Motinggo Boesje, Sastrawan yang Namanya Diukir di Korea Selatan

Reporter : Redaksi
Motinggo Boesje

Indonesia tidak pernah kekurangan talenta hebat yang mampu mengguncang dunia. Namun, jika bicara tentang seniman yang memiliki paket lengkap—mulai dari sastrawan peraih penghargaan, sutradara film bertangan dingin, hingga pelukis berbakat—nama Motinggo Boesje berada di daftar paling atas.

Lahir dengan nama asli Bustami Djalid pada 21 November 1937 dan berpulang pada 18 Juni 1999, pria asal Minangkabau ini adalah definisi nyata dari seorang maestro lintas batas. Karya-karyanya tidak hanya merajai pasar domestik, tetapi juga diakui secara global.

Baca juga: Mengenang Hotma Sitompul Pengabdi Lembaga Bantuan Hukum

Buktinya tidak main-main. Sepanjang hayatnya, Motinggo melahirkan lebih dari 200 karya sastra. Kedahsyatan imajinasinya membuat namanya kini terpahat abadi di antara 1.000 sastrawan dunia di taman kota Seoul, Korea Selatan. Tidak hanya itu, ratusan gubahan literasinya tersimpan rapi sebagai warisan dunia di Perpustakaan Kongres (Library of Congress) di Washington D.C. Amerika Serikat.

Bagaimana perjalanan hidup anak yatim piatu ini hingga bisa menaklukkan panggung dunia?

Berakar dari Kata "Mantiko": Bengal dan Tak Tahu Malu

Motinggo Boesje lahir di Bandar Lampung dari pasangan perantau Minangkabau, Djalid Sutan Raja Alam (asal Sicincin, Padang Pariaman) dan Rabiah Jakub (asal Matur, Agam). Namun, nasib malang menimpanya saat belum genap berusia 12 tahun. Kedua orang tuanya wafat, memaksanya pulang ke Bukittinggi untuk diasuh oleh sang nenek. Di kota kelahiran barunya ini, ia kelak dianugerahi gelar adat Saidi Maharajo.

Nama panggung "Motinggo Boesje" sendiri memiliki asal-usul yang sangat eksentrik. Nama itu berakar dari kosakata bahasa Minang, Mantiko, yang berarti bengal, eksentrik, suka menggaduh, kocak, dan tidak tahu malu. Agar tidak berkonotasi negatif, ia memadukannya dengan kata Bungo (bunga), melahirkan inisial MB (Mantiko Bungo), yang kelak bertransformasi di atas kertas menjadi nama ikonik: Motinggo Boesje.

Sahabat Karib Mesin Ketik Jenderal Jepang

Awal karier menulis Motinggo dimulai dari sebuah momen sejarah yang unik. Sang Jenderal legendaris Jepang, Tomoyuki Yamashita, sempat datang ke rumahnya dan memberikan sebuah mesin ketik kuno. Benda logam itulah yang kemudian menjadi saksi bisu jemari Motinggo mencurahkan ide-ide liarnya.

Baca juga: Sosok Adi Utarini Bikin Dunia Tercengang

Setamat SMA di Bukittinggi, ia sempat merantau ke Yogyakarta untuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), meski tidak selesai karena panggilan seninya terlalu kuat. Bakatnya meledak pada tahun 1958 ketika naskah drama gubahannya yang berjudul "Malam Jahanam" sukses menyabet hadiah pertama sayembara penulisan drama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Menyusul kemudian pada tahun 1962, cerpennya yang bertajuk "Nasihat Buat Anakku" meraih penghargaan tertinggi dari majalah Sastra.

Murid Sang Maestro Lukis Wakidi hingga Sutradara Hit

Motinggo adalah seniman yang menolak dipenjara dalam satu medium. Tidak puas hanya bermain dengan kata-kata, ia merambah dunia seni rupa. Ia mengasah kepekaan visualnya dengan belajar melukis langsung kepada maestro lanskap legendaris Sumatra Barat, Wakidi, bersama karibnya, Delsy Syamsumar. Pada tahun 1954, sebuah pameran seni di Padang menampilkan 15 lukisan cat minyak hasil goresan kuasnya sendiri.

Gaya visualnya yang matang kemudian ia bawa ke industri perfilman nasional sejak tahun 1960. Bermula dari asisten sutradara, Motinggo bertransformasi menjadi sutradara jempolan. Banyak dari novelnya yang sukses diadaptasi menjadi film-film hit bioskop pada masanya, seperti Di Balik Pintu Dosa (1970), Tiada Maaf Bagimu (1971), dan Insan Kesepian (1971).

Baca juga: Oemar Seno Adji, Anak Bupati yang Jadi Nakhoda Hukum

Diserang Lekra, Diakui Dunia

Perjalanan Motinggo tidak selalu mulus. Pada tahun 1964, ia merilis novel Bibi Marsiti yang menandai peralihannya ke gaya penulisan yang lebih populer dan sensual. Langkah berani ini membuatnya mendapat serangan bertubi-tubi dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lakra) yang berhaluan kiri. Bahkan, saat berceramah di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tahun 1969, ia dihujani kritik tajam dari kalangan kritikus yang menganggapnya "melacurkan diri" demi selera pasar.

Namun, waktu membuktikan bahwa kualitas karya Motinggo melampaui segala polemik politik. Tulisannya memiliki daya pikat universal yang menembus batas geografis. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, termasuk bahasa Ceko, Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Korea, Jepang, hingga Mandarin.

Motinggo Boesje telah membuktikan bahwa dengan memegang teguh karakter asli yang eksentrik—seperti filosofi Mantiko—seorang anak daerah mampu menaruh namanya dengan gagah di panggung dunia dan membuat bangga bangsa Indonesia. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru