Dalam panggung akademis, keagamaan, dan politik di Sumatera Barat, nama Dr. H. Shofwan Karim Elhussein, M.A., bukanlah sosok yang asing. Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) dua periode ini dikenal sebagai intelektual muslim yang komplit. Ia adalah seorang ulama, akademisi, mantan legislator, sekaligus tokoh korporasi yang memiliki jaringan luas hingga ke tingkat internasional.
Akar Minang dan Masa Kecil di Dua Ranah
Baca juga: Muhadjir Effendy Dikukuhkan Sebagai Guru Besar di Universitas Negeri Malang
Lahir pada 12 Desember 1952 dengan nama awal Shofwan Karim Elha, ia merupakan anak sulung dari sepuluh bersaudara pasangan Haji Abdul Karim dan Hajjah Rahana. Walaupun tumbuh besar di Desa Sirih Sekapur, Jujuhan, Bungo, Jambi, Shofwan memiliki darah Minangkabau yang kental dari kedua orang tuanya.
Pendidikan dasarnya ditempuh di Jambi, namun saat menginjak usia remaja, ia pindah ke Sumatera Barat untuk menuntut ilmu di Sekolah Persiapan IAIN Imam Bonjol (sekarang MAN 1 Padang Panjang) dan lulus pada tahun 1971. Nama belakangnya, "Elha", yang merupakan akronim nama kakeknya, kemudian resmi ia ganti menjadi "Elhussein" usai menunaikan ibadah umrah pada tahun 2013.
Intelektual Muda yang Matang di Organisasi
Dunia pergerakan sudah mendarah daging dalam diri Shofwan sejak berstatus mahasiswa. Sembari menyelesaikan studi Sarjana Muda hingga Doktorandus (S1) di IAIN Imam Bonjol Padang (1976–1982), ia aktif memimpin berbagai organisasi kepemudaan dan kampus.
Shofwan tercatat pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Sumatera Barat, Wakil Ketua Dewan Mahasiswa IAIN, komandan batalyon Resimen Mahasiswa (Menwa), hingga Redaktur Koran Suara Kampus. Dahaga akademisnya berlanjut ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tempat ia merengkuh gelar Magister Agama (1991) dan gelar Doktor (2008) dengan fokus riset mengenai nasionalisme, Pancasila, dan Islam.
Kiprah Profesional: Dari Dosen, Komisaris, hingga Rektor
Karier Shofwan berjalan selaras antara dunia pendidikan dan profesional. Resmi diangkat menjadi PNS dosen pada tahun 1985 di IAIN Imam Bonjol, ia juga dipercaya mengajar sosiologi-antropologi di Universitas Andalas (Unand), hingga menjadi dosen tamu di Kolej Islam Muhammadiyah Singapura selama satu dekade (2000–2010).
Baca juga: Pembentukan Direktorat Tindak Pidana Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang
Di luar kampus, ketokohan Shofwan diakui di dunia industri. Sebagai Wakil Sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Sumbar, ia menjadi salah satu penandatangan aksi pengambilalihan sepihak PT Semen Padang dari Semen Gresik ke Pemerintah Daerah pada tahun 2003. Langkah berani ini membawanya dipercaya menduduki jabatan Komisaris PT Semen Padang selama dua periode (2005–2015).
Puncak pengabdian akademisnya terjadi saat ia terpilih sebagai Rektor UMSB selama dua periode berturut-turut, yakni 2006–2010 dan 2010–2014. Di bawah kepemimpinannya, UMSB meluncurkan program inovatif "Hari Mahasiswa" guna pembinaan karakter intensif dan penguatan mutu pengajaran dosen.
Jejak Politik: Era Golkar Orba hingga Penasihat Relawan Jokowi
Di panggung politik, Shofwan Karim memiliki rekam jejak yang panjang. Pada era Orde Baru, ia merupakan tokoh kunci Golongan Karya (Golkar) Sumatera Barat dengan menjabat sebagai Ketua Biro Pemenangan Pemilu dan Sekretaris DPD. Karier politiknya mengantarkan Shofwan duduk sebagai anggota DPRD Sumatera Barat selama dua periode (1992–1999) dan sempat menjabat Sekretaris Fraksi Golkar.
Nama Shofwan bahkan sempat masuk dalam bursa Pemilukada Gubernur Sumbar 2005, ketika Bupati Solok saat itu, Gamawan Fauzi, berniat meminangnya sebagai calon Wakil Gubernur, meski akhirnya konstelasi politik berubah.
Baca juga: Muhammadiyah Bikin Gebrakan Lagi, Penantang Gojek Dan Grab, Siap Layani Ummat
Memasuki era politik modern, arah dukungan Shofwan berlabuh kepada Joko Widodo sejak Pilpres 2014 dan 2019. Di tengah dinamika politik lokal Sumbar yang dinamis, ia secara konsisten memberikan pandangan objektif dan membela kebijakan Jokowi, hingga akhirnya didapuk menjadi Penasihat Forum Komunikasi Relawan Pemenangan Joko Widodo Sumatera Barat pada tahun 2018.
Kehidupan Pribadi
Shofwan Karim menambatkan hatinya pada Imnati Ilyas, wanita asal Payakumbuh berdarah Suku Pagar Cancang yang juga teman kuliahnya. Menikah pada 25 November 1977, sang istri merupakan seorang pensiunan guru di SMKN 9 Padang. Dari pernikahan yang kokoh ini, mereka dikaruniai empat orang anak: Iqbal Shoffan Shofwan, Shofwim Shofwan, Putri Bulqis, dan Adam Putra.
Meskipun telah resmi pensiun sebagai PNS dosen UIN Imam Bonjol dengan gelar Associate Professor (Lektor Kepala IV/b) sejak Januari 2018, Dr. Shofwan Karim hingga kini tetap mengabdikan ilmunya sebagai dosen Pascasarjana UMSB dan aktif mengawal pergerakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat. (*)
Editor : S. Anwar