Isak Tangis Hizqil, Sang Penolong Nabi Musa di Jantung Kekuasaan Tirani
Di balik kemegahan pilar-pilar batu granit Mesir yang menjulang tinggi, di mana setiap sudutnya mengagungkan nama Firaun sebagai tuhan, hiduplah seorang pria bernama Hizqil. Ia bukanlah orang sembarangan; ia adalah orang kepercayaan istana, seorang kerabat dekat Firaun yang memiliki posisi terhormat.
Namun, di balik jubah kebesarannya, hati Hizqil adalah sebuah kuil yang hanya memuja Allah SWT.
Ia telah memeluk ajaran Tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa as secarabsembunyi-sembunyi selama bertahun-tahun. Keadaan menjadi sangat mencekam ketika Nabi Musa as datang memberikan peringatan kepada Firaun. Istana menjadi panas.
Firaun yang murka merasa otoritasnya terancam. Suatu hari, di sebuah aula besar yang dipenuhi oleh para menteri dan panglima perang, Firaun memukul singgasananya dan berteriak, "Biarkan aku membunuh Musa!
Biarlah dia memanggil Tuhannya! Aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi!"
Seluruh menteri terdiam, tertunduk ketakutan. Namun, di sudut ruangan, jantung Hizqil berdegup kencang. Ia tahu, jika ia diam, kekasih Allah (Musa) akan dalam bahaya. Namun jika ia bicara, nyawanya dan keluarganya menjadi taruhan.
Di titik inilah, iman mengalahkan rasa takut. Hizqil berdiri, suaranya yang tenang namun berwibawa memecah keheningan aula yang dingin itu.
"Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki hanya karena dia berkata:
'Tuhanku ialah Allah'?" tanya Hizqil dengan nada yang menggetarkan jiwa.
"Padahal ia telah datang kepadamu membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu."
Hizqil melanjutkan argumennya dengan sangat cerdas. Ia tidak langsung mengaku beriman, melainkan menggunakan logika untuk melindungi Musa.
Ia berkata, "Jika ia (Musa) seorang pendusta, maka dialah yang akan menanggung dosanya. Namun jika ia benar, maka sebagian dari apa yang diancamkannya akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi pendusta."
Aula itu senyap. Firaun termangu mendengarnya. Kata-kata Hizqil begitu tajam hingga mampu menunda niat jahat Firaun untuk sementara waktu. Namun, rahasia tidak bisa selamanya tersimpan. Kesetiaan Hizqil mulai tercium ketika ia menolak untuk ikut serta dalam upacara penyembahan dewa-dewa Mesir.
Puncaknya adalah ketika istrinya, yang juga seorang mukminah (dalam beberapa riwayat disebut memiliki hubungan dengan Masyitah), ketahuan memuja Allah.
Firaun yang merasa dikhianati dari dalam lingkaran dalamnya sendiri, memerintahkan penangkapan Hizqil dan keluarganya.
Hizqil dibawa ke sebuah lapangan luas. Di sana, ia dipaksa menyaksikan penderitaan yang tak terbayangkan. Namun, lisan Hizqil tidak berhenti berdzikir.
Dalam sebuah riwayat yang menyentuh hati, ketika tubuhnya mulai disiksa dengan kejam, Hizqil tidak merasakan sakit yang luar biasa. Allah memperlihatkan tempat kembalinya yang sangat indah di surga.
Hizqil wafat dengan tangan terikat pada batang pohon kurma, namun jiwanya terbang bebas menuju ridha Tuhannya. Ia adalah simbol bahwa kebenaran harus disuarakan, meskipun di depan wajah seorang diktator paling kejam sekalipun.
Hingga akhir hayatnya, ia berhasil menyelamatkan Musa dari rencana pembunuhan awal, membiarkan dakwah Musa terus berlanjut untuk membebaskan Bani Israil.
"Kisah Hizqil mengajarkan kita bahwa bicara benar di depan pemimpin yang zalim adalah jihad yang paling utama.
Dalil Al-Qur'an (Surah Ghafir: 28)
Kisah Hizqil secara spesifik diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur'an sebagai "Lelaki Beriman dari Keluarga Firaun":
وَقَالَرَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُل
أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ...
"Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata: 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah" padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu...'"
Dalil Hadits (Riwayat Imam Ahmad)
Rasulullah SAW bersabda mengenai keberanian berbicara:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ "
Jihad yang paling utama adalah mengutarakan kata-kata keadilan (kebenaran) di hadapan penguasa yang zalim."
Kitab Tafsir Ibnu Katsir :
Ibnu Katsir menjelaskan dalam Qishashul Anbiya bahwa lelaki ini (Hizqil) adalah sepupu Firaun yang bertugas sebagai bendahara atau orang kepercayaan yang menyembunyikan imannya selama seratus tahun hingga saat yang tepat untuk membela Nabi Musa AS. (*)
Editor : Bambang Harianto