Nama Sutan Muhammad Djosan gelar Sutan Bidjo Radjo mungkin terdengar asing bagi sebagian generasi hari ini. Namun dalam lembaran sejarah bentukan Orde Lama, pria kelahiran Kampung Pauh, Pariaman, Sumatra Barat pada 8 November 1906 ini merupakan tokoh penting yang pernah menakhodai Provinsi Maluku sebagai gubernur kedua periode 1955–1960, menggantikan Johannes Latuharhary.
Di balik karier birokrasinya yang gemilang di Indonesia Timur, utan Muhammad Djosan menyimpan kisah hidup yang luar biasa. Ia adalah sosok pamong praja andal, diplomat ulung di masa revolusi, hingga orang kepercayaan yang ditugaskan Bung Karno untuk mendamaikan prahara rumah tangganya dengan Ibu Fatmawati.
Baca juga: Pidato Soekarno di Sidang Umum PBB
Penyelamat Bung Karno dan Juru Damai Prahara Istana
Djosan mengawali kariernya di pemerintahan Pantai Barat Sumatra setelah lulus dari sekolah pamong praja terkemuka. Di masa pendudukan Jepang, ia dipercaya mengemban posisi sebagai demang muda. Meski bekerja dalam sistem birokrasi bentukan kolonial dan Jepang, jiwa nasionalisme Djosan tidak pernah luntur.
Hubungan utan Muhammad Djosan dengan Seokarno terjalin sangat erat sejak masa pergerakan. Saat Soekarno melarikan diri dari Bengkulu menuju Padang untuk menghindari kejaran tentara Belanda jelang kedatangan Jepang, utan Muhammad Djosan lah yang dengan berani menyediakan rumah kediamannya di Painan sebagai tempat persinggahan rahasia sang Proklamator.
Kedekatan emosional ini terus berlanjut hingga Indonesia merdeka. Pada tahun 1957, ketika Ibu Fatmawati memutuskan keluar dari Istana Negara karena menolak dipoligami oleh Soekarno yang menikahi Hartini, Soekarno secara khusus meminta bantuan utan Muhammad Djosan. Ia diutus sebagai penengah untuk mendamaikan hubungan antara sang Presiden dan Ibu Negara.
Diplomasi Meredam Amarah Jenderal Jepang di Agam
Setelah proklamasi kemerdekaan, Djosan langsung bergabung dengan gerbong pemerintah Republik Indonesia dan diangkat sebagai Kepala Luhak (Bupati) Agam pada 8 November 1945.
Tugas pertamanya terbilang sangat berat. Ia harus mengawal pembebasan tawanan perang Jepang oleh tentara Sekutu. Di tengah situasi yang memanas, rakyat Agam yang telanjur geram sempat melancarkan serangan ke tentara Jepang. Akibatnya, tentara Jepang murka dan menangkap seorang demang bernama Djamin Datuk Bagindo, bahkan mengancam akan mengeksekusinya.
Djosan tidak tinggal diam. Bermodal ketenangan dan kemampuan diplomasinya, ia langsung memimpin perundingan tingkat tinggi dengan Komandan Tentara Pertahanan Sumatra, Jenderal Watanabe, di Payakumbuh. Lewat negosiasi yang alot, Djosan berhasil meredam amarah sang jenderal, membebaskan anak buahnya, dan menyepakati perdamaian guna menghindari pertumpahan darah yang lebih besar.
Menuju Indonesia Timur: Menjadi Residen hingga Gubernur Maluku
Baca juga: Biografi Ratna Sari Dewi Soekarno
Karier birokrasi Djosan melesat hingga ke wilayah timur Indonesia. Pada tahun 1952, ia dipercaya memegang jabatan sebagai Residen Ambon. Selama bertugas di sana, ia meletakkan fondasi toleransi yang kuat dengan memfasilitasi berbagai diskusi lintas agama antara kelompok Muslim dan Kristen di Maluku.
Langkah kariernya mencapai puncak saat ditunjuk menjadi Penjabat Gubernur Maluku pada Februari 1955, menggantikan Johannes Latuharhary yang lengser akibat tekanan politik dari PNI dan Masyumi.
Menghadapi Badai Protes Peta Politik Lokal
Penunjukan Djosan sebagai Gubernur Maluku definitif oleh Menteri Dalam Negeri sempat memicu riak dan protes keras dari partai-partai besar di Maluku, seperti PNI, Parkindo, dan Masyumi. Mereka menilai pengangkatan Djosan melanggar konsensus lokal yang menginginkan putra daerah Maluku yang memimpin. Surat kabar lokal kala itu gencar mengkritik penunjukannya.
Namun, pemerintah pusat memiliki alasan kuat untuk mempertahankan posisi Djosan. Menteri Dalam Negeri dengan tegas membela keputusannya dan menyatakan bahwa Sutan Muhammad Djosan adalah figur yang:
Tegas dan Kompeten : Memiliki rekam jejak panjang dan bersih dalam urusan administrasi pemerintahan.
Baca juga: 5 Tokoh Muhammadiyah di Balik Lahirnya Pancasila
Berani Berinisiatif : Mampu mengambil tindakan cepat dan netral di tengah situasi politik daerah yang sedang memanas.
Selama lima tahun masa jabatannya (1955–1960), Djosan berhasil membuktikan kapasitasnya menjaga stabilitas wilayah Maluku sebelum akhirnya tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Muhammad Padang.
Akhir Pengabdian Sang Pamong Praja
Setelah menuntaskan masa baktinya di Maluku, utan Muhammad Djosan kembali ke Jakarta dan bertugas di Departemen Dalam Negeri hingga memasuki masa pensiun pada tahun 1962.
Sang pamong praja legendaris ini menghabiskan masa tuanya dengan tenang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Sutan Muhammad Djosan mengembuskan napas terakhirnya pada 20 Februari 1988 di usia 81 tahun. Ia meninggalkan seorang istri tercinta, Siti Nurlela, serta dua orang putri, Siti Djasmani dan Siti No. (*)
Editor : S. Anwar