Tolak Angin dari Racikan Rumahan ke Industri Skala Nasional

Reporter : Redaksi
Rakhmat Sulistio

1930. Ambarawa, Provinsi Jawa tengah. Sepasang suami istri menjalankan bisnis pemerah susu bernama Melkrey. Tapi diam-diam, sang istri Rakhmat Sulistio meracik sesuatu yang lain.

Campuran rempah, daun, dan akar dari dapur rumah. Untuk suaminya. Untuk anak-anak. Untuk tetangga. Obat masuk angin racikannya menyebar dari mulut ke mulut. Hangat. Pahit. Tapi mujarab.

Tidak diberi nama. Tidak diklaim. Tapi justru dari dapur itulah cikal bakal Tolak Angin lahir.

Tahun 1951. Mereka mendirikan perusahaan kecil bernama Sido Muncul singkatan dari “Obat Sido Muncul,” atau impian yang terwujud. Usahanya tumbuh perlahan. Masih godokan. Masih dijual curah. Tapi mereka punya satu pegangan:

Kalau jamu mau bertahan, jamu harus berubah. Dan di situlah perjalanan sebenarnya dimulai.

Tahun 1990-an. Satu keputusan besar diambil: Bagaimana kalau jamu tradisional ini dikemas seperti minuman modern?

Bukan dalam botol. Tapi sachet. Tinggal sobek, langsung minum. Gak ribet. Gak pahit berlebihan. Tapi tetap 12 bahan alami: jahe, daun mint, madu, dan kawan-kawannya. Namanya: Tolak Angin.

Respon pasar? Dingin.

Jamu sachet dianggap gak “asli.” Dipandang aneh oleh kompetitor. Tapi mereka jalan terus.

Masuk TV. Bagi sampel. Edukasi soal khasiat. Uji klinis. Uji laboratorium. Sertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Halal Majelis Ulama Indonesia (MUI), CPOTB, CPOB. Lambat tapi pasti akhirnya…... diterima.

Hari ini?

1 juta+ sachet dikonsumsi tiap hari.

Ekspor ke 20+ negara (Arab Saudi, Singapura, Hong Kong, Eropa).

Dijual di warung kecil sampai Amazon.

Sido Muncul jadi perusahaan publik (IPO 2013).

Dikenal luas lintas generasi dari supir truk, anak kos, sampai eksekutif.

Dan yang paling penting?

Tolak Angin mengubah wajah jamu Indonesia. Dari yang dulu dianggap kuno dan pahit, jadi sesuatu yang modern, praktis, dan dipercaya.

Semua itu tidak dimulai dari investor. Tidak dimulai dari startup. Tidak dimulai dari kampus elite.

Dimulai dari dapur rumah, dan satu keyakinan seorang ibu, bahwa kesehatan bisa diracik dari rempah yang tumbuh di tanah sendiri.

Tolak Angin bukan cuma jamu. Dia adalah bukti bahwa warisan bisa bertahan... kalau dibungkus ulang dengan cara baru.

Kalau hari ini kamu minum Tolak Angin, kamu bukan cuma sedang jaga daya tahan. Kamu sedang merasakan 90 tahun ketekunan, inovasi, dan keberanian untuk berpikir beda.

Sertifikasi halal untuk ratusan produknya, Penghargaan SDGs dari Bappenas. PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pabrik seluas 30 hektar di Ungaran: simbol bahwa jamu bukan sekadar warisan tapi masa depan.

Mereka tahu, kalau mau jamu relevan, jamu harus dekat dengan keseharian. Makanya distribusinya bukan cuma ke apotek. Tapi ke warung, minimarket, sampai Bandara.

Bukan cuma buat orang sakit. Tapi teman setia saat perjalanan, begadang, kerja lembur.

Strateginya satu: Bikin Tolak Angin jadi bagian dari hidup orang. Dan ternyata itu berhasil. (*)

*) Source : Muhammad Hasbiriza

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru