Film Pesta Babi Menjadi Hantu Bagi Pemerintah Indonesia

Reporter : Redaksi
Film Pesta Babi

“Kolonialisme di Zaman Kita” dalam film Pesta Babi sudah menjadi Hantu bagi penguasa (penjajah–Kolonialisme), saat ini. Filim dokumenter ini bikin penguasa tidak bisa tidur dengan nyenyak. 

Bagaimana tidak, hampir di seantero wilayah indonesia, rakyat Indonesia telah menyaksikan secara bersama kejahatan negara di Papua yang tertutup puluhan tahun dan tiba-tiba tampil terang-terangan melalui layar lebar yang di putar; film dokumenter karya Dhandy Dwi Laksono, dan kawan-kawan. 

Baca juga: Pembubaran Nobar Film Pesta Babi Bentuk Pelanggaran HAM

Hampir semua jagat media di penuhi dengan konten reaksi rakyat Indonesia terkait film dokumenter; banyak sekali rakyat Indonesia yang sedih, kesal dan kecewa terhadap pemerintah (penguasa) atas kejahatan di Papua. 

Ketakutan negara ini tercermin dari raksi pemerintah terhadap pemutaran Nobar film Pesta Babi. Menurut data Watchdoc per 12 Mei 2026, setidaknya ada 21 kasus intimidasi selama pemutaran film dokumenter Pesta Babi di berbagai daerah. Bentuknya mulai dari tekanan agar acara dibatalkan, telepon dari aparat keamanan, pengawasan intelijen, hingga pembubaran paksa.

Sudah puluhan tahun, Indonesia tertutup dengan berbagai kejahatan negara di Papua secara terstruktur. Hal ini di sebabkan oleh pembatasan akses jurnalistik nasional maupun internasional untuk liput di Papua. Sekalipun ada, negara berupaya membatasi berbagai macam pemberitaan tentang Papua. 

Selain itu, teror terhadap media-media lokal maupun wartawan kerap terjadi beberapa tahun terakhir. Misalnya, kasus penyerangan Bom Molotov terhadap Kantor redaksi media Jubi di Jalan SPG Waena, Kota Jayapura, Papua, pada Rabu 16 Oktober 2024, sekitar pukul 03.15 WIT yang mengakibatkan dua mobil terbakar.

Kejadian sebelumnya, Serangan teror terhadap media Jubi dan jurnalis Victor Mambor, termasuk kejadian serupa pada 23 Januari 2023. Tentunya, hal ini dilakukan oleh institusi militer yang juga sebagai kaki tangan penguasa guna menekan sikologi wartawan di Papua. 

Lain hal, ketika Papua dalam situasi ricuh, akibat demonstrasi berskala luas di seluruh Papua, negara selalu mematikan internet berbulan-bulan, jaringan di batasi. Hal ini tentu membuat takyat indonesia sulit mendapatkan informasi lansung. Seolah-olah papua ada di dalam kuburan dua yang berbeda. 

Tentunya, kontrol terhadap papua begitu ketat. Dan ini yang dilakukan oleh negara setelah reformasi 98 hingga detik ini, dengan berbagai macam cara negara terus  menutupi kebusukannya terhadap masyarakat Indonesia dan dunia Internasional.

Benar bahwa, tidak begitu banyak yang tersampaikan melalui film Pesta Babi tentang sitausi Papua secara utuh, baik dari sisi sejarah hadirnya kolonialisme, oprasi militer, perampasan lahan, pembunuhan diluar hukum, penculikan dan penangkapan aktivis, hingga pengungsian ribuan rakyat Papua akibat konflik bersenjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan Tentara Nasional Indonsia (TNI). 

Namun, dalam film Pesta Babi tanpa samar-samar telah menujukan secara radikal bahwa KOLONIALISME terhadap RAKYAT PAPUA adalah sesuatu yang nyata yang di lakukan oleh pemerintah Indonesia sejak 1961 hingga saat ini. 

Inilah yang membuat film Pesta Babi begitu kuat dan di takuti oleh penguasa hari ini. (*)

*) Penulis : Jefry Wenda

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru