Klasifikasi Orang yang Membenci Habaib dan Akar Pengkaburan Sejarah

Reporter : Redaksi
Habaib Umar

Fenomena kebencian sebagian kecil masyarakat terhadap habaib (Ahlul Bait Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam) bukanlah fenomena baru. Ia muncul dari berbagai faktor psikologis, sosial, politik, hingga rekayasa kolonial yang diwariskan puluhan tahun ke belakang. Berikut klasifikasi komprehensifnya:

1. Faktor ikut-ikutan (Taqlid sosial)

Banyak orang membenci bukan karena informasi valid, tetapi karena :

Mengikuti pemikiran gurunya.

Mengikuti teman bergaul.

Mengikuti lingkungan keluarga atau lingkaran media sosialnya.

Ini murni efek echo-chamber, bukan hasil kajian.

2. Faktor Traumatik (Pengalaman buruk dengan oknum)

Kebencian jenis ini biasanya bersumber dari interaksi personal, misalnya :

Disakiti oleh oknum habib (bukan seluruh habaib).

Kecewa karena guru lebih mengistimewakan santri dari kalangan habib.

Merasa disaingi dalam urusan pribadi (misal urusan jodoh).

Melihat habib-habib muda yang salah pergaulan.

Ini menyebabkan generalisasi emosional: “ada oknum jadinya semua buruk”, padahal tidak ilmiah.

3. Faktor kepentingan politik (buzzer, propaganda)

Sebagian pihak memanfaatkan simbol “habib” untuk menggoreng isu politik, baik untuk menyerang atau memanfaatkan. Kebencian tumbuh sebagai efek samping propaganda digital.

4. Bisikan Setan (kebencian tanpa sebab rasional)

Sebagian kebencian muncul tanpa alasan ilmiah. Setan membesar-besarkan aib oknum dan menutup keutamaan yang lain.

5. Merasa tersaingi dalam lapak dakwah

Ada sebagian dai yang merasa eksistensinya terancam oleh ketokohan habib, lalu muncul “kecemburuan akademik dan kecemburuan panggung”.

6. Insiden-insiden kebetulan yang memperbesar kebencian

Sering kali ada kasus viral yang melibatkan oknum habib, lalu dijadikan justifikasi untuk membenci seluruh keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh kasus yang sering dipakai untuk menggeneraliasi :

Makam palsu (pelakunya campuran: habaib dan non habaib).

Penceramah habib yang sering menampilkan karamah Ba’alawi, lalu ditafsirkan sebagai “cult personality”.

Isu hukum pernikahan non syarif–syarifah.

Interaksi dengan habib muda yang salah pergaulan.

Semua ini dipakai sebagai peluru untuk membenarkan kebencian yang sebenarnya bersifat personal.

Dalang historis : proyek pengkaburan sejarah nasional

Ini bagian paling penting, namun sering tidak diketahui masyarakat awam :

1. Snouck Hurgronje. Arsitek Kebencian Sistemik terhadap Bangsa Arab.

Snouck adalah orientalis Belanda yang secara resmi ditugaskan untuk memutus hubungan rakyat Indonesia dengan ulama Arab, khususnya Hadrami keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pidatonya di Universitas Leiden (22 Januari 1907), ia menyuarakan teori:

“Islam di Indonesia bukan dibawa oleh bangsa Arab, tetapi dari India dan Tiongkok.”

Hal ini dikemukakan sendiri olehnya di Universitas Leiden pada tanggal 22 Januari 1907 Masehi. Statmennya ini selalu diulang-ulang dan menyuarakannya di beberapa karya tulis dan pidato-pidatonya. Padahal bukti sejarah jelas-jelas menyatakan peran Hadrami sangat besar.

Tujuan propaganda ini : memutus simpati rakyat kepada Ulama Arab, terutama Habaib, agar tidak bangkit melawan penjajah.

Snouck menyembunyikan fakta besar :

Arab Hadrami adalah Motor Revolusi Anti Belanda. Sehingga Belanda menemukan pola :

Jamaah haji yang belajar kepada ulama Arab lalu kembali ke tanah air  pasti selalu memimpin pemberontakan.

Para sayyid dan habaib menjadi simpul jaringan melawan kolonialisme.

Snouck kemudian dikirim ke Makkah menyamar sebagai muslim demi meneliti pengaruh jaringan ini. (Lihat: Konflik Intelektual di Indonesia, Idris Abdel Shomad, hlm. 51–52).

Ekspedisi Intelijen Belanda ke Hadramaut (1932)

Masih dalam misi memutus hubungan Indonesia–Arab, Belanda mengirim ekspedisi intelijen ke Hadramaut, dipimpin oleh Vandermelon dan Herman van Futhman (Cek buku Hadramaut Mengungkap Beberapa Misterinya dengan pengantar Snouck Hurgronje).

Tujuannya :

Memetakan karakter masyarakat Hadramaut.

Mengetahui kekuatan dan kelemahan ulama Arab.

Merumuskan cara melemahkan pengaruh mereka di Indonesia.

Misi resmi Snouck : Mencabut Pengaruh Ulama Arab dari Nusantara

Snouck menyusun strategi kolonial berikut :

1. Memisahkan bangsa Arab dari bangsa Indonesia. Dengan menciptakan narasi: “Arab bukan pribumi, mereka pendatang asing.”

2. Menghalangi haji yang bertujuan menuntut ilmu kepada ulama Arab

3. Berpura-pura tidak memusuhi Islam secara agama. Ia menyarankan Belanda: “Serang Islam pada sisi politik, bukan sisi ibadah.”

4. Menghilangkan konsep bahwa agama dan politik itu satu kesatuan

5. Membaratkan gaya hidup umat Islam

6. Mengirim generasi muda untuk belajar ke Barat dan dimodernisasi

7. Memasukkan sebagian hukum Islam dalam KUH Perdata Belanda, agar umat merasa dihargai, padahal sejatinya sedang dikendalikan.

Snouck selalu menyebut bangsa Arab sebagai : “Orang Asing Timur”, istilah propaganda untuk menanamkan kesan bahwa Arab bukan bagian dari bangsa Indonesia. Inilah akar historis dari kebencian sistemik terhadap habaib. (*)

*) Source : Ibnu Abdillah Al-Katibiy.

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru