Hantu Jawa

Reporter : Redaksi
Film horor di Indonesia

Dari sejumlah Indonesianis asal Amerika Serikat yang pernah meneliti budaya Jawa, Clifford Geertz mungkin adalah satu-satunya antropolog yang menulis tentang hantu-hantu yang dipercaya orang Jawa. 

Dalam bukunya yang berjudul Abangan, Santri, dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa (1989), ia mengaitkan keberadaan hantu-hantu itu dengan religi orang Jawa yang tercermin misalnya pada budaya slametan. Dari penelitian etnografis yang dijalaninya selama beberapa tahun itu, Geertz menyimpulkan bahwa hantu-hantu itu dipercaya dapat membantu orang Jawa agar dapat bersinergi dengan kehendak alam. 

Baca juga: Bea Cukai Jogja Terima Kunjungan Universitas Negeri Yogyakarta

Lima belas tahun kemudian, seorang peneliti dari IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) yang bernama Suwardi Endraswara menulis buku yang sangat menarik, Dunia Hantu Orang Jawa (2004). 

Ia tampaknya mencoba untuk mengembangkan apa yang pernah disampaikan oleh Geertz dalam thick description yang ia tulis. Alhasil, buku itu menjadi semacam oase bagi peneliti yang ingin berbicara tentang film horor Indonesia. 

Maklum, hampir kebanyakan film horor kita memang menghadirkan hantu-hantu yang tumbuh dan dipercaya dalam masyarakat berbudaya Jawa. Pembicaran mengenai keberadaan dunia hantu orang Jawa itu semakin mengukuhkan kesan sakral yang dibangun Soeharto dan Orde Baru sejak tahun 1970-an.

Selama puluhan tahun, Soeharto telah menularkan suatu gaya berpikir yang mengacu pada paradigma Kejawaan. Alhasil, banyak pejabat dari berbagai wilayah di Indonesia belajar untuk menjadi Wong Jawa, yang bertutur kata dan bersikap seperti Soeharto.

 Soeharto menjadi model Jawanisasi yang melalui Departemen Penerangan ditanamkan ke dalam alam bawah sadar masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Mungkin memori akan sakralitas (baca: kengerian) budaya Jawa yang pernah ditanamkan Soeharto dan Orde Baru pada masa lalu itu masih bergema pada film-film horor masa kini yang menampilkan dunia hantu orang Jawa. 

Mungkin karena itu juga, beberapa tahun lalu muncul sebuah komentar pedas di sebuah media sosial. Dalam komentar itu, si penulis menyayangkan sikap pelaku industri film horor Indonesia kontemporer yang gemar menjadikan budaya Jawa yang adiluhung sebagai locus kengerian dan kematian belaka. Pelaku industri hanya berpikir satu arah bahwa mengeksploitasi hantu-hantu dari Jawa itu menjadi shortcut untuk menghasilkan cuan yang banyak. 

Dalam catatan akhirnya, penulis merasa bahwa industri film kita seolah-olah belum memperhatikan sensifitas kultural untuk menghormati local wisdom di dalam komunitas budaya tertentu. Namun, dibandingkan film-film horor yang diproduksi di negara Asia lainnya, film horor kita adalah film horor yang memiliki jumlah hantu yang paling banyak dan variatif. 

Setelah kesuksesan film KKN di Desa Penari (2022), hampir dapat dipastikan bahwa profil hantu dan setan yang baru selalu hadir dalam setiap bulan. Nah, saya rasa, apa yang pernah ditulis oleh Seno Gumira Adjidarma sebagai salah satu judul kumpulan cerpennya berlaku disini: Setan tidak pernah mati!

*) Source : Paulus Heru Wibowo Kurniawan (Contemplare et contemplata aliis trader)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru