Nama Retno Lestari Priansari Marsudi telah mengukir sejarah emas dalam dunia diplomasi Indonesia. Selama satu dekade (2014–2024), perempuan kelahiran Semarang ini dipercaya menakhodai Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, menjadikannya menteri luar negeri perempuan pertama dalam sejarah bangsa.
Setelah menyelesaikan pengabdian dua periode di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, langkah Retno tidak berhenti. Integritas dan jam terbangnya di panggung internasional membawanya ke menara gading Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air sejak 1 November 2024.
Baca juga: Ali Alatas, Bocah Ciliwung yang Jadi Diplomat Ulung Pendamai Perang Dunia
Fondasi Akademis dan Awal Langkah di Dunia Diplomasi
Lahir pada 27 November 1962, Retno Marsudi menghabiskan masa mudanya di Jawa Tengah. Setelah lulus dari SMA Negeri 3 Semarang, ia memantapkan langkahnya mendalami Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan meraih gelar sarjana pada tahun 1985.
Tak puas sampai di situ, Retno terus memperluas cakrawala akademisnya di Eropa:
Hukum Regional : Mengikuti program studi Undang-Undang Uni Eropa di Haagse Hogeschool, Den Haag, Belanda (2000).
Hak Asasi Manusia : Menjadi mahasiswa tamu untuk mendalami isu HAM di Universitas Oslo, Norwegia (2006).
Bekal akademis yang kuat ini menjadi modal berharga bagi Retno saat resmi bergabung dengan Kementerian Luar Negeri, di mana ia merangkak dari bawah meniti karier diplomatiknya.
Bersinar di Eropa : Dari Wartawan Diplomasi hingga Penghargaan Raja
Karier Retno di kemenlu melesat berkat etos kerja dan ketajamannya dalam bernegosiasi. Antara tahun 1997 hingga 2001, ia bertugas sebagai Sekretaris Satu Bidang Ekonomi di KBRI Den Haag, Belanda. Sekembalinya ke Jakarta, ia dipercaya menjadi Direktur Kerja Sama Intra-Kawasan Amerika-Eropa (2001) sebelum dipromosikan menjadi Direktur Eropa Barat (2003).
Keberhasilan tersebut membawanya pada tampuk kepemimpinan yang lebih besar:
Duta Besar Republik Indonesia untuk Norwegia dan Islandia (2005–2008): Di sini, Retno menorehkan prestasi langka. Pada Desember 2011, ia dianugerahi penghargaan Order of Merit dari Raja Norwegia, menjadikannya orang Indonesia pertama yang menerima penghormatan prestisius tersebut.
Direktur Jenderal Amerika dan Eropa (2008–2012): Ia bertanggung jawab penuh mengawasi hubungan diplomatik Indonesia dengan 82 negara di belahan barat dunia.
Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda (2012–2014): Menjadi pos terakhirnya di luar negeri sebelum akhirnya dipanggil pulang ke tanah air untuk mengemban tugas yang lebih besar.
Satu Dekade Menjadi Menlu: Pengacara Internasional bagi Indonesia
Baca juga: Hassan Wirajuda, dari Anak Kampung Betawi Jadi Juru Runding Dunia
Pada 27 Oktober 2014, Presiden Joko Widodo melantik Retno Marsudi sebagai Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Kerja. Kepercayaan ini berlanjut pada periode kedua (2019–2024) dalam Kabinet Indonesia Maju.
Selama sepuluh tahun menjabat, Retno dikenal dengan gaya diplomasi yang tegas, membumi, dan berpihak pada kepentingan rakyat (pro-people diplomacy). Beberapa torehan emasnya meliputi:
Presidensi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) : Di bawah kepemimpinannya, Indonesia sukses memegang tongkat Presidensi Dewan Keamanan PBB sebanyak dua kali, yaitu pada Mei 2019 dan Agustus 2020.
Suara Indonesia di Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa : Retno berulang kali mewakili Presiden Jokowi untuk menyampaikan pidato kenegaraan yang lantang di hadapan Sidang Majelis Umum Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa.
Agen Perubahan Global: Pada tahun 2017, United Nation (UN) Women dan Partnership Global Forum (PGF) menganugerahinya penghargaan atas kontribusi nyatanya dalam Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan.
Babak Baru: Menuju Panggung Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa
Menjelang transisi pemerintahan ke Presiden Prabowo Subianto, Retno sejak awal menegaskan bahwa ia tidak akan bergabung kembali dalam kabinet domestik. Dedikasinya kini naik ke level global.
Baca juga: Rekam Jejak Denny Abdi sebagai Diplomat Republik Indonesia
Sekretaris Jenderal Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa, António Guterres, secara resmi menunjuk Retno Marsudi sebagai Utusan Khusus Sekjen Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Isu Air dunia (Special Envoy on Water). Jabatan internasional yang sangat prestisius ini menjadi bukti sahih bahwa kapasitas diplomasi Retno diakui dan dibutuhkan oleh dunia.
Kehidupan Pribadi: Dukungan Keluarga di Balik Layar
Di balik kesuksesannya yang padat, Retno membangun keluarga yang hangat bersama suaminya, Agus Marsudi, yang berprofesi sebagai seorang arsitek. Pasangan ini dikaruniai dua orang putra yang mandiri:
Dyota Marsudi (Lahir 1989) : Kini berkarier sukses sebagai Direktur Eksekutif di sebuah perusahaan modal ventura.
Bagas Marsudi (Lahir 1993): Mengabdi di bidang kemanusiaan dengan berprofesi sebagai seorang dokter.
Dukungan penuh dari keluarga kecilnya inilah yang diakui Retno menjadi pilar utama kekuatan dalam menjalankan tugas-tugas negara yang berat dan menyita waktu di berbagai belahan dunia. (*)
*) Source : Nasrul Koto PSU
Editor : S. Anwar