaduan antara keberanian fisik seorang ksatria dan ketajaman batin (firalah) seorang yang memiliki akar spiritual kuat.
2. Kesaksian dari Palu : pengakuan di hadapan aktivis Al Khairat
Bukti paling otentik mengenai pertalian nasab ini terekam dalam sebuah peristiwa bersejarah di Palu, Sulawesi Tengah, pada era 1950-an. Saat itu, Jenderal Gatot (kemungkinan dalam kapasitas sebagai Wakasad) melakukan kunjungan kerja ke wilayah tersebut.
Berdasarkan kesaksian langsung dari saksi hidup, Bapak Ja'far Naser Al-Amri—seorang tokoh muda Palu dan aktivis Pemuda Al-Khairat kala itu—Jenderal Gatot menyempatkan diri berkunjung ke Al-Khairat, basis pendidikan Islam terbesar di Indonesia Timur asuhan Habib Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua).
Di tengah hangatnya pertemuan dengan para aktivis dan jamaah Al-Khairat, Jenderal Gatot membuka sisi yang selama ini ia simpan rapat. Di hadapan Bapak Ja'far Naser Al-Amri, beliau dengan tegas menyatakan :
“Saya ini sebenarnya adalah bagian dari kalian, dari jamaah trah Basyaiban Ba’alawi”.
Pengakuan ini menjadi kepingan puzzle yang menyempurnakan profil beliau. Di balik penampilannya yang "sangar", ia sangat menghormati ulama dan menyadari betul akar identitasnya.
3. Sang Visioner : Menggagas lahirnya AKABRI
Selain soal nasab, warisan terbesar Gatot Subroto bagi militer Indonesia adalah visinya tentang persatuan.
Pada masa-masa awal kemerdekaan hingga 1950-an, pendidikan perwira TNI (AD, AL, AU) dan Polri masih terkotak-kotak. Gatot melihat bahaya laten dari sistem ini: munculnya ego sektoral dan persaingan tidak sehat antar-angkatan yang bisa memecah belah bangsa.
Gatot Subroto kemudian mencetuskan ide revolusioner: Penyatuan pendidikan dasar perwira. Ia bermimpi agar taruna dari Darat, Laut, Udara, dan Kepolisian digembleng dalam satu kawah candradimuka sebelum mereka berpisah ke spesialisasi masing-masing. Tujuannya satu: menanamkan jiwa korsa dan persaudaraan sebangsa sejak dini.
Gagasan brilian inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Meskipun realisasi penuhnya terjadi setelah ia tiada (diresmikan Presiden Soekarno di Magelang pada 1965), cetak biru dan pondasi filosofis integrasi taruna ini adalah buah pikir Jenderal Gatot Subroto. Ia ingin memastikan bahwa di masa depan, para perwira tidak saling sikut, melainkan saling rangkul sebagai sesama anak kandung Ibu Pertiwi.
4. Wafat dalam dua kalimah Syahadat
Tahun 1962, "Singa Banyumas" ini harus beristirahat. Serangan jantung memaksanya terbaring di RSPAD Jakarta.
Pada tanggal 11 Juni 1962, saat kondisi kritis, Allah SWT menampakkan tanda-tanda kebaikan akhir hayat (husnul khotimah) pada diri beliau. Di tengah sakaratul maut, di hadapan keluarga dan kerabat yang membimbingnya, Jenderal Gatot Subroto tidak meninggalkan dunia ini dengan sumpah serapah prajurit yang biasa ia gunakan untuk bercanda. Dengan tenang dan penuh kesadaran, lisan beliau melafazkan :
“Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”
Kalimat tauhid itu menjadi penutup paripurna perjalanan hidupnya. Jenderal Gatot Subroto—Putra Banyumas, Trah Basyaiban, Penggagas AKABRI—pulang ke Rahmatullah sebagai seorang Muslim yang taat.
Jasadnya dimakamkan di Ungaran, Jawa Tengah, sesuai wasiatnya agar dekat dengan makam "anak-anaknya" (para prajurit) yang telah gugur. Ia menolak dimakamkan di Kalibata karena baginya, tempat terhormat seorang komandan adalah di tengah pasukannya, baik dalam hidup maupun mati. (*)
Editor : S. Anwar