Kisah Nabi Musa yang membelah lautan sampai sekarang menjadi cerita yang dipercaya oleh sebagian besar umat Muslim di dunia. Nabi Musa membelah lautan saat dikejar oleh pasukan Firaun.
Nabi Musa mengetahui bahwa Firaun adalah pemimpin yang semena-mena. Karena keselamatan dirinya terancam, ia ingin pindah ke tempat yang damai dan jauh dari kejahatan. Maka, Allah mengabulkan permintaan Nabi Musa dan pengikutnya, Bani Israil, untuk pindah ke tempat yang lebih baik dan jauh dari perbudakan.
Baca juga: Doa Walimatul Wakirah
Kisah Nabi Musa hijrah bersama pengikutnya dari kekuasaan bengis di Mesir tercantum dalam surat Ad-Dukhan ayat 23 :
فَاَسۡرِ بِعِبَادِىۡ لَيۡلًا اِنَّكُمۡ مُّتَّبَعُوۡنَۙ
Fa asri bi’ibaadii lailan innakum muttaba’uun
Artinya: (Allah berfirman), “Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar.”
Maksud ayat tersebut adalah Allah menyambut permohonan Nabi Musa dengan berjalan pada malam hari bersama pengikutnya tanpa sepengetahuan Firaun. Meskipun begitu, perjalanan tidak akan mudah karena sesungguhnya Nabi Musa dan pengikutnya akan diikuti dan dikejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya.
Selain itu, kisah Nabi Musa secara singkat membelah Laut Merah pada pagi hari tercantum dalam surat Asy-Syu’ara ayat 60 :
فَاَتْبَعُوْهُمْ مُّشْرِقِيْنَ
Artinya: Lalu (Fir‘aun dan bala tentaranya) dapat menyusul mereka pada waktu matahari terbit.
Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka di pagi hari. Kedua pasukan, yakni Firaun dan Musa, berada pada jarak yang sangat dekat. Mereka berhadapan dengan situasi gawat karena hanya terlihat lautan dari tepi tebing, yakni Laut Merah.
Melansir dari tausiyah Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, terjadi goncangan di tengah-tengah rombongan Nabi Musa di tanggal 10 Muharram. Ketika kedua pasukan saling melihat satu sama lain, di saat itu pula Bani Israil — pengikut Nabi Musa, yang merupakan orang beriman kepada Allah sudah pasrah.
Baca juga: Isak Tangis Hizqil, Sang Penolong Nabi Musa di Jantung Kekuasaan Tirani
“Kita pasti ketangkap,” ujar mereka.
Sontak, Nabi Musa berkata untuk tidak meragukan kekuasaan Allah, “Sesekali bukan begitu cara berpikirnya. Sesungguhnya Rabbku bersama denganku akan memberikan petunjuk kepadaku dan kita semua”.
Selama perjalanan, Nabi Musa membawa tongkat. Lalu, Allah menurunkan wahyu untuk memukulkan tongkatnya ke permukaan laut. Seketika, lautan tersibak dan pasukan Nabi Musa sebanyak 600.000 orang bergegas menyeberangi Laut Merah.
Firaun dan pasukan tenggelam di Laut Merah.
Firaun tenggelam di laut merah pada hari Asyura.
Ketika Nabi Musa dan jamaahnya sudah sampai di tepian seberang, Fir’aun baru tiba di tepi lautan. Lalu, beliau memukulkan kembali tongkatnya dan lautan pelan-pelan menyatu. Kendati demikian, Firaun tidak menghiraukan air laut yang terus naik. Kesombongannya memaksa kuda perangnya untuk terus melaju.
Baca juga: Husnuzan kepada Guru
Di tengah lautan Firaun baru menyadari bahwa ia dan pasukannya sudah tidak mungkin menangkap Nabi Musa dan Bani Israil. Ia berusaha kembali ke tepian sambil berdoa kepada Allah untuk diselamatkan. Akan tetapi, semua terlambat dan air laut pasang serta terus meninggi. Secara singkat, Laut Merah kembali menyatu dan menenggelamkan Fir’aun bersama pasukannya.
Kini, jejak tempat dimana Nabi Musa membelah lautan masih terekam jelas di pantai Laut Merah dekat desa (Maghna) yang termasuk wilayah Tabuk, dan di posisi seberang di pantai Mesir adalah kota (Dahab) Mesir, dengan jarak di antara keduanya diperkirakan sekitar 13 kilometer.
Peninggalan mukjizat ini adalah yang terkena pukulan tongkat Nabi Musa ketika ia memukul laut dengannya saat berada di pantai Mesir, sehingga laut terbelah dan bersamanya rangkaian pegunungan yang terletak di antara laut, dan kota Bad’ yang termasuk wilayah Tabuk, terbelah menjadi dua bagian paralel sepanjang 40 kilometer, dengan lebar beberapa meter, dan di ujung belahan ini sebelum kota Bad’ (Ain Zarqa) yang dinamai penduduk setempat (Ain Musa) mengalirkan air tawar melalui belahan ini yang mengalir ke Laut Merah.
Bekas belahan di laut itu lebih menakutkan lagi. Kedalamannya sangat dalam mencapai sekitar 900 meter, kosong dari kehidupan, terumbu karang, dan lautnya tidak jernih seperti pantai berpasir. Dan Anda tidak melihat ikan di dalamnya, kecuali puing-puing, dan ikan-ikan sangat kecil.
Suasana seperti ini membuat Anda merasa takut sehingga meninggalkan tempat itu. (*)
Editor : S. Anwar