Pada 15 Agustus 1966, Kodam V/Jaya melancarkan Operasi Kalong di Jakarta. Dibentuk atas instruksi Letjen Soeharto dan di bawah otoritas Pangdam V/Jaya, Brigjen Amirmachmud, operasi militer-intelijen ini bekerja bagaikan kelelawar di kegelapan malam untuk memburu, menyiksa, hingga membunuh kader klandestin, perwira progresif, aktivis perempuan, serta keluarga korban demi mengonsolidasikan kediktatoran Rezim Militer Orde Baru
Berpusat di Kodim 0501 Jakarta Pusat di bawah komando lapangan Kapten Cpm Suroso, operasi ini membagi tugas secara rigid :
Baca juga: Radiogram Rahasia Seusai Lubang Buaya
Tim Pengintai (Peltu M. Afandi) : Menyusup ke kantong rakyat untuk memetakan safe house dan jaringan klandestin.
Pasukan Pemukul (Kompi Raiders Kodam Jaya) : Pasukan elite infanteri yang menggerebek target di tengah malam atau jelang subuh.
Tim Interogator (CPM & Kejaksaan Militer) : Memeriksa dan memeras informasi di markas taktis.
Baca juga: Akhir Pelarian Brigjen Soepardjo dalam Kejaran Tim Kalong
Penggrebekan subuh Operasi Kalong berhasil menangkap aktivis-aktivis utama : Brigjen Soepardjoe, Sudisman (Sekretaris CC PKI), Syam Kamaruzaman, Pono, Bono, hingga jurnalis Martin Aleida (Harian Rakjat). Tak berhenti pada pimpinan partai, operasi ini juga menyasar aktivis Gerwani serikat buruh, serta menangkap istri dan anak-anak/balita sebagai sandera demi memeras keberadaan mereka yang diburu.
Berpusat di pos taktis Jalan Gunung Sahari III dan Gedung Budi Kemuliaan nomor 11, interogasi tengah malam berlangsung secara biadab. Tahanan disetrum listrik, dipukuli rantai besi dan balok kayu, serta diisolasi tanpa tidur. Tahanan perempuan mengalami kekerasan seksual termasuk pelanjangan paksa, sementara anak-anak dan balita terpaksa ikut mendekam di sel penjara yang kotor dan lembap mendampingi ibunya.
Baca juga: Wikana, Pembuat Proklamasi 17 Agustus yang Lenyap Dijemput Serdadu
Tahanan yang menolak tunduk dieksekusi mati secara rahasia dan dihilangkan paksa. Korban yang selamat diklasifikasikan ke dalam Golongan A, B, atau C, lalu dipindahkan ke RTC Salemba, RTM Guntur, Penjara Cipinang, dan Kamp Nirbaya. Tahanan perempuan Golongan B kelak diasingkan secara terisolasi ke Kamp Plantungan (Kendal), sedangkan tahanan laki-laki dibuang ke Pulau Buru.
Integrasi kerja intelijen, penyiksaan, dan penyanderaan keluarga dalam Operasi Kalong menjadi cetak biru lahirnya aparatus represi seperti Kopkamtib dan Badan Intelijen Strategis (BAIS). Teror terstruktur ini dirancang untuk menghancurkan gerakan rakyat (Partai Komunis Indonesia, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia, Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani, Barisan Tani Indonesia), menghancurkan kepemimpinan kelas buruh di perkotaan, sekaligus memberi jaminan keamanan" bagi kembalinya imperialis ke Indonesia. (*)
Editor : S. Anwar