Anwar Ilmar, Dari Pengungsi di Padang hingga Jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Anwar Ilmar
Anwar Ilmar
grosir-buah-surabaya

Sejarah mencatat banyak tokoh besar bangsa yang lahir dari kerasnya tempaan hidup masa revolusi kemerdekaan. Salah satu figur yang memiliki kisah hidup luar biasa adalah Drs. H. Anwar Ilmar. Pria kelahiran Padang ini merupakan birokrat tulen dan politikus ulung yang pernah menduduki kursi nomor dua di ibu kota sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta Bidang Kesejahteraan Masyarakat periode 1984–1991.

Namun, di balik jabatannya yang mentereng, jalannya menuju kesuksesan tidaklah bertabur kemudahan. Anwar Ilmar adalah contoh nyata bagaimana ketekunan dan takdir mampu mengubah nasib seorang anak pengungsi menjadi salah satu pemimpin di kota metropolitan.

Bertahan Hidup di Tengah Desingan Peluru dan Kebakaran Perang

Anwar Ilmar lahir di Kota Padang pada 5 Maret 1933 sebagai anak keenam dari delapan bersaudara. Ketika Agresi Militer Belanda II pecah, Kota Padang bergolak. Ayahnya, Ilam gelar Marah Sutan, terpaksa memboyong keluarga mengungsi dengan berjalan kaki menembus hutan menuju Salayo, Solok. Di tengah pengungsian yang serba sulit itu, duka mendalam menimpa keluarga; sang ayah wafat pada 30 September 1947.

Penderitaan belum usai. Ketika Anwar dan keluarganya kembali ke Padang pada awal tahun 1950, mereka mendapati toko milik keluarga telah rata dengan tanah dibakar oleh tentara Sekutu. Pembakaran itu merupakan aksi balas dendam Sekutu atas tewasnya perwira Inggris, Brigjen Kristison. Demi menyambung hidup dan membantu ekonomi keluarga yang hancur, Anwar remaja tidak malu bekerja kasar mulai dari memanjat pohon cengkih hingga memanen padi di sawah.

Berkah dari Sang Wali Kota dan Kuliah di UGM

Sembari bekerja, Anwar tetap mengutamakan pendidikan. Sesuai tradisi Minangkabau kala itu, siang hari ia belajar di sekolah umum dan malamnya mengaji di surau. Anwar rela berjalan kaki sejauh 5 kilometer setiap hari demi menuju sekolahnya.

Kegigihan Anwar rupanya menarik perhatian Wali Kota Padang saat itu, Zainal Abidin Sutan Pangeran. Setelah sebuah pertemuan yang tak disengaja, nasib baik menghampiri Anwar; seluruh biaya sekolahnya diam-diam dilunasi oleh sang Wali Kota.

Setamat SMA pada tahun 1954, kecerdasan Anwar membuatnya diperebutkan oleh kampus-kampus elite Indonesia. Mendapat tawaran beasiswa dari Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), ia akhirnya memilih merantau ke Yogyakarta. Anwar sukses merengkuh gelar Sarjana dari Fakultas Sosial Politik UGM pada tahun 1961.

Menembus Puncak Birokrasi Ibu Kota dan Parlemen

Karier Anwar Ilmar di dunia pemerintahan berjalan sangat cemerlang. Berawal dari bawah, dedikasinya membawa Anwar dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Wilayah Daerah (Setwilda) DKI Jakarta.

Kepemimpinannya yang matang membuat ia kemudian dilantik menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta sejak 5 April 1984 hingga 8 Agustus 1991. Usai melepaskan jabatan di birokrasi, ia melanjutkan pengabdiannya ke tingkat nasional dengan terpilih sebagai anggota DPR RI dan dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR RI.

Tak Lupa Akar Budaya: Berkiprah di Gebu Minang

Sebagai putra asli Sumatra Barat, Anwar Ilmar tidak pernah melupakan tanah kelahirannya. Di sela-sela kesibukannya mengatur ibu kota, ia aktif dalam ranah sosial kemasyarakatan. Anwar tercatat sebagai salah satu pilar penting dalam pendirian dan kepengurusan organisasi masyarakat Minang legendaris, Gebu Minang. Beliau mengemban amanah sebagai Ketua I, bersanding dengan tokoh besar lainnya seperti Prof. Drs. Harun Zain dan Prof. Dr. Emil Salim.

Kisah hidup Drs. H. Anwar Ilmar mengajarkan kita bahwa keterbatasan ekonomi dan pahitnya masa perang bukanlah alasan untuk menyerah. Lewat jalur pendidikan dan integritas, anak pengungsi dari Padang ini berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah pembangunan Ibu Kota Indonesia. (*)