Di zaman dahulu, hiduplah seorang wali Allah yang hampir tidak dikenal manusia. Namanya Daud al-Balkhi. Berbeda dengan para ulama dan sufi besar lainnya yang kisahnya tersebar ke berbagai negeri, tentang Daud hanya sedikit cerita yang sampai kepada kita. Namun justru di balik kesunyian itulah tersimpan pelajaran yang sangat berharga.
Suatu hari, seorang sufi terkenal bernama Ibrahim bin Adham melakukan perjalanan panjang dari Kufah menuju Makkah. Dalam perjalanan itu ia bertemu dengan seorang lelaki yang penampilannya sangat sederhana.
Baca juga: Kisah Nabi Daud yang Memahami Bahasa Binatang
Lelaki itu tidak banyak bicara. Jika berbicara, ucapannya lembut dan singkat, seolah lebih banyak berdialog dengan hatinya daripada dengan lisannya.
Saat waktu salat tiba, lelaki itu mendirikan salat dua rakaat dengan penuh kekhusyukan. Setelah selesai, wajahnya tampak begitu tenang, seakan seluruh beban hidup telah lepas dari pundaknya.
Ia lalu mengeluarkan makanan dari mangkuk yang dibawanya. Bukan hanya makan sendiri, ia juga mengajak Ibrahim bin Adham menikmati hidangan itu. Keramahannya membuat Ibrahim merasa sedang bersama seseorang yang luar biasa.
Setelah perjalanan selesai, Ibrahim menceritakan pengalamannya kepada para wali yang hidup sezamannya.
Mereka saling berpandangan, lalu berkata, "Itu adalah saudara kami, Daud al-Balkhi."
Mereka kemudian bertanya, "Apa yang dia ajarkan kepadamu?"
Ibrahim terdiam cukup lama. Akhirnya ia menjawab pelan, "Ia mengajarkan kepadaku tentang Allah Yang Maha Agung."
Orang-orang kembali bertanya, "Apa maksudnya?"
Ibrahim menjelaskan, "Nama Allah terasa begitu agung di dalam hatiku, sampai aku merasa lisanku terlalu kecil untuk menjelaskannya."
Jawaban itu membuat semua orang terdiam. Karena sesungguhnya, orang yang benar-benar mengenal keagungan Allah tidak akan banyak membanggakan dirinya. Ia sadar bahwa semua kekuatan hanyalah milik Allah.
Daud al-Balkhi mengajarkan bahwa ketika hati benar-benar mengenal kebesaran Allah, banyak hal akan berubah.
Orang yang lemah akan dikuatkan.
Orang yang gelisah akan ditenangkan.
Orang yang takut akan diberi keberanian.
Orang yang putus asa akan kembali memiliki harapan.
Semua itu bukan karena hebatnya manusia, tetapi karena besarnya pertolongan Allah kepada hamba yang bersandar hanya kepada-Nya.
Beliau juga mengingatkan bahwa orang-orang saleh menjadikan keridaan Allah sebagai pakaian mereka, cinta kepada Allah sebagai selimut mereka, dan akhlak mulia sebagai perhiasan hidup mereka.
Mereka tidak sibuk mencari pujian manusia, sebab mereka tahu bahwa pujian manusia tidak akan menambah kemuliaan di sisi Allah. Sayangnya, kebanyakan manusia justru terbalik.
Saat mengalami kesulitan, mereka lebih dahulu mencari pertolongan manusia daripada mengetuk pintu langit dengan doa.
Mereka lebih percaya pada jabatan, harta, kekuasaan, atau relasi, seolah semua itulah yang menentukan hidup mereka. Padahal semua itu hanyalah perantara. Yang benar-benar memberi pertolongan hanyalah Allah. Manusia hanyalah sebab. Allah-lah Sang Penentu. Karena itulah, Daud al-Balkhi mengajarkan agar hati jangan bergantung kepada makhluk.
Bekerjalah, berusahalah, mintalah bantuan kepada sesama bila diperlukan. Namun jangan pernah letakkan harapan terbesar kepada manusia. Letakkan harapan itu hanya kepada Allah. Sebab manusia bisa mengecewakan.
Harta bisa habis.
Jabatan bisa hilang.
Teman bisa pergi.
Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang bersungguh-sungguh berharap kepada-Nya.
Ia tidak merasa paling kuat.
Tidak merasa paling hebat.
Tidak merasa paling berjasa.
Karena ia tahu, semua yang dimilikinya hanyalah titipan dari Allah. Dan saat titipan itu diambil kembali, yang tersisa hanyalah amal, keikhlasan, dan hati yang selalu bersandar kepada Sang Maha Agung. (*)
Editor : S. Anwar