Nama Letnan Jenderal KKO (Purn.) Ali Sadikin, atau yang lebih akrab disapa Bang Ali, akan selalu tertulis dengan tinta emas dalam sejarah pembangunan Ibu Kota. Mengemban amanah sebagai Gubernur Jakarta periode 1966–1977, perwira militer berkarakter kuat ini merupakan arsitek utama yang berhasil mengubah Jakarta dari kota yang semrawut menjadi sebuah metropolitan modern dan berbudaya.
Didampingi Wakil Gubernur Laksamana Muda Udara Raden H. Atje Wiriadinata, Bang Ali memimpin Jakarta dengan keberanian, visi yang melompat jauh ke depan, serta ketegasan yang disegani. Atas jasa-jasa besarnya kepada negara, Presiden Prabowo Subianto memberikan penghargaan tinggi dengan mempromosikannya dari pangkat Letnan Jenderal menjadi Jenderal Kehormatan pada 10 Agustus 2025.
Baca juga: Jadwal Festival Film Cannes 2025 di Paris
Latar Belakang Militer dan Kepercayaan dari Bung Karno
Sebelum didapuk memimpin Ibu Kota, Ali Sadikin merupakan perwira cemerlang di Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL, sekarang Korps Marinir). Lahir pada 7 Juli 1926, ia merupakan lulusan Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) Semarang angkatan 1945—satu angkatan dengan deretan legenda KKO Angkatan Laut seperti Letjen KKO Hartono dan Mayjen KKO R. Soehadi. Ia juga sempat menempuh pendidikan militer lanjutan di US Marine Corps School, Amerika Serikat.
Karier militernya yang mentereng, mulai dari Wakil Panglima KKO Angkatan Laut hingga Deputi II Panglima Angkatan Laut, memikat hati Presiden Soekarno. Sebelum menjadi gubernur, Bung Karno mempercayainya menduduki jabatan menteri, termasuk Menteri Perhubungan Laut serta Menteri Koordinator Kompartemen Maritim pada Kabinet Dwikora.
Puncaknya, pada 28 April 1966, Bung Karno melantik langsung Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta di Istana Negara. Bung Karno menilai Ali Sadikin sebagai sosok yang keras, cakap, dan berani untuk membenahi sengkarut Ibu Kota kala itu.
Tangan Dingin Bang Ali: Membangun Infrastruktur dan Menghidupkan Seni
Di bawah kepemimpinannya, Jakarta mengalami perombakan besar-besaran. Bang Ali menginisiasi berbagai proyek megah yang menjadi fondasi modernisasi Jakarta dan masih berdiri kokoh hingga hari ini, di antaranya:
Pusat Kesenian & Rekreasi: Taman Ismail Marzuki (TIM), Taman Impian Jaya Ancol, Kebun Binatang Ragunan, Taman Ria Monas, dan Taman Ria Remaja.
Tata Kota & Transportasi: Pembangunan kawasan Proyek Senen, kota satelit Pluit di Jakarta Utara, mendatangkan armada bus kota massal, hingga menata trayek dan halte yang nyaman bagi warga.
Seni & Kebudayaan : Mendirikan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) serta memberikan perhatian khusus bagi para artis lanjut usia di kawasan "Tangkiwood".
Tak hanya infrastruktur fisik, Bang Ali adalah sosok yang menghidupkan kembali roh kebudayaan Betawi. Ia mencetuskan pesta rakyat tahunan setiap tanggal 22 Juni untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta. Lewat momen inilah, berbagai ikon budaya Betawi seperti ondel-ondel, lenong, kerak telor, dan topeng Betawi diangkat kembali dan mendapat panggung terhormat.
Baca juga: Anwar Ilmar, Dari Pengungsi di Padang hingga Jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta
Ia juga menginisiasi ajang pemilihan Abang None Jakarta serta menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair) sebagai pusat hiburan dan promosi dagang nasional.
Di bidang kontes kecantikan dan pariwisata, Bang Ali sempat menjabat sebagai Pembina Yayasan Puteri Indonesia (1971–1977). Di bawah binaannya dengan mengundang ratu pariwisata se-Asia Pasifik, Puteri Indonesia sukses menyabet tiga gelar internasional bergengsi, termasuk Queen of The Pacific (1973, 1975) dan Miss Asia Quest (1977). Di bidang olahraga, ia sukses membawa DKI Jakarta mendominasi dan berkali-kali menjadi juara umum Pekan Olahraga Nasional (PON).
Kebijakan Kontroversial Demi Anggaran Daerah
Kepemimpinan Bang Ali juga tidak lepas dari kontroversi. Demi mendapatkan anggaran untuk membangun sekolah, jalan, dan fasilitas publik di tengah keterbatasan kas daerah saat itu, ia mengambil langkah-langkah berani yang menantang arus utama.
Bang Ali melegalisasi perjudian di Jakarta dan memungut pajaknya secara ketat untuk pembangunan kota. Ia juga mengizinkan pembukaan klub-klub malam untuk hiburan malam, serta membangun kompleks Kramat Tunggak sebagai lokalisasi pelacuran yang terlokalisir dan terkontrol. Meski menuai kritik tajam, kebijakan pragmatis ini terbukti berhasil menyumbang modal besar bagi percepatan pembangunan fasilitas publik di Jakarta.
Akhir Jabatan dan Sikap Kritis Petisi 50
Masa jabatan Bang Ali Sadikin sebagai gubernur berakhir pada tahun 1977, dan tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Letjen Tjokropranolo.
Setelah purna tugas, idealisme dan keberanian Bang Ali tidak pernah surut. Ia tetap aktif menyumbangkan pemikiran kritisnya bagi bangsa. Hal ini membawanya masuk ke dalam kelompok Petisi 50, sebuah wadah yang berisi tokoh-tokoh militer dan swasta yang vokal dan kritis terhadap jalannya pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.
Berpulang dan Warisan Abadi
Jenderal Kehormatan Ali Sadikin mengembuskan napas terakhirnya di Singapura pada hari Selasa, 20 Mei 2008. Ia berpulang dengan meninggalkan lima orang anak laki-laki dan istri keduanya, setelah istri pertamanya, drg. Nani Sadikin (Mpok Nani), meninggal dunia terlebih dahulu.
Meskipun raganya telah tiada, warisan pemikiran, keberanian, dan seluruh mahakarya pembangunan "Bang Ali" akan selalu melekat dan hidup di setiap sudut jalanan Kota Jakarta. (*)
Editor : S. Anwar