Hassan Wirajuda, dari Anak Kampung Betawi Jadi Juru Runding Dunia
Jembatan menuju panggung global tidak pernah memandang dari mana seseorang berasal. Prinsip inilah yang melekat kuat pada sosok Dr. Noer Hassan Wirajuda. Lahir dan tumbuh di sebuah perkampungan Betawi di kawasan Pinang, Tangerang, ia berhasil mendobrak sekat-sekat keterbatasan hingga tumbuh menjadi salah satu diplomat paling berpengaruh, menteri luar negeri dua periode, dan arsitek perdamaian yang disegani di kolong langit.
Darah Betawi mengalir kental di tubuhnya. Sang ayah, Djiran Bahrudji, merupakan tokoh masyarakat Betawi yang terpandang sejak zaman Hindia Belanda. Dibesarkan dalam lingkungan budaya lokal yang guyub namun dinamis, Hassan kecil tumbuh menjadi pribadi yang tenang, jeli, dan memiliki ketahanan mental tinggi—karakteristik krusial yang kelak menjadikannya seorang negosiator ulung di meja runding internasional.
Menembus Menara Gading Pendidikan Dunia
Langkah awal Hassan menuju panggung dunia dimulai dari kecintaannya pada ilmu hukum. Usai meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1971, ia sempat mencicipi profesi sebagai pengacara dan dosen. Namun, takdir membawanya masuk ke lingkaran Departemen Luar Negeri (sekarang Kementerian Luar Negeri).
Hassan menyadari bahwa diplomasi modern membutuhkan ketajaman analisis dan wawasan akademik yang mumpuni. Hal inilah yang memicu petualangan intelektualnya ke berbagai universitas elite dunia. Pada tahun 1976, ia terbang ke Inggris untuk memperdalam ilmu di Universitas Oxford.
Cakrawala berpikirnya kian terasah tajam saat ia bertolak ke Amerika Serikat. Berturut-turut, Hassan sukses menggondol gelar Master of Arts in Law and Diplomacy (MALD) dari The Fletcher School of Law and Diplomacy, Universitas Tufts (1984), serta gelar Master of Law (LL.M) dari Harvard Law School (1985). Petualangan akademiknya mencapai puncak di Universitas Virginia pada tahun 1987, di mana ia meraih gelar Doctor of Juridical Science in International Law dengan fokus riset hukum laut Asia Tenggara.
Tangan Dingin Pengurai Benang Kusut Konflik
Kemampuan teoretis yang matang langsung diuji Hassan di lapangan. Reputasinya sebagai "juru damai" mulai mencuri perhatian dunia pada pertengahan era 1990-an. Antara tahun 1993 hingga 1996, ia dipercaya menjadi fasilitator sekaligus ketua komite gabungan proses perdamaian antara Pemerintah Filipina dan kelompok Moro National Liberation Front (MNLF). Lewat diplomasi yang sabar dan taktis, konflik berdarah belasan tahun itu akhirnya berujung pada penandatanganan perjanjian damai pada September 1996.
Keberhasilan tersebut bukan kebetulan semata. Saat menjabat sebagai Duta Besar/Wakil Tetap RI di Jenewa (1998–2000), Hassan kembali dipanggil negara untuk mengemban misi super sensitif: menjadi juru runding utama menghadapi perwakilan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dialog melelahkan yang difasilitator oleh Henry Dunant Centre tersebut meletakkan fondasi kokoh yang kelak menghentikan pertumpahan darah di Serambi Mekah melalui MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Di sela-sela kesibukan diplomasinya, kepedulian kemanusiaan Hassan juga mewujud nyata di dalam negeri. Ia tercatat sebagai salah satu tokoh kunci di balik lahirnya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada tahun 1989.
Memodernisasi Wajah Diplomasi Indonesia
Puncak pengabdian birokratisnya terjadi ketika ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dalam dua era krusial: Kabinet Gotong Royong (2001–2004) dan Kabinet Indonesia Bersatu (2004–2009). Di bawah kepemimpinannya, wajah diplomasi Indonesia dirombak secara radikal dan dimodernisasi.
Hassan adalah sosok yang merestrukturisasi struktur organisasi Kemlu dari yang semula kaku (berdasarkan fungsi politik atau ekonomi) menjadi pendekatan berbasis kawasan agar lebih lincah merespons dinamika global. Ia juga membentuk Direktorat Diplomasi Publik, menghidupkan kembali peran Juru Bicara untuk transparansi informasi, serta mendirikan Direktorat Perlindungan WNI dan BHI—sebuah instrumen vital yang memastikan negara hadir melindungi warganya di luar negeri.
Bahkan setelah purnatugas dari kabinet, ketangguhannya kembali diuji saat negara menunjuknya memimpin Satgas Evakuasi WNI di tengah kecamuk perang saudara akibat gejolak Arab Spring di Mesir dan Libya pada 2011. Pengalamannya yang matang berhasil memulangkan 2.432 Warga Negara Indonesia —yang mayoritas mahasiswa—dengan selamat ke tanah air.
Kini, Hassan Wirajuda memilih mengabdikan waktu dan pemikirannya di dunia pendidikan sebagai Rektor Universitas Prasetiya Mulya. Dari seorang anak kampung di pelosok Tangerang hingga menjadi tokoh yang melanglang buana mendamaikan konflik, kisah hidupnya adalah inspirasi abadi bagi generasi muda: bahwa dengan ilmu, integritas, dan ketulusan, anak bangsa dari mana pun asalnya mampu menjadi penentu arah sejarah dunia. (*)
Editor : S. Anwar