Kisah Nabi Daud yang Memahami Bahasa Binatang
Nabi Daud AS adalah salah satu nabi yang dikaruniai banyak keistimewaan oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, namanya disebutkan hingga enam belas kali. Nabi Daud dikenal sebagai pemimpin yang adil, seorang ahli ibadah yang disiplin, serta penyelamat kaum Bani Israil. Di antara keistimewaan terbesar yang Allah berikan kepadanya adalah kemampuan memahami bahasa binatang.
Karena kedalaman ibadah dan ketundukannya, Allah memberikan gelar khusus kepadanya: “Hamba Kami.” Gelar ini adalah kedudukan tertinggi dalam penghambaan. Nabi Daud tidak pernah membiarkan waktunya berlalu tanpa ibadah—shalat, puasa, zikir, dan munajat kepada Allah selalu menjadi isi kesehariannya. Rasulullah SAW bahkan menyempurnakan sebagian sifat ibadah beliau dengan mengikuti pola puasa Nabi Daud, yaitu puasa selang-seling sehari berpuasa dan sehari tidak.
Kemuliaan Nabi Daud AS sudah dikenal sejak lama. Bahkan Nabi Adam AS, menurut hadis riwayat At-Tirmidzi, pernah melihat cahaya di antara kedua mata seorang manusia dalam catatan keturunannya. Ketika Adam bertanya siapa sosok itu, Allah menjawab, “Dialah Daud.” Adam bertanya berapa usianya, dan Allah menjawab, “Enam puluh tahun.” Nabi Adam pun meminta agar usianya ditambahkan empat puluh tahun dari umur beliau sendiri. Maka usia Nabi Daud pun menjadi seratus tahun ketika wafat.
Keistimewaan lain dari Nabi Daud muncul ketika beliau masih muda. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa kenabiannya datang setelah ia berhasil mengalahkan Jalut hanya dengan ketapel kecil di tangannya.
Peristiwa itu terjadi ketika ia masih menjadi bagian dari pasukan Raja Thalut yang tengah berjuang membebaskan Palestina. Kemenangan itu membuat Daud dielu-elukan sebagai pahlawan dan kemudian diangkat menjadi pemimpin menggantikan Thalut.
Setelah masa kemenangan itu, Nabi Daud mengasingkan diri untuk mendekat kepada Allah, memperbanyak dzikir, tasbih, dan ibadah hingga akhirnya Allah mengangkatnya sebagai nabi dan mewahyukan kepadanya Kitab Zabur.
Allah menyebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 55 bahwa Dia memberikan keutamaan kepada sebagian nabi melebihi yang lain, dan di antara karunia itu adalah pemberian Kitab Zabur kepada Daud. Kitab ini turun di Yerusalem sekitar abad ke-10 SM, ditulis dalam bahasa Koptik, dan tidak memuat syariat baru karena Nabi Daud diperintahkan untuk mengikuti syariat Nabi Musa AS. Inti ajaran Zabur adalah dzikir, pengagungan Allah, dan nasihat-nasihat kebajikan.
Pada tahun 2017, sebuah portal berita Arab mengabarkan penemuan menarik oleh para arkeolog di Beni Suef, Mesir. Mereka menemukan sebuah manuskrip kuno yang dipercaya sebagai salinan Kitab Mazmur Daud, ditulis pada kulit rusa dan berasal dari abad ke-4 Masehi. Manuskrip itu ditemukan di bawah kuburan seorang anak perempuan. Artefak ini dianggap sebagai salah satu manuskrip Mazmur terlengkap dan tertua, dan kini disimpan di Museum Koptik Mesir.
Di antara mukjizat terbesar Nabi Daud adalah kemampuan melunakkan besi. Sebelum masanya, pasukan perang hanya mengenal pelindung berupa plat besi yang berat dan kaku.
Namun Nabi Daud, dengan mukjizat dari Allah, membuat inovasi berupa baju zirah dari rangkaian besi yang ringan dan lentur sehingga lebih efektif digunakan saat bertempur. Kisah ini diabadikan dalam Surah Saba ayat 10–11, ketika gunung-gunung dan burung-burung diperintahkan bertasbih bersama Daud, dan Allah menyuruhnya membuat baju besi serta mengatur anyamannya.
Menurut buku Atlas Sejarah Nabi dan Rasul karya Sami bin Abdullah Al-Maghluts, Nabi Daud diperkirakan hidup antara tahun 1041–971 SM. Pada masa inilah baju zirah pertama kali dibuat. Sebagian pendapat bahkan menyebutkan bahwa beliau melunakkan besi dengan tangan kosong, tanpa api dan tanpa alat apa pun.
Jejak kecerdasan pengolahan besi yang dikaruniakan kepada Nabi Daud tampaknya tidak berhenti pada zamannya saja. Berabad-abad kemudian, kota Damaskus di Suriah menjadi pusat pembuatan besi terbaik di dunia. Besi-besi Damaskus ditempa menjadi pedang, tombak, dan anak panah yang begitu kuat hingga mampu menembus baju zirah Eropa pada masa Perang Salib.
Kehebatan "Damascus steel" ini kemudian mendorong bangsa-bangsa Barat mempelajari teknik metalurgi dan menciptakan formula besi yang lebih maju. Dengan demikian, warisan peradaban yang muncul dari mukjizat Nabi Daud terus mengalir hingga mempengaruhi perkembangan teknologi dunia.
Beginilah kisah Nabi Daud AS: seorang nabi yang ahli ibadah, pemimpin yang adil, pelunak besi dengan mukjizat Allah, pemilik suara merdu dalam tasbih, dan penerima kitab Zabur. Kisahnya bukan hanya sejarah, tetapi pelajaran tentang keteguhan iman, pemanfaatan ilmu, dan kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya. (*)
Editor : S. Anwar