Dalam khazanah spiritual dan ilmu hikmah Nusantara, doa atau amalan pengasihan yang merujuk pada Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman adalah dua dari sekian banyak praktik yang paling melegenda. Keduanya memiliki energi dan tujuan yang berbeda, namun sering diamalkan secara berdampingan untuk memancarkan aura, daya tarik, dan kewibawaan yang utuh.
Berikut adalah ulasan mengenai filosofi dan praktik dari kedua amalan tersebut :
Baca juga: Doa Nabi Sulaiman untuk Mendatangkan Uang
1. Pengasihan Nabi Yusuf (Aura Keindahan dan Pesona)
Amalan ini mengambil ibrah atau pelajaran dari kisah Nabi Yusuf AS yang dianugerahi ketampanan luar biasa, yang dalam kisahnya mampu membuat para wanita Mesir terpesona hingga tak sadar melukai jari mereka sendiri. Fokus utama dari pengasihan ini adalah untuk memancarkan aura wajah, pesona, simpati, dan daya tarik agar disenangi oleh orang-orang di sekitar.
Ayat yang Sering Diamalkan: Surah Yusuf Ayat 4.
Bacaan (Latin): Idz qoola yuusufu li abiihi yaa abati innii ro’aitu ahada ‘asyaro kaukabaw wasy syamsa wal qomaro ro’aituhum lii saajidiin.
Arti: "Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: 'Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.'"
Praktik dalam Tradisi: Dalam tradisi masyarakat, doa ini biasanya dibaca rutin setiap selesai shalat fardhu. Ada pula metode di mana bacaan ini ditiupkan secara lembut ke kedua telapak tangan, lalu diusapkan ke wajah dengan niat membuka aura ketampanan atau kecantikan (mahabbah).
Baca juga: Kisah Nabi Yusuf disebut Ahsanal Qashash
2. Pengasihan Nabi Sulaiman (Kewibawaan dan Penunduk)
Jika pengasihan Nabi Yusuf berfokus pada kelembutan dan pesona visual, pengasihan Nabi Sulaiman berfokus pada kewibawaan, kepemimpinan, dan menundukkan hati. Ini merujuk pada mukjizat Nabi Sulaiman AS yang diberikan kekuasaan untuk menundukkan manusia, jin, hingga hewan, serta kisahnya saat mengirimkan surat untuk menundukkan Ratu Balqis.
Ayat yang Sering Diamalkan: Surah An-Naml Ayat 30-31.
Bacaan (Latin): Innahuu min sulaimaana wa innahuu bismillaahir rohmaanir rohiim. Allaa ta’luu ‘alayya wa'tuunii muslimiin.
Arti : "Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isinya): 'Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.'"
Praktik dalam Tradisi: Doa ini sering diamalkan bagi mereka yang membutuhkan kelancaran dalam negosiasi, meluluhkan hati seseorang yang keras, atau untuk mendapatkan simpati dan rasa hormat (kharisma) yang kuat dari audiens maupun bawahan.
Catatan :
Dalam praktiknya di Nusantara, kedua ilmu mahabbah (pengasihan) ini sangat bergantung pada kebersihan hati pengamalnya, konsistensi (istiqomah), dan keyakinan bahwa segala daya tarik dan kewibawaan mutlak datangnya atas izin Sang Pencipta. Seringkali, amalan ini juga dikombinasikan dengan puasa mutih atau laku tirakat tertentu dalam tingkatan ilmu gaib yang lebih mendalam. (*)
Editor : S. Anwar